December 15, 2012

Cara Wudlu Yang Benar

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Wudlu

Berikut ini caranya Wudlu yang dituntunkan oleh Nabi SAW :

Firman Allah SWT :

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْآ اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَ اَيْدِيَكُمْ اِلَى اْلمَرَافِقِ وَ امْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَ اَرْجُلَكُمْ اِلَى اْلكَعْبَيْنِ. المائدة:6
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki ... [QS Al-M.aidah : 6]

Keterangan : 
Ayat tersebut menerangkan bahwa orang yang hendak shalat (bila dia berhadats kecil) wajib berwudlu.
cara wudlu yang benar
Wudlu

Adapun cara berwudlu adalah sebagai berikut :
  1. membasuh muka hingga rata
  2. membasuh kedua tangan hingga siku-siku sampai rata
  3. mengusap kepala dengan air yang ada pada kedua telapak tangan satu kali
  4. membasuh kaki hingga mata kaki dan meratakannya.
Membasuh anggota wudlu

Dalam membasuh anggota-anggota wudlu boleh dengan satu kali-satu kali, dua kali-dua kali, tiga kali-tiga kali. Adapun mengusap kepala hanya sekali saja.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ: تَوَضَّأَ رَسُوْلُ اللهِ ص مَرَّةً مَرَّةً. الجماعة الا مسلما، فى نيل الاوطار 1: 202
Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata, “Rasulullah SAW berwudlu sekali-sekali”. [HR. Jama’ah, kecuali Muslim, dalam Nailul Authar I : 202]


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ. احمد، و البخارى فى الباب عن ابى هريرة و جابر. فى نيل الاوطار 1: 203
Dari ’Abdullah bin Zaid, bahwasanya Nabi SAW berwudlu dua kali-dua kali. [HR. Ahmad, dan Bukhari meriwayatkan dalam Bab ini dari Abu Hurairah dan Jabir, dalam Nailul Authar I : 203]

عَنْ عُثْمَانَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص تَوَضَّأَ ثَلاَثًا ثَلاَثًا. احمد و مسلم، فى نيل الاوطار 1: 203
Dari ‘Utsman RA, bahwasanya Nabi SAW berwudlu tiga kali-tiga kali. [HR. Ahmad dan Muslim, dalam Nailul Authar I : 203]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدٍ بْنِ عَاصِمٍ اْلاَنْصَارِيّ (وَ كَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ) قَالَ قِيْلَ لَهُ: تَوَضَّأْ لَنَا وُضُوْءَ رَسُوْلِ اللهِ ص: فَدَعَا بِاِنَاءٍ فَاَكْفَأَ مِنْهَا عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثًا، ثُمَّ اَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ مِنْ كَفّ وَاحِدَةٍ فَفَعَلَ ذلِكَ ثَلاَثًا، ثُمَّ اَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا، ثُمَّ اَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ يَدَيْهِ اِلَى اْلمِرْفَقَيْنِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ، ثُمَّ اَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَاَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَ اَدْبَرَ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ اِلَى اْلكَعْبَيْنِ، ثُمَّ قَالَ: هكَذَا كَانَ وُضُوْءُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ. مسلم 1: 210
Dari ‘Abdullah bin Zaid bin ‘Aashim Al-Anshariy, ia adalah seorang shahabat, ia mengatakan bahwa dikatakan kepadanya, “Berilah contoh kepada kami tentang wudlunya Rasulullah SAW”. Maka ‘Abdullah bin Zaid meminta bejana berisi air, lalu menuangkan air pada kedua tangannya dan membasuhnya tiga kali. Sesudah itu ia memasukkan tangannya ke dalam bejana untuk menciduk air, lalu mengeluarkannya dan berkumur dan menghirupnya ke hidung dari satu telapak tangannya, ia mengerjakan yang demikian itu tiga kali, kemudian memasukkan kedua tangannya lagi ke dalam bejana untuk menciduk air dan terus membasuh mukanya tiga kali, sesudah itu ia memasukkan tangannya untuk menciduk air lalu mengeluarkannya dan membasuh kedua tangan hingga siku dua kali-dua kali. Sesudah itu, ia memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu mengeluarkannya dan menyapu kepala dengan dua tangannya ke depan dan ke belakang (ia mengusapkan kedua tangannya sampai ke belakang hingga ke tengkuk dan mengembalikan ke muka lagi). Sesudah itu ia membasuh kakinya hingga dua mata kaki. Kemudian ia berkata, “Beginilah wudlunya Rasulullah SAW”. [HR. Muslim I : 210]

Kesempurnaan wudlu

1. Membaca basmalah ketika hendak memulai wudlu.

عَنْ اَنَسٍ قَالَ: طَلَبَ بَعْضُ اَصْحَابِ النَّبِيّ ص وَضُوءًا فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: هَلْ مَعَ اَحَدٍ مِنْكُمْ مَاءٌ؟ فَوَضَعَ يَدَهُ فِي اْلمَاءِ وَ يَقُولُ تَوَضَّئُوْا بِسْمِ اللهِ فَرَأَيْتُ اْلمَاءَ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ اَصَابِعِهِ حَتَّى تَوَضَّئُوْا مِنْ عِنْدِ آخِرِهِمْ. قَالَ ثَابِتٌ: قُلْتُ ِلاَنَسٍ: كَمْ تُرَاهُمْ؟ قَالَ: نَحْوًا مِنْ سَبْعِيْنَ. النسائى 1: 61 صحيح
Dari Anas, ia berkata : Sebagian shahabat Nabi SAW mencari air untuk wudlu, maka Rasulullah SAW bersabda, “Apakah diantara kalian membawa air ?”. Lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam air itu dan bersabda, “Berwudlulah dengan nama Allah”. Maka aku lihat air itu keluar dari sela-sela jari beliau sehingga mereka semua berwudlu hingga orang terakhir dari mereka. Tsabit (perawi yang mendapat hadits dari Anas) bertanya, “Berapa orang kah jumlah mereka ?”. Ia menjawab, “Kira-kira tujuh puluh orang”. [HR. Nasaai 1 : 61, shahih].

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رض. قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ وَ لاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ. ابن ماجه 1: 140
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tak ada shalat bagi orang yang tidak berwudlu, dan tidak ada wudlu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah atasnya”. [HR. Ibnu Majah 1 : 140].

2. Mengawali dengan membasuh tangan hingga pergelangan tiga kali, menggosok sela-sela jari dan memutar cincin

عَنْ اَوْسِ بْنِ اَوْسٍ الثَّقَفِيّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص تَوَضَّأَ فَاسْتَوْكَفَّ ثَلاَثًا أَيْ غَسَلَ كَفَّيْهِ. احمد و النسائى، فى نيل الاوطار 1: 162
Dari Aus bin Aus Ats-Tsaqafiy, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW berwudlu, maka beliau memulai dengan membasuh telapak tangannya tiga kali, yaitu mencuci dua telapak tangan beliau”. [HR. Ahmad dan Nasai, dalam Nailul Authar 1 : 162]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِذَا اسْتَيْقَظَ اَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلاَ يَغْمِسْ يَدَهُ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثًا فَاِنَّهُ لاَ يَدْرِى اَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ. الجماعة الا ان البخارى لم يذكر العدد، فى نيل الاوطار 1: 162
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang diantara kalian bangun tidur, janganlah langsung membenamkan tangannya (ke dalam bejana) sehingga membasuhnya tiga kali (di luar bejana) karena ia tidak tahu bagaimana tangannya itu semalam”. [HR. Jama’ah, tetapi Bukhari tidak menyebutkan bilangan (tiga kali), dalam Nailul Authar 1 : 162]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِذَا تَوَضَّأْتَ فَخَلّلْ اَصَابِعَ يَدَيْكَ وَ رِجْلَيْكَ. احمد و ابن ماجه و الترمذى، فى نيل الاوطار 1: 181
Dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Apabila kamu berwudlu, maka gosoklah sela-sela jari-jari kedua tangan dan kakimu”. [HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi, dalam Nailul Authar 1 : 181]

عَنْ اَبِى رَافِعٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ اِذَا تَوَضَّأَ حَرَّكَ خَاتَمَهُ. ابن ماجه و الدارقطنى، فى نيل الاوطار 1: 181
Dari Abu Rafi’ bahwasanya Rasulullah SAW apabila berwudlu, beliau memutar-mutar cincinnya. [HR. Ibnu Majah dan Daruquthni, dlaif, dalam Nailul Authar 1 : 181]

3. Beristinsyaq dan bermadlmadlah

Beristinsyaq adalah menghirup air ke hidung lalu menghembuskan-nya keluar, adapun bermadlmadlah adalah berkumur.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ النَّبِيّ ص قَالَ: اِذَا تَوَضَّأَ اَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِى اَنْفِهِ مَاءً ثُمَّ لِيَسْتَنْثِرْ. احمد و البخارى و مسلم، فى نيل الاوطار 1: 170
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Apabila seseorang diantara kalian berwudlu hendaklah ia memasukkan air ke hidungnya kemudian ia hembuskan”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim, dalam Nailul Authar 1 : 170]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: اَمَرَ رَسُوْلُ اللهِ ص بِاْلمَضْمَضَةِ وَ اْلاِسْتِنْشَاقِ. الدارقطنى، فى نيل الاوطار 1: 170
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW menyuruh bermadlmadlah dan beristinsyaq”. [HR. Daruquthni, dalam Nailul Authar 1 : 170]

عَنْ اَبِى حَيَّةَ رض قَالَ: رَأَيْتُ عَلِيًّا رض تَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ حَتَّى اَنْقَاهُمَا ثُمَّ مَضْمَضَ ثَلاَثًا وَ اسْتَنْشَقَ ثَلاَثًا وَ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَ ذِرَاعَيْهِ ثَلاَثًا وَ مَسَحَ بِرَأْسِهِ مَرَّةً ثُمَّ غَسَلَ قَدَمَيْهِ اِلَى الْكَعْبَيْنِ ثُمَّ قَالَ: اَحْبَبْتُ اَنْ اُرِيَكُمْ كَيْفَ كَانَ طُهُوْرُ رَسُوْلِ اللهِ ص. الترمذى 1: 34
Dari Abu Hayyah RA, ia berkata, “Saya melihat Ali berwudlu. Maka dia membasuh kedua telapak tangannya hingga bersih, kemudian bermadhmadhah tiga kali, beristinsyaq tiga kali, membasuh muka tiga kali, dan hasta tiga kali. Kemudian menyapu kepala sekali. Kemudian membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki. Sesudah itu dia berkata : Saya ingin memperlihatkan kepadamu bagaimana cara wudlu Rasulullah SAW. [HR. Tirmidzi 1: 34]

4. Mendahulukan membasuh anggota sebelah kanan

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُحِبُّ التَّيَامُنَ فِى تَنَعُّلِهِ وَ تَرَجُّلِهِ وَ طَهُوْرِهِ وَ فِى شَأْنِهِ كُلّهِ. احمد و البخارى و مسلم، فى نيل الاوطار 1: 201
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Rasulullah SAW suka mendahulukan sebelah kanannya di waktu memakai sepatu, bersisir, bersuci dan di segala urusannya”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim, dalam Nailul Authar 1 : 201]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اِذَا لَبِسْتُمْ وَ اِذَا تَوَضَّأْتُمْ فَابْدَأُوْا بِاَيَامِنِكُمْ. احمد و ابو داود، فى نيل الاوطار 1: 201
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Apabila kamu memakai pakaian dan apabila kamu berwudlu, mulailah dengan sebelah kananmu”. [HR. Ahmad dan Abu Dawud, dalam Nailul Authar 1 : 201]

Cara menyapu kepala dan telinga

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدٍ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ فَاَقْبَلَ بِهِمَا وَ اَدْبَرَ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا اِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا اِلَى اْلمَكَانِ الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ. الجماعة، فى نيل الاوطار 1: 183
Dari ‘Abdullah bin Zaid RA, bahwasanya Rasulullah SAW mengusap kepala beliau dengan kedua tangannya, beliau tarik kedua tangan itu ke depan dan ke belakang. Beliau memulai dari bagian depan kepala, lalu mengusap dengan kedua tangannya itu sampai ke tengkuknya, kemudian mengembalikan kedua tangan itu ke tempat memulainya tadi. [HR. Jama’ah, dalam Nailul Authar 1 : 183]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَ اُذُنَيْهِ ظَاهِرِهِمَا وَ بَاطِنِهِمَا. الترمذى و صححه. و للنسائى مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَ اُذُنَيْهِ بَاطِنِهِمَا بِاْلمُسَبّحَتَيْنِ وَ ظَاهِرِهِمَا بِاِبْهَامَيْهِ. فى نيل الاوطار 1: 191
Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya Nabi SAW mengusap kepala beliau dan kedua telinga beliau bagian luar dan dalamnya. [HR. Tirmidzi, dan ia menshahihkannya]. Dan bagi Nasai : Beliau mengusap kepala dan dua telinga bagian dalamnya dengan dua jari telunjuk dan bagian luarnya dengan ibu jari. [Dalam Nailul Authar 1 : 191]
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: َاْلاُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ. ابن ماجه 1: 152
Dari ‘Abdullah bin Zaid RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Dua telinga itu termasuk kepala”. [HR. Ibnu Majah 1 : 152]

5. Melebihkan sedikit anggota yang dibasuh

Kita diperintahkan supaya melebihkan sedikit pada anggota-anggota yang wajib dibasuh, yaitu pada muka, tangan dan kaki.

عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اْلمُجْمِرِ قَالَ: رَأَيْتُ اَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ فَاَسْبَغَ اْلوُضُوْءَ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اْليُمْنَى حَتَّى اَشْرَعَ فِى اْلعَضُدِ، ثُمَّ يَدَهُ اْليُسْرَى حَتَّى اَشْرَعَ فِى اْلعَضُدِ، ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اْليُمْنَى حَتَّى اَشْرَعَ فِى السَّاقِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اْليُسْرَى حَتَّى اَشْرَعَ فِى السَّاقِ، ثُمَّ قَالَ: هكَذَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَتَوَضَّأُ. وَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَنْتُمُ اْلغُرُّ اْلمُحَجَّلُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مِنْ اِسْبَاغِ اْلوُضُوْءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ فَلْيُطِلْ غُرَّتَهُ وَ تَحْجِيْلَهُ. مسلم 1: 216
Dari Nu’aim bin ‘Abdullah Al-Mujmir, ia berkata : Aku melihat Abu Hurairah berwudlu, maka dia membasuh mukanya dan menyempurnakan wudlu. Kemudian dia membasuh tangannya yang kanan sampai ke lengannya, lalu membasuh tangannya yang kiri sampai ke lengannya juga. Kemudian dia mengusap kepalanya, lalu membasuh kakinya yang kanan sampai ke betis dan membasuh kaki yang kiri sampai betis pula. Kemudian ia berkata, “Demikianlah saya melihat Rasulullah SAW berwudlu”. Dan (Abu Hurairah) berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Kamu sekalian adalah orang-orang yang bersinar putih cemerlang dahi, tangan dan kakinya pada hari qiyamat karena menyempurnakan wudlu. Maka barangsiapa diantara kalian yang mampu, hendaklah ia lebihkan sinar putih pada dahi, tangan dan kakinya itu (dengan melebihkan membasuh muka, tangan dan kaki)”. [HR. Muslim 1 : 216]

6. Bacaan sesudah wudlu

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا مِنْكُمْ مِنْ اَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ الْوُضُوْءَ ثُمَّ يَقُوْلُ: اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. اِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ ابْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ اَيّهَا شَاءَ. احمد و مسلم و ابو داود، فى نيل الاوطار 1: 204
Dari Umar bin Khaththab RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang diantara kalian yang berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya, lalu membaca, “Asyhadu allaa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh. (Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu hamba-Nya dan Rasul-Nya) melainkan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan, ia boleh masuk dari pintu manasaja yang ia kehendaki”. [HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 204].

Ringkasan :
Cara wudlu dengan sunnat-sunnatnya :
  1. Membaca Basmalah (Bismilaahir rohmaanir rohiim).
  2. Membasuh dua tangan sampai pergelangan.
  3. Berkumur-kumur dan menaikkan air ke hidung, lalu menghembus-kannya.
  4. Membasuh muka sampai rata.
  5. Membasuh kedua tangan sampai siku-siku.
  6. Menyapu/mengusap kepala sampai rata dan langsung telinga.
  7. Membasuh/mencuci kaki.
  8. Membaca syahadat.
Catatan :
Semua yang tersebut diatas boleh dikerjakan sekali-sekali, dua kali-dua kali, atau tiga kali-tiga kali, kecuali nomor 1, 6 dan 8, hanya sekali saja.
baca selanjutnya Yang Membatalkan Wudlu

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

2 comments :

  1. Yg no 1,6,8..kalau lebih dari sekali adakah membatalkan,dan kenapa gak boleh di ulang ulang terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tidak membatalkan mas, coba lihat postingan yg membatalkan wudlu disini http://salampathokan.blogspot.com/2012/12/yang-membatalkan-wudlu.html dan kenapa gak boleh diulang2 karena sudah sesuai berdasarkan tuntunan dari nabi Saw, coba baca lagi hadits yg diatas, terimakasih

      Delete

1. Silahkan meninggalkan komentar anda, meski hanya sepenggal kata dengan bahasa yang baik dan sopan
2. Dilarang komentar SPAM, Iklan atau dengan Menyisipkan URL/ Link atau Anchor teks di dalam pesan, bila ada akan dihapus tanpa pemberitahuan
3. Terimakasih atas kunjungan anda, semoga bermanfaat