December 13, 2012

Cara Mensucikan Najis Dan Macamnya



بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Cara Membersihkan Najis

Najis atau Rijs ialah sesuatu yang dipandang kotor oleh syara’/hukum agama. Dan, berdasar keterangan yang diambil dari ayat dan hadits-hadits, terbagi menjadi 3 :
    Cara mensucikan Najis
  1. Najis ‘Aqidah, artinya kotor dalam kepercayaan/keyaqinan.
  2. Najis untuk dimakan/diminum, artinya benda-benda itu haram untuk dimakan/diminum.
  3. Najis disentuh, maksudnya kita diwajibkan untuk mencuci/ membersihkannya bila kita menyentuh/tersentuh benda-benda tersebut.
Dalam post kali ini hanya akan membahas yang no. 3 yakni “Najis disentuh”.

Menurut qaidah ushul (aturan-aturan untuk menetapkan suatu hukum agama), asal segala sesuatu benda itu adalah halal dan suci serta boleh dipergunakan untuk apasaja, kecuali bila ada keterangan agama yang mencegahnya, baik dari Al-Qur’an maupun dari hadits yang shahih.

Maka untuk menetapkan bahwa sesuatu benda itu najis, wajib ada nash Al-Qur’an atau hadits shahih yang menjelaskannya. Dan sepanjang penelitian kami, yang najis berdasar syara’ sehingga kita diwajibkan mensucikannya adalah :
  1. kotoran manusia
  2. kencing manusia
  3. madzi
  4. darah haidl
  5. darah nifas
1. Kotoran manusia

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رض قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَدْخُلُ اْلخَلاَءَ فَاَحْمِلُ اَنَا وَ غُلاَمٌ نَحْوِى اِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَ عَنَزَةً فَيَسْتَنْجِى بِاْلمَاءِ. احمد و البخارى و مسلم، فى نيل الاوطار 1: 119
Dari Anas bin Malik RA, ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW masuk ke tempat buang air, lalu saya dan seorang muda sebaya saya membawakan ember berisi air dan sebuah tongkat, kemudian Rasulullah SAW beristinjak dengan air itu”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 119]

عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِذَا ذَهَبَ اَحَدُكُمْ اِلَى اْلغَائِطِ فَلْيَسْتَطِبْ بِثَلاَثَةِ اَحْجَارٍ فَاِنَّهَا تُجْزِى عَنْهُ. احمد و النسائى و ابو داود و الدارقطنى و قال: اسناده صحيح حسن. فى نيل الاوطار 1: 110
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda, “Apabila salah seorang diantara kamu pergi buang air besar, maka hendaklah bersuci dengan tiga batu, karena tiga batu itu sudah mencukupinya”. [HR. Ahmad, Nasai, Abu Dawud dan Daruquthni. Ia berkata : Sanadnya shahih hasan, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 110]

2. Kencing manusia

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِسْتَنْزِهُوْا مِنَ اْلبَوْلِ فَاِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ اْلقَبْرِ مِنْهُ. الدارقطنى. و للحاكم: اَكْثَرُ عَذَابِ اْلقَبْرِ مِنَ اْلبَوْلِ. فى بلوغ المرام :36
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda, “Bersucilah kamu sekalian dari kencing, karena umumnya adzab qubur itu adalah dari sebab kencing”. [HR. Daruquthni] Dan pada riwayat Hakim, “Kebanyakan adzab qubur itu adalah lantaran kencing”. [Dalam Bulughul Maram hal. 36]

عَنْ اَنِسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: جَاءَ اَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِى طَائِفَةِ اْلمَسْجِدِ فَزَجَرَهُ النَّاسُ فَنَهَاهُمُ النَّبِيُّ ص. فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ اَمَرَ النَّبِيُّ ص بِذَنُوْبٍ مِنْ مَاءٍ فَاُهْرِيْقَ عَلَيْهِ. البخارى 1: 62
Dari Anas bin Malik, ia berkata : Ada seorang Arab gunung datang, lalu kencing di bagian masjid. Kemudian orang banyak sama membentaknya, lalu Nabi SAW melarang mereka berbuat yang demikian. Setelah orang itu selesai dari kencingnya, Nabi SAW memerintahkan supaya mengambil seember air, lalu disiramkanlah air itu di atas kencing orang tersebut”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 62]

Keterangan :
Dari hadits-hadits diatas bisa diambil pengertian bahwa kencing manusia itu adalah najis dan harus dibersihkan.

3. Madzi (air sex) manusia

Madzi ialah air yang bening dan lekat (pliket) yang keluar dari kemaluan seseorang bila terangsang nafsu sexnya (nafsu syahwatnya).

Adapun air lelah (wadi) hukumnya disamakan dengan madzi.

عَنْ عَلِيّ قَالَ: كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً وَ كُنْتُ اَسْتَحْيِى اَنْ اَسْأَلَ النَّبِيَّ ص لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَاَمَرْتُ اْلمِقْدَادَ بْنَ اْلاَسْوَدِ فَسَأَلَهُ. فَقَالَ: يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَ يَتَوَضَّأُ. مسلم 1: 247
Dari ‘Ali, ia berkata : Saya adalah seorang laki-laki yang banyak mengeluarkan madzi, karena saya malu untuk bertanya kepada Nabi SAW mengingat kedudukan putri beliau (Fathimah), maka saya menyuruh Miqdad bin Aswad (untuk bertanya kepada beliau). Lalu dia bertanya kepada Nabi SAW. Kemudian beliau bersabda, “(Hendaklah) ia cuci kemaluannya dan berwudlu”. [HR. Muslim juz 1, hal. 247]

عَنْ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ قَالَ: كُنْتُ اَلْقَى مِنَ اْلمَذْيِ شِدَّةً وَ عَنَاءً، وَ كُنْتُ اُكْثِرُ مِنْهُ اْلاِغْتِسَالَ. فَذَكَرْتُ ذلِكَ لِرَسُوْلِ اللهِ ص، فَقَالَ: اِنَّمَا يُجْزِيْكَ مِنْ ذلِكَ اْلوُضُوْءُ. فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ بِمَا يُصِيْبُ ثَوْبِى مِنْهُ؟ قَالَ: يَكْفِيْكَ اَنْ تَأْخُذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ. فَتَنْضَحَ بِهِ ثَوْبَكَ حَيْثُ تَرَى اَنَّهُ قَدْ اَصَابَ مِنْهُ. ابو داود و ابن ماجه و الترمذى و قال حديث حسن صحيح. فى نيل الاوطار 1: 65
Dari Sahl bin Hunaif, ia berkata : Aku mengeluarkan madzi banyak dan merepotkan, dan aku sering mandi karenanya. Maka aku menyampaikan hal itu kepada Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda, “Sebenarnya bagimu cukup berwudlu”. Kemudian aku bertanya, “Bagaimana dengan air madzi yang mengenai pakaianku?”. Beliau menjawab, “Cukup bagimu mengambil air seceduk tapak tangan, lalu kamu siramkan pada tempat yang terkena air madzi itu”. [HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi, ia berkata : Hadits hasan shahih, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 65]

Keterangan :
Dari hadits-hadits tersebut bisa diambil pengertian bahwa madzi itu adalah najis dan harus dibersihkan dari badan.

4. Darah Haidl

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ اَبِى حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَسَأَلَتِ النَّبِيَّ ص: فَقَالَ: ذلِكَ عِرْقٌ وَ لَيْسَ بِاْلحَيْضَةِ. فَاِذَا اَقْبَلَتِ الحَيْضَةُ فَدَعِى الصَّلاَةَ وَ اِذَا اَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِى وَ صَلّى. البخارى 1: 82
Dari ‘Aisyah bahwasanya Fathimah binti Abu Hubaisy dulu menderita istihadhah, lalu ia bertanya kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda, “Sessungguhnya yang demikian Itu hanyalah gangguan urat, bukan haidl. Maka apabila datang haidl, tinggalkanlah shalat dan apabila sudah berhenti maka mandilah dan shalatlah”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 82]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ ص: اِذَا اَقْبَلَتِ اْلحَيْضَةُ فَدَعِى الصَّلاَةَ وَ اِذَا اَدْبَرَتْ فَاغْسِلِى عَنْكِ الدَّمَ وَ صَلّى. البخارى 1: 85
Dari ‘Aisyah, ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Apabila datang haidl, maka tinggalkanlah shalat, dan apabila sudah berhenti, maka bersihkanlah darah itu dan shalatlah”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 85]

عَنْ اَسْمَاءَ قَالَتْ: جَاءَتِ امْرَأَةٌ اِلَى النَّبِيّ ص فَقَالَتْ: اِحْدَانَا يُصِيْبُ ثَوْبَهَا مِنْ دَمِ اْلحَيْضَةِ، كَيْفَ تَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: تَحُتُّهُ، ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِاْلمَاءِ، ثُمَّ تَنْضَحُهُ. ثُمَّ تُصَلّى فِيْهِ. مسلم 1: 240
Dari Asma’, ia berkata : Ada seorang wanita datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, “Salah seorang diantara kami pakaiannya terkena darah haidl, bagaimana cara membersihkannya?”. Nabi SAW menjawab, “(Hendaklah) ia mengeriknya, kemudian menggosoknya dengan air, lalu mencucinya, lalu ia boleh shalat dengan pakaian itu”. [HR. Muslim juz 1, hal. 240]

Keterangan :
Dari hadits-hadits tersebut bisa diambil pengertian bahwa darah haidl itu najis dan harus dibersihkan dari badan.

5. Darah Nifas

Darah nifas ialah darah yang keluar ketika seorang wanita melahirkan dan sesudahnya. Wanita yang sedang nifas tidak boleh shalat sebagaimana wanita yang sedang haidl, sebagaimana hadits dibawah ini:

عَنْ اُمّ سَلَمَةَ قَالَتْ: كَانَتِ النُّفَسَاءُ تَجْلِسُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ ص اَرْبَعِيْنَ يَوْمًا وَ كُنَّا نَطْلِى وُجُوْهَنَا بِاْلوَرْسِ مِنَ اْلكَلَفِ. الخمسة الا النسائى، فى نيل الاوطار 1: 331
Dari Ummu Salamah, ia berkata, “Adalah wanita-wanita yang nifas di zaman Nabi SAW duduk (tidak shalat) selama empat puluh hari dan kami memakai pilis pada wajah-wajah kami dengan waras (sejenis tumbuh-tumbuhan) berwarna merah kehitaman”. [HR. Khamsah kecuali Nasai, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 331]

عَنْ اُمّ سَلَمَةَ رض قَالَتْ: كَانَتِ اْلمَرْأَةُ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيّ ص تَقْعُدُ فِى النّفَاسِ اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً لاَ يَأْمُرُهَا النَّبِيُّ ص بِقَضَاءِ صَلاَةِ اْلنّفَاسِ. ابو داود، فى نيل الاوطار 1: 332
Dari Ummu Salamah RA, ia berkata, “Dahulu seorang wanita diantara istri Nabi SAW duduk (tidak shalat) karena nifas selama 40 hari. Nabi SAW tidak menyuruhnya mengqadla shalat (yang ia tinggalkan) selama nifas”. [HR. Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 332]

Keterangan :
Dari hadits-hadits tersebut bisa diambil pengertian bahwa wanita yang nifas itu hukumnya sama dengan wanita yang haidl yaitu sama-sama tidak boleh mengerjakan shalat, oleh sebab itu darah nifas pun hukumnya sama dengan darah haidl yaitu najis.

Alat Untuk Bersuci
  1. Air, sebagaimana dijelaskan oleh ayat-ayat dan hadits-hadits pada masalah air yang lalu.
  2. Benda-benda yang suci yang kesat dan tidak licin, seperti : batu, kertas, tembikar, kayu, kain dan lain sebagainya.
عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِذَا ذَهَبَ اَحَدُكُمْ اِلَى اْلغَائِطِ فَلْيَسْتَطِبْ بِثَلاَثَةِ اَحْجَارٍ فَاِنَّهَا تُجْزِى عَنْهُ. احمد و النسائى و ابو داود و الدارقطنى و قال اسناده صحيح حسن، فى نيل الاوطار 1: 110
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang diantara kamu pergi buang air besar, maka hendaklah bersuci (membersihkan qubul atau duburnya) dengan tiga batu. Karena tiga batu Itu sudah mencukupinya”. [HR. Ahmad, Nasai, Abu Dawud dan Daruquthni, ia berkata sanadnya shahih, hasan. Dalam Nailul Authar juz 1, hal. 110]

Larangan Beristinjak Dengan Kotoran Binatang Yang Sudah Kering atau Tulang

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: اِنَّ النَّبِيَّ ص نَهَى اَنْ يُسْتَنْجَى بِرَوْثٍ اَوْ بِعَظْمٍ وَ قَالَ: اِنَّهُمَا لاَ يُطَهّرَانِ. الدارقطنى و قال اسناده صحيح، فى نيل الاوطار 1: 116
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Bahwa Nabi SAW melarang beristinjak dengan menggunakan kotoran hewan atau tulang, dan beliau bersabda, ”Kotoran hewan dan tulang itu tidak dapat membersihkan”. [HR. Daruquthni, dan ia berkata : Sanadnya shahih, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 116]

عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ رض قَالَ: نَهَى النَّبِيُّ ص اَنْ يُتَمَسَّحَ بِعَظْمٍ اَوْ بَعْرَةٍ. احمد و مسلم و ابو داود، فى نيل الاوطار 1: 116
Dari Jabir bin Abdullah RA, ia berkata, “Nabi SAW mencegah menyapu (qubul dan dubur) dengan tulang atau kotoran hewan”. [HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 116]

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رض قَالَ: اَتَى النَّبِيُّ ص اْلغَائِطَ فَاَمَرَنِى اَنْ آتِيَهُ بِثَلاَثَةِ اَحْجَارٍ فَوَجَدْتُ حَجَرَيْنِ وَ اْلتَمَسْتُ الثَّالِثَ فَلَمْ اَجِدْ فَاَخَذْتُ رَوْثَةً فَاَتَيْتُهُ بِهَا فَاَخَذَ اْلحَجَرَيْنِ وَ اَلْقَى الرَّوْثَةَ وَ قَالَ: هذِهِ رِكْسٌ. احمد و البخارى و الترمذى و النسائى، فى نيل الاوطار 1: 119
Dari Ibnu Mas’ud RA, ia berkata : Nabi SAW pergi buang air besar dan beliau menyuruh aku mencarikan tiga biji batu. Aku hanya mendapati dua biji batu. Aku cari batu yang ketiga, tetapi aku tidak memperolehnya. Karena itu, aku mengambil kotoran hewan yang sudah kering lalu kubawa kepada beliau. Kemudian beliau mengambil dua biji batu tersebut dan melemparkan kotoran hewan itu sambil bersabda, ”Ini adalah kotor”. [HR. Ahmad, Bukhari, Tirmidzi dan Nasai, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 119]

Cara bersuci dan mensucikan najis

Pergunakan tangan kiri dalam membersihkan najis-najis itu :

عَنْ اَبِى قَتَادَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ اِذَا بَالَ اَحَدُكُمْ فَلاَ يَاْخُذَنَّ ذَكَرَهُ بِيَمِيْنِهِ وَ لاَ يَسْتَنْجِ بِيَمِيْنِهِ وَ لاَ يَتَنَفَّسْ فِى اْلاِنَاءِ. البخارى 1: 47
Dari Abu Qatadah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, ”Apabila salah seorang diantara kalian buang air (kencing), maka janganlah ia memegang kemaluannya dengan tangan kanannya, janganlah ia beristinjak dengan tangan kanannya dan janganlah bernafas dalam tempat air minum”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 47]

عَنْ اَبِى قَتَادَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ يُمْسِكَنَّ اَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِيْنِهِ وَ هُوَ يَبُوْلُ. وَ لاَ يَتَمَسَّحْ مِنَ اْلخَلاَءِ بِيَمِيْنِهِ وَ لاَ يَتَنَفَّسْ فِى اْلاِنَاءِ. مسلم 1: 225
Dari Qatadah ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah salah seorang diantara kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanan ketika kencing, jangan istinjak dengan tangan kanan, dan jangan bernafas pada tempat air minum. [HR. Muslim juz 1, hal. 225]

Bila beristinjak (bersuci sehabis buang air besar/kecil) dengan batu, maka hendaklah yang ganjil bilangannya dan yang lebih utama adalah dengan 3 buah batu. Boleh juga dengan sebuah batu yang mempunyai 3 sisi.

عَنْ خُزَيْمَةَ بْنِ ثَابِتٍ رض قَالَ: اِنَّ النَّبِيَّ ص سُئِلَ عَنِ اْلاِسْتِطَابَةِ فَقَالَ: بِثَلاَثَةِ اَحْجَارٍ لَيْسَ فِيْهَا رَجِيْعٌ. احمد و ابو داود و ابن ماجه، فى نيل الاوطار 1: 115
Dari Khuzaimah bin Tsabit RA, ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW ditanya tentang hal istithabah (membersihkan diri dari berak dan kencing). Maka beliau bersabda, ” Beristithabah itu dengan tiga buah batu yang tak ada kotoran dalam tiga batu itu”. [HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 115]

Bekas darah haidl yang tidak bisa hilang setelah dicuci tidak dianggap najis.

عَنْ اَسْمَاءَ قَالَتْ: جَاءَتِ امْرَأَةٌ اِلَى النَّبِيّ ص فَقَالَتْ: اِحْدَانَا يُصِيْبُ ثَوْبَهَا مِنْ دَمِ اْلحَيْضَةِ، كَيْفَ تَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: تَحُتُّهُ، ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِاْلمَاءِ، ثُمَّ تَنْضَحُهُ. ثُمَّ تُصَلّى فِيْهِ. مسلم 1: 240
Dari Asma’, ia berkata : Ada seorang wanita datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, “Salah seorang diantara kami pakaiannya terkena darah haidl, bagaimana cara membersihkannya ?”. Nabi SAW menjawab, “(Hendaklah) ia mengeriknya, kemudian menggosoknya dengan air, lalu mencucinya, lalu ia boleh shalat dengan pakaian itu”. [HR. Muslim juz 1, hal. 240]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَتْ خَوْلَةُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَاِنْ لَمْ يَذْهَبِ الدَّمُ؟ قَالَ: يَكْفِيْكِ اْلمَاءُ وَ لاَ يَضُرُّكِ اَثَرُهُ. اخرجه الترمذى و سنده ضعيف، فى بلوغ المرام: 24
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Khaulah bertanya, ”Ya Rasulullah bagaimana jika tidak hilang darahnya ?”. Beliau bersabda, ”Cukup bagimu (mencuci dengan) air, dan tidak mengapa bagimu bekas darah itu”. [HR. Tirmidzi, sanadnya lemah, Bulughul Maram hal. 24]

Air mani tidak najis

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَغْسِلُ اْلمَنِيَّ ثُمَّ يَخْرُجُ اِلَى الصَّلاَةِ فِى ذلِكَ الثَّوْبِ وَ اَنَا اَنْظُرُ اِلَى اَثَرِ اْلغُسْلِ. متفق عليه، فى بلوغ المرام: 24
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW mencuci mani, kemudian beliau keluar untuk shalat dengan memakai kain itu, sedang saya melihat bekas cucian itu”. [Muttafaq ‘Alaih, Bulughul Maram hal. 24]

عَنْ عَائِشَةَ فِى اْلمَنِيّ قَالَتْ: كُنْتُ اَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُوْلِ اللهِ ص مسلم 1: 238
Dari ‘Aisyah tentang mani, ia berkata, ”Sesungguhnya saya pernah menggosoknya (mani itu) dari kain Rasulullah SAW”. [HR. Muslim juz 1, hal. 238]

Keterangan :
Rasulullah SAW mencuci kain yang kena mani itu tidak berarti mani itu najis, karena sering juga orang mencuci kain yang kena ludah atau ingus. Jadi hanya masalah kebersihan saja.
Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Baca juga Menjauhkan diri dari najis

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

No comments :

Post a Comment

1. Silahkan meninggalkan komentar anda, meski hanya sepenggal kata dengan bahasa yang baik dan sopan
2. Dilarang komentar SPAM atau dengan Menyisipkan URL/ Link atau Anchor teks di dalam pesan, bila ada akan dihapus tanpa pemberitahuan
3. Terimakasih atas kunjungan anda, semoga bermanfaat