Wednesday, October 31, 2012

Terorisme Dalam Pandangan Agama Islam

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Islam Bukan Teroris

Sebelum kita membahas tentang terorisme menurut pandangan agama Islam, terlebih dahulu marilah kita pahami tentang pengertian terorisme.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, artinya :
  • Terorisme : Penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan, dalam usaha mencapai suatu tujuan (terutama tujuan politik).
  • Teroris : adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut (biasanya untuk tujuan politik).
  • Teror : perbuatan sewenang-wenang, kejam, bengis, dalam usaha menciptakan ketakutan, kengerian oleh seseorang atau golongan.
Selanjutnya mari kita cermati dan kita telaah kembali ajaran Islam, agama yang diridlai Allah SWT, sebagai petunjuk bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hidupnya di dunia yang sedang kita jalani sekarang ini, maupun kebahagiaan hidup yang haqiqi di akhirat kelak.

Tuesday, October 30, 2012

Hukuman Zina Dalam Islam

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Suri Tauladan Rasulullah SAW Yang Baik

Hukuman Zina

Firman Allah SWT :

اَلزَّانِيَةُ وَ الزَّانِيْ فَاجْلِدُوْا كُلَّ وَاحِدٍ مّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ، وَّ لاَ تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِيْ دِيْنِ اللهِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلاخِرِ، وَ لْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مّنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ. النور:2
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu (menjalankan) agama Allah jika kamu beriman kepada Allah dan har akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. [QS. An-Nuur : 2]

Monday, October 29, 2012

Larangan Memandang Bersentuhan Lawan Jenis

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Suri Tauladan Rasulullah SAW Yang Baik
 
Hadits Larangan Memandang Bersentuhan Lawan Jenis

Firman Allah SWT :

قُلْ لّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَ يَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ، ذلِكَ اَزْكى لَهُمْ، اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا يَصْنَعُوْنَ. النور:30
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. [QS. An-Nuur : 30]

وَ قُلْ لّلْمُؤْمِنتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَ يَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَ لاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ لْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلى جُيُوْبِهِنَّ وَ لاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّ لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ ابآئِهِنَّ اَوْ ابآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَآئِهِنَّ اَوْ اَبْنَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِى اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِى اَخَوَاتِهِنَّ اَوْ نِسآئِهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى اْلاِرْبَةِ مِنَ الرّجَالِ اَوِ الطّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلى عَوْرتِ النّسَآءِ، وَ لاَ يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ، وَ تُوْبُوْا اِلَى اللهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. النور:31

Sunday, October 28, 2012

Larangan Mencuri dan Hukumannya

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Berikut beberapa hadits yang berkenaan dengan Larangan Mencuri dan Hukumannya

Firman Allah SWT :

وَ السَّارِقُ وَ السَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْآ اَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مّنَ اللهِ، وَ اللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ. فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِه وَ اَصْلَحَ فَاِنَّ اللهَ يَتُوْبُ عَلَيْهِ، اِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. المائدة:38-39
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maka barangsiapa bertaubat (diantara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Maidah : 38-39]

Saturday, October 27, 2012

Obat Yang Harus Dihindari Bayi

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Seorang bayi sangat membutuhkan perhatian orang tua khususnya pada ibunya untuk memberikan ASInya, bayi sangat rentan sekali twerhadap suatu penyakit karena daya tahan tubuh seorang bayi sangat rentan atau lemah terhadap berbagai macam kuman penyakit.
jenis obat
Obat
Bila sikecil menderita sakit, sebaiknya lebih berhati-hati saat memberikan obat-obatan terlebih dahulu konsultasikan ke ahli pengobatan untuk memberikan petunjuk pengobatanya agar tidak salah dalam pemberian obat meskipun obat tersebut obat herbal.

Berikut ini jenis-jenis obat yang harus dihindari pemberianya kepada bayi antara lain : 

1. Aspirin 
Obat ini bisa menyebabkan sindrom Reye yang bisa menyebabkan rusaknya ginjal dan otak. Jenis golongan obat ini diantaranya salisilat atau asamasetilsalisilat yang gunanya untuk demam. Bila anak menderita demam sebaiknya berikan yang mengandung paracetamol atau ibuprofen untuk anak diatas 6 bulan sesuai dengan dosisnya

Friday, October 26, 2012

Tips Melawan Influenza Dengan Sistem Imun

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

virus influenza
Anatomi Virus
Tahukah anda influenza dan bagaimanakah cara melawanya, Influenza atau lebih dikenal dengan Flu adalah penyakit yang mudah menular yang penyebabnya virus RNA dari family Orthomyxoviridae atau virus influenza. Infeksi ini terjadi pada sistem pernapasan atas dengan berbagai gejala mulai dari batuk, mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan, menggigil, demam, nyeri tenggorok, nyeri otot, nyeri kepala berat, kelemahan, dan rasa tidak nyaman secara umum. 

Beberapa tips berikut untuk melawan penyakit influenza diantara lakukan sebagai berikut : 
  1. Bawang putih Tambahkan bawang segar ke dalam sup. Penelitian mengungkapkan bawang putih akan meningkatkan sistem imun, selain itu kandungan allicin dalam bawang putih mengandung komponen antivirus. 

Penyebab Dan Penanganan Amenorea

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

amenorea
Penyebab Dan Penanganan Amenorea
pada umumnya terjadi pada wanita yang sedang haid, amenorea ada dua jenis yaitu amenorea primer dan sekunder. Amenorea primer terjadi pada perempuan yang tidak mendapat haid sejak usia akil balik hingga dewasa. Amenorea sekunder terjadi pada seorang perempuan dimana pernah mengalami haid dan tiba-tiba berhenti menstruasi selama tiga bulan berturut-turut, sehingga ini lebih terjadi daripada amenorea primer.

Penyebab amenorea

Amenorea primer :

Saturday, October 20, 2012

Kedudukan Hadits Fadlilah Yaasiin Bg 5

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Sebelumnya telah dibahas Fadlilah membaca surat yaasiin di malam, pagi dan siang hari, berikut ini kelanjutanya mengenai hadits tentang surah Yaasiin. 
surah yaasiin
Yaasiin

Membaca Surat Yaasiin Di Pekuburan

Hadits ke-41

عَنْ اَنَسٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ دَخَلَ اْلمَقَابِرَ فَقَرَأَ سُوْرَةَ يس خَفَّفَ اللهُ عَنْهُمْ يَوْمَئِذٍ وَ كَانَ لَهُ بِعَدَدِ حُرُوْفِهَا حَسَنَاتٌ. فى تفسير القرطبى 15: 4
Dari Anas (bin Malik), bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa memasuki kuburan, lalu membaca surat Yaasiin, niscaya Allah meringankan (siksa qubur) mereka pada hari itu, dan adalah bagi orang yang membacanya mendapat kebaikan sejumlah huruf-hurufnya”. [Dalam Tafsir Al-Qurthubiy juz 15, hal. 4]

Kedudukan Hadits Fadlilah Yaasiin Bg 4

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Sebelumnya telah dibahas Khasiat menulis meminum air yaasiin dan Membaca yaasiin kepada orang yang akan meninggal, berikut ini kelanjutanya mengenai hadits tentang surah Yaasiin.

Surat Yaasiin Dibaca Malam Hari

surah yaasiin
Yaasiin
Hadits ke-30

عَنِ اْلحَسَنِ عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ قَرَأَ يس فِى لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ فِى تِلْكَ اللَّيْلَةِ. الدارمى 2: 457، رقم: 3267
Dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membaca surat Yaasiin pada malam hari dengan mengharap ridla Allah, maka diampuni baginya (dari dosanya) pada malam itu”. [HR. Darimiy juz 2, hal. 457, no. 3267]

Friday, October 19, 2012

Kedudukan Hadits Fadlilah Yaasiin Bg 3


بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Sebelumnya telah dibahas Yaasiin sebagai pengampun dosa dan pahala membaca yaasiin sama dengan 20 berhaji, berikut ini kelanjutanya mengenai hadits tentang surah Yaasiin

Yaasiin Dibacakan Kepada Orang Yang Akan Meninggal


surah yaasiin
Yaasiin
Hadits ke-20

عَنْ صَفْوَانَ قَالَ حَدَّثَنِى اْلمَشِيْخَةُ اَنَّهُمْ حَضَرُوْا غُضَيْفَ بْنَ اْلحَارِثِ الثّمَالِيَّ حِيْنَ اشْتَدَّ سَوْقُهُ. فَقَالَ: هَلْ مِنْكُمْ اَحَدٌ يَقْرَأُ يس؟ قَالَ: فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُوْنِىُّ. فَلَمَّا بَلَغَ اَرْبَعِيْنَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ: فَكَانَ اْلمَشِيْخَةُ يَقُوْلُوْنَ: اِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ اْلمَيّتِ خُفّفَ عَنْهُ بِهَا، قَالَ صَفْوَانُ وَ قَرَأَهَا عِيْسَى بْنُ اْلمُعْتَمِرِ عِنْدَ ابْنِ مَعْبَدٍ. احمد 6: 40، رقم: 16966
Dari Shafwan, ia berkata : Menceritakan kepadaku Al-Masyikhah. (para guru), bahwasanya mereka hadir ketika Ghudlaif bin Harits Ats-Tsimaliy sakit keras. Lalu ia berkata, “Adakah salah seorang diantara kalian yang bisa membaca Yaasiin?”. Lalu Shalih bin Syuraih As-Sakuniy membacanya. Maka setelah sampai pada ayat ke-40, Ghudlaif meninggal. Para guru mengatakan, “Apabila surat Yaasiin dibaca di samping orang yang akan meninggal, niscaya diringankan darinya karena bacaan itu”. Shafwan berkata, “Isa bin Mu’tamir juga membacakannya untuk Ibnu Ma’bad”. [HR Ahmad juz 6, hal. 40, no. 16966]

Thursday, October 18, 2012

Kedudukan Hadits FadlilahYaasiin Bg 2

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Sebelumnya telah dibahas Kedudukan yaasiin sebagai qolbu Al Quran, berikut ini kelanjutanya mengenai hadits tentang surah Yaasiin
surah yaasiin
Yaasiin

Yaasiin Sebagai Pengampunan Dosa

Hadits ke-11

عَنِ اْلحَسَنِ عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ قَرَأَ يس فِى لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ فِى تِلْكَ اللَّيْلَةِ. الدارمى 2: 457، رقم: 3267
Dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membaca surat Yaasiin pada malam hari dengan mengharap ridla Allah, maka diampuni baginya (dari dosanya) pada malam itu”. [HR. Darimiy juz 2, hal. 457, no. 3267]

Wednesday, October 17, 2012

Kedudukan Hadits Fadlilah Yaasiin Bg 1

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Yaasiin qalbul qur’an

Hadits ke-1

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ اَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ لِكُلّ شَيْءٍ قَلْبًا، وَ اِنَّ قَلْبَ اْلقُرْانِ يس. مَنْ قَرَأَهَا فَكَاَنَّمَا قَرَأَ القُرْانَ عَشْرَ مَرَّاتٍ. الدارمى 2: 456، رقم: 3266
surah yaasiin sebagai qolbu Al quran
Dari Qatadah, dari Anas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya bagi setiap sesuatu itu ada qalbu (hatinya), dan sesungguhnya qalbul Qur’an itu adalah surat Yaasiin. Barangsiapa yang membacanya, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an sepuluh kali”. [HR. Darimiy juz 2, hal. 456, no. 3266]


Adapun para perawi/sanad hadits tersebut adalah sebagai berikut :

Tuesday, October 16, 2012

Makanan Yang Bikin Anak Cerdas Dan Pintar

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Mendambakan anak yang pintar dan cerdas adalah suatu keinginan yang diidamkan sejak masih dalam kandungan. Jika anak anda nanti menjadi cerdas disekolah nanti usahakan agar kebutuhan gizi tersebut terpenuhi dengan baik.

Ada beberapa jenis makanan bergizi yang bisa membantu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan otak anak, yang berfungsi sebagai penambah daya ingat dan konsentrasi si anak tersebut.

Berikut ini beberapa jenis makanan yang bisa membantu menambah pertumbuhan dan perkembangan fungsi otak anak, agar anak anda nantinya menjadi cerdas dan daya ingat konsentrasinya bertambah, apasajakah makanan tersebut?

Monday, October 15, 2012

Doa Untuk Orang Sakit

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Berikut beberapa doa untuk orang yang sakit yang diambil dari beberapa hadits nabi Saw : 

قَالَ اَنَسٌ لِثَابِتٍ: اَلاَ اَرْقِيْكَ بِرُقْيَةِ رَسُوْلِ اللهِ ص؟ قَالَ: بَلَى. قَالَ: اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ، اشْفِ اَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِيَ اِلاَّ اَنْتَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا. البخارى 7: 24
Anas berkata kepada Tsaabit (yang sedang sakit), “Maukah kamu aku ruqyah (jampi), sebagaimana Rasulullah SAW meruqyah?”. Tsaabit berkata, “Mau”. Anas berkata, “Alloohumma robban-naas mudzhibal baasi, isyfi antasy-syaafii laa syaafiya illaa anta syifaa-an laa yughoodiru saqoma” (Ya Allah Tuhannya seluruh manusia yang menghilangkan gangguan (penyakit), sembuhkanlah dia, Engkaulah Penyembuh yang tidak ada penyembuh kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak kambuh lagi). [HR. Bukhari juz 7 hal. 24]

Mencegah Stres

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم
Cara mencegah stress
Stop Stres
Kegiatan sehari-hari bisa menimbulkan stres akibat dari berbagai persolan yang kita temui bisa karena jalanan macet, pekerjaan yang belum usai, masalah perekonomian dll. untuk itu ada beberapa langkah pencegahan stres yang perlu diketahui diantaranya :

Sunday, October 14, 2012

Shalat Sunah Kusuf Shalat Khusuf

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW

Shalat Kusuf, shalat Khusuf


Kusuf/Khusuf ialah istilah yang diberikan untuk shalat sunnah di waktu terjadi gerhana matahari maupun gerhana bulan.

Shalat Sunah Kusuf Shalat Khusuf

Bilangan rekaat / Cara Pelaksanaannya :
  • Shalat kusuf/khusuf ini utamanya dilaksanakan di masjid secara berjama'ah dan dengan khutbah sesudah shalat.
  • Shalat gerhana itu tanpa adzan dan iqamah; tetapi hanya panggilan, misalnya "Ash-Sholaatu Jaami'ah" (Mari kita berkumpul untuk shalat)
  • Shalat sunnah ini dikerjakan sebanyak 2 rekaat dengan bacaan jahr.
Pada Tiap-tiap rekaat mengandung 2 ruku' dan 2 sujud dengan cara sebagai berikut :

Shalat Sunah Istikharah

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat-shalat sunnah menurut tuntunan Rasulullah SAW

Shalat Sunnah Istikharah

Shalat sunnah Istikharah ialah istilah shalat sunnah yang dilakukan ketika akan mengerjakan sesuatu pekerjaan yang penting untuk memohon petunjuk ke arah kebaikan.

Waktunya :
Tidak tertentu, boleh dikerjakan pagi, siang, maupun malam
Cara pelaksanaan/bilangan rekaatnya :
Shalat ini bilangan rekaatnya, 2 rekaat dan dengan sirr (suara lembut).
Dalil pelaksanaannya :
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُعَلّمُنَا اْلاِسْتِخَارَةَ فِى اْلاُمُوْرِ كَمَا يُعَلّمُنَا السُّوْرَةَ مِنَ اْلقُرْانِ يَقُوْلُ: اِذَا هَمَّ اَحَدُكُمْ بِاْلاَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ اْلفَرِيْضَةِ ثُمَّ لْيَقُلْ: اَللّهُمَّ اِنّى اَسْتَخِيْرُكَ ... قَالَ وَ يُسَمّى حَاجَتَهُ. البخارى
Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata : Rasulullah SAW pernah mengajarkan kepada kami istikharah dalam urusan-urusan penting sebagaimana beliau mengajarkan Al-Qur'an kepada kami. Beliau bersabda, "Apabila seseorang diantara kalian akan mengerjakan suatu perkara hendaklah ia shalat 2 raka'at yang bukan shalat fardlu, kemudian hendaklah berdoa "Alloohumma innii astakhiiruka ..... dst" dan hendaklah ia sebutkan hajatnya". [HR. Bukhari 2 : 51]

Doa tersebut sebagai berikut :

اَللّهُمَّ اِنّى اَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَ اَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَ اَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ. فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ اَقْدِرُ وَ تَعْلَمُ وَلاَ اَعْلَمُ. وَ اَنْتَ عَلاَّمُ اْلغُيُوْبِ. اَللّهُمَّ اِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اَنَّ هذَا اْلاَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِيْنِى وَ مَعَاشِى وَ عَاقِبَةِ اَمْرِى (اَوْ قَالَ عَاجِلِ اَمْرِى وَ آجِلِهِ) فَاقْدُرْهُ لِى وَ يَسّرْهُ لِى، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيْهِ. وَ اِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اَنَّ هذَا اْلاَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِيْنِى وَ مَعَاشِى وَ عَاقِبَةِ اَمْرِى (اَوْ قَالَ عَاجِلِ اَمْرِى وَ آجِلِهِ) فَاصْرِفْهُ عَنّى وَ اصْرِفْنِى عَنْهُ وَ اقْدُرْلِيَ اْلخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ اَرْضِنِى بِهِ. البخارى 2: 51 
Ya Allah, sesungguhnya aku mohon Engkau pilihkan yang baik dengan pengetahuan-Mu, aku mohon Engkau memberi kekuatan dengan kekuasaan-Mu, dan aku mohon karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedang aku tidak berkuasa, dan Engkau mengetahui, sedangkan aku tidak mengetahui. Engkau yang amat mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Ya Allah, kalau Engkau ketahui bahwa perkara ini baik bagiku, agamaku, penghidupanku dan hari penghabisanku, (atau beliau mengatakan “baik cepat maupun lambat”) maka berikanlah dia kepadaku dan mudahkanlah (urusannya) untukku dan berkahilah aku dengannya. Dan jika memang Engkau ketahui bahwa perkara ini tidak baik bagiku, bagi agamaku, penghidupanku dan hari penghabisanku, (atau beliau mengatakan “baik cepat maupun lambat”), maka jauhkanlah dia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Dan berikanlah kepadaku kebaikan itu walau dimanapun adanya, serta jadikanlah aku orang yang ridla akan (pemberian) itu". [HSR. Bukhari 2 : 51].

Shalat Sunnah Istisqa

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW

Shalat Sunnah Istisqa'

Shalat sunnah istisqa' ialah shalat sunnah yang dikerjakan untuk memohon hujan dikala lama tidak turun hujan.

Cara pelaksanaannya ada dua macam :
  1. Bersama-sama ke tanah lapang, berpakaian sederhana dan dengan merendahkan diri serta penuh rasa harap kepada Allah SWT. Kemudian diadakan khutbah dan berdoa dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Lalu berpaling menghadap Qiblat dengan tetap berdoa. Setelah itu shalat dua rekaat dengan suara nyaring (jahr).
  2. Bila dilakukan pada hari Jum'ah, maka cukup dengan berdoa ketika khutbah Jum'ah, yaitu :

اَللّهُمَّ اَغِثْنَا، اَللّهُمَّ اَغِثْنَا، اَللّهُمَّ اَغِثْنَا
"Ya Allah berilah kami hujan". X 3

Atau dengan lafadh :

اَللّهُمَّ اسْقِنَا، اَللّهُمَّ اسْقِنَا، اَللّهُمَّ اسْقِنَا
"Ya Allah berilah kami hujan". X 3

Dalil-dalil pelaksanaannya :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: شَكَا النَّاسُ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ ص قُحُوْطَ اْلمَطَرِ. فَاَمَرَ بِمِنْبَرٍ فَوُضِعَ لَهُ بِاْلمُصَلَّى. وَوَعَدَ النَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُوْنَ فِيْهِ. فَخَرَجَ حِيْنَ بَدَا حَاجِبُ الشَّمْسِ فَقَعَدَ عَلَى اْلِمنْبَرِ. فَكَبَّرَ وَحَمِدَ اللهَ، ثُمَّ قَالَ: اِنَّكُمْ شَكَوْتُمْ جَدْبَ دِيَارِكُمْ وَقَدْ اَمَرَكُمُ اللهُ اَنْ تَدْعُوْهُ وَ وَعَدَكُمْ اَنْ يَسْتَجِيْبَ لَكُمْ. ثُمَّ قَالَ: اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبّ اْلعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدّيْنِ. لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ. يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ، اَللّهُمَّ اَنْتَ اللهُ. لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ، اَنْتَ اْلغَنِيُّ وَ نَحْنُ اْلفُقُرَاءُ. اَنْزِلْ عَلَيْنَا اْلغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا اَنْزَلْتَ عَلَيْنَا قُوَّةً وَ بَلاَغًا اِلَى حِيْنٍ. ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمْ يَزَلْ حَتَّى رُئِيَ بَيَاضُ اِبْطَيْهِ ثُمَّ حَوَّلَ اِلىَ النَّاسِ ظَهْرَهُ وَقَلَبَ رِدَاءَهُ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ ثُمَّ اَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ وَ نَزَلَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ. ابوداود
Dari 'Aisyah, ia berkata : Orang-orang telah datang mengadu pada Rasulullah SAW tentang tidak adanya hujan. Maka Rasulullah SAW memerintahkan agar diadakan mimbar, lalu mereka menyediakan itu di tanah lapang tempat shalat. Dan Rasulullah SAW menentukan satu hari untuk manusia berkumpul di tempat itu. Maka pada hari yang ditentukan Rasulullah SAW keluar pada waktu matahari terbit, kemudian beliau duduk di atas mimbar, lalu bertakbir dan memuji Allah. Setelah itu beliau bersabda : "Sesungguhnya kamu mengadu kekeringan dan kelambatan hujan daripada waktu yang biasa, sedang Allah telah memerintahkan agar kamu sekalian memohon kepada-Nya dan Ia menjanjikan akan memperkenankan permohonanmu". Kemudian beliau berdoa "Al-hamdu lillaahi Robbil 'aalamiin. Arrohmaanir-rohiim. Maaliki yaumid-diin. Laa ilaaha illallooh. Yaf’alu maa yuriid. Alloohumma antallooh. Laa ilaaha illaa anta. Antal ghoniyyu wa nahnul fuqoroo-u. Anzil ‘alainaal ghoitsa waj’al maa anzalta ‘alainaa quwwatan wa balaaghon ilaa hiin". (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang memiliki hari pembalasan. Tidak ada Tuhan yang layak disembah melainkan Allah. Ia berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Ya Allah, Engkaulah Allah yang tidak ada Tuhan melainkan Engkau. Engkaulah Yang Maha Kaya dan kamilah yang sangat membutuhkan(Mu), turunkanlah atas kami hujan dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan atas kami itu kekuatan dan bekal hingga satu masa). Dan beliau mengangkat tangannya dan tetap demikian itu sehingga kelihatan putih kedua ketiaknya. Setelah itu beliau berpaling membelakangi orang ramai dan membalikkan (memindahkan) selendangnya dan tetap mengangkat kedua tangannya, lalu beliau menghadap kepada khalayak ramai, dan turun dari mimbar, kemudian beliau shalat dua rekaat". [HR. Abu Dawud].

عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ اَبِى بَكْرٍ سَمِعَ عَبَّادَ بْنَ تَمِيْمٍ عَنْ عَمّهِ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ ص اِلَى اْلمُصَلَّى يَسْتَسْقِى وَ اسْتَقْبَلَ اْلقِبْلَةَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَ قَلَبَ رِدَاءَهُ. قَالَ سُفْيَانُ فَاَخْبَرَنِى اْلمَسْعُوْدِيُّ عَنْ اَبِى بَكْرٍ قَالَ جَعَلَ اْليَمِيْنَ عَلَى الشّمَالِ. البخارى 2: 20
Dari ‘Abdullah bin Abu Bakar, ia mendengar ‘Abbad bin Tamim dari pamannya, ia berkata, “Nabi SAW pernah keluar ke mushalla untuk meminta hujan. Beliau menghadap qiblat, lalu shalat dua rekaat, dan membalik selendang beliau”. Sufyan (salah seorang perawi hadits ini) berkata : Mas’udiy mengkhabarkan kepadaku dari Abu Bakar, ia berkata, “(Yang dimaksud membalik selendang beliau ialah) mengalihkan yang sebelah kanan ke sebelah kiri”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 20]

قَالَ اَنَسٌ: اِنَّ رَجُلاً دَخَلَ اْلمَسْجِدَ يَوْمَ جُمُعَةٍ وَ رَسُوْلُ اللهِ ص قَائِمٌ يَخْطُبُ. فَاسْتَقْبَلَ رَسُوْلَ اللهِ ص قَائِمًا ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلَكَتِ اْلاَمْوَالُ وَ انْقَطَعَتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهَ يُغِثْنَا. فَرَفَعَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ: اَللّهُمَّ اَغِثْنَا، اَللّهُمَّ اَغِثْنَا، اَللّهُمَّ اَغِثْنَا. متفق عليه
Telah berkata Anas : Sesungguhnya ada seorang laki-laki masuk ke masjid pada hari Jum'at ketika Rasulullah SAW sedang berkhutbah. Lalu ia menghadap Rasulullah SAW sambil berdiri dan berkata : "Ya Rasulullah, telah binasa hewan-hewan dan terputus perjalanan, maka mohonlah kepada Allah, niscaya Allah memberi hujan kepada kita". Maka Rasulullah SAW pun mengangkat kedua tangannya dan berdoa, "Alloohumma aghitsnaa, Alloohumma aghitsnaa, Alloohumma aghitsnaa". (Ya Allah, berilah kami hujan. X 3 ) [HR. Muttafaq 'Alaih]

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ يَذْكُرُ اَنَّ رَجُلاً دَخَلَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ مِنْ بَابٍ كَانَ وُجَاهَ اْلمِنْبَرِ وَ رَسُوْلُ اللهِ ص قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَ رَسُوْلَ اللهِ ص قَائِمًا فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَلَكَتِ اْلمَوَاشِى وَ انْقَطَعَتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهَ يُغِيْثُنَا. قَالَ: فَرَفَعَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَدَيْهِ فَقَالَ: اَللّهُمَّ اسْقِنَا، اَللّهُمَّ اسْقِنَا، اَللّهُمَّ اسْقِنَا. قَالَ اَنَسٌ: وَ لاَ وَ اللهِ مَا نَرَى فِى السَّمَاءِ مِنْ سَحَابٍ وَ لاَ قَزَعَةً وَ لاَ شَيْئًا وَ مَا بَيْنَنَا وَ بَيْنَ سَلْعٍ مِنْ بَيْتٍ وَ لاَ دَارٍ. قَالَ: فَطَلَعَتْ مِنْ وَرَائِهِ سَحَابَةٌ مِثْلُ التُّرْسِ. فَلَمَّا تَوَسَّطَتِ السَّمَاءَ انْتَشَرَتْ ثُمَّ اَمْطَرَتْ. قَالَ: وَ اللهِ مَا رَأَيْنَا الشَّمْسَ سَبْتًّا. ثُمَّ دَخَلَ رَجُلٌ مِنْ ذَلِكَ اْلبَابِ فِى اْلجُمُعَةِ اْلمُقْبِلَةِ وَ رَسُوْلُ اللهِ ص قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَهُ قَائِمًا فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَلَكَتِ اْلاَمْوَالُ وَ انْقَطَعَتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهِ يُمْسِكُهَا. قَالَ: فَرَفَعَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ: اَللّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَ لاَ عَلَيْنَا، اَللّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَ اْلجِبَالِ وَ الظّرَابِ وَ اْلاَوْدِيَةِ وَ مَنَابِتِ الشَّجَرِ. قَالَ: فَانْقَطَعَتْ وَ خَرَجْنَا نَمْشِى فِى الشَّمْسِ. قَالَ شَرِيْكٌ: فَسَاَلْتُ اَنَسًا: اَ هُوَ الرَّجُلُ اْلاَوَّلُ. قَالَ: لاَ اَدْرِى. البخارى 2: 16
Dari Anas bin Malik, ia berkata : Pada suatuhari Jumat ada seorang laki-laki masuk ke masjid dari pintu yang berhadapan dengan mimbar, ketika Rasulullah SAW sedang berkhutbah.Orang itu berdiri di hadapan Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, hewan-hewan ternak telah binasa dan jalan-jalan terputus. Karena itu mohonlah kepada Allah semoga Dia menurunkan hujan kepada kita”. Anas berkata : Lalu Rasulullah SAW mengangkat tangan beliau dan berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami”, X 3. Anas berkata, “Demi Allah, semula kami tidak melihat di langit awan yang bergumpal maupun yang terpencar dan sesuatu (tanda-tanda akan turun hujan), dan tidak ada sebuah rumah maupun kampung antara kami dan bukit Sala’ (yang menutupi pandangan kami)“. Anas berkata, “Tetapi sebentar kemudian kami lihat awan naik dari belakang bukit seperti perisai. Setelah berada di tengah langit, awan itu lalu menyebar dan kemudian hujan pun turun”. Anas berkata, “Demi Allah, kami tidak dapat melihat matahari selama tujuh hari. Kemudian pada hari Jum’at berikutnya, ketika Rasulullah SAW sedang berkhutbah, ada seorang laki-laki datang dari pintu itu juga menghadap kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, telah binasa harta benda dan telah putus jalan-jalan. Karena itu berdoalah kepada Allah supaya Dia menghentikan hujan”. Anas berkata : Kemudian Rasulullah SAW mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan ini di sekitar kami dan tidak di atas kami. Ya Allah, turunkanlah di tempat-tempat yang tinggi, di gunung-gunung, di bukit-bukit, di tempat-tempat pengambilan air, dan di tempat-tempat pepohonan”. Anas berkata, “Maka berhentilah hujan tersebut, dan kami dapat keluar dan berjalan di bawah sinar matahari”. Syarik bertanya kepada Anas, “Apakah orang laki-laki yang datang itu orang yang dulu juga ?”. Anas berkata, “Aku tidak tahu”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 16]

Saturday, October 13, 2012

Shalat Sunnah Ba'diyah Jum'ah

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat Sunnah Ba'diyah jum'ah
Shalat Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW

Shalat Sunnah (Ba'diyah) Jum'ah


Shalat ba’diyah Jum’at apabila dikerjakan di masjid, 4 rakaat (2 rakaat salam, 2 rakaat salam).

عَنْ اَبِىْ هُرَ يْرَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمُ اْلجُمُعَةَ فَلْيُصَلّ بَعْدَهَا اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ. الجماعة الا البخارى
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi SAW pernah bersabda : "Apabila seseorang diantara kalian shalat Jum'ah, maka hendaklah shalat sesudah itu 4 rekaat". [HR Jama'ah, kecuali Bukhari].

عَنْ اَبِىْ هُرَيْرَةَ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمُ اْلجُمُعَةَ فَلْيُصَلّ بَعْدَهَا اَرْبَعًا. مسلم 2: 600
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seseorang diantara kalian shalat Jum'ah, maka hendaklah shalat sesudah itu 4 raka'at". [HR Muslim juz 2, hal. 600].
Bila dikerjakan di rumah, 2 raka'at

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يُصَلّى بَعْدَ اْلجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ فِى بَيْتِهِ. الجماعة
Dari Ibnu 'Umar RA, bahwasanya Nabi SAW biasa shalat sesudah Jum'ah 2 rekaat di rumahnya. [HR. Jama'ah].

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ يُصَلّي قَبْلَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ وَ بَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ وَ بَعْدَ اْلمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ فِيْ بَيْتِهِ وَ بَعْدَ اْلعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ وَ كَانَ لاَ يُصَلّي بَعْدَ اْلجُمُعَةِ حَتَّى يَنْصَرِفَ فَيُصَلّى رَكْعَتَيْنِ. البخارى 1: 225
Dari ‘Abdullah bin 'Umar bahwasanya Rasulullah SAW dahulu shalat sebelum Dhuhur dua raka’at dan sesudahnya dua raka’at, dan sesudah Maghrib dua raka’at di rumahnya, dan sesudah ‘Isyak dua raka’at. Dan beliau tidak shalat sesudah Jum’at melainkan setelah pulang, beliau lalu shalat dua raka’at. [HR. Bukhari juz 1, hal. 225].

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ اَنَّهُ كَانَ اِذَا صَلَّى اْلجُمُعَةَ، انْصَرَفَ، فَصَلَّى سَجْدَتَيْنِ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَصْنَعُ ذلِكَ. ابن ماجه: 1: 358، رقم: 1130 
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, bahwasanya dia apabila selesai shalat Jum’at, lalu pulang, kemudian shalat dua reka’at di rumahnya. Kemudian ia berkata, “Dahulu Rasulullah SAW melakukan yang demikian itu”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 358, no. 1130]
Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra.: Bahwa setelah mengerjakan salat Jumat, ia pulang dan mengerjakan salat sunat dua rakaat di rumah. Kemudian ia berkata: Dulu Rasulullah saw. berbuat demikian. (Shahih Muslim No.1460)
Keterangan :
Shalat sunnah sesudah Jum'ah, Nabi SAW mengerjakannya 2 rekaat di rumahnya. Sedang menurut hadits yang pertama shalat ba'diyah Jum'ah itu 4 rekaat, maka ini bisa diambil suatu pengertian bahwa yang 4 rekaat itu dikerjakan di masjid

Shalat Sunnah Intidhar

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW

Shalat Sunnah Intidhar


Shalat sunnah intidhar ialah istilah untuk shalat sunnah yang dikerjakan sebelum imam naik ke mimbar/sebelum adzan pada hari Jum'at.

Waktunya : 
Sejak masuk masjid di hari Jum'at hingga imam naik ke mimbar/adzan diserukan.
Cara Pelaksanaan/Bilangan Rekaatnya :
Dua rekaat salam dua rekaat salam, dengan sirr (suara lembut) dan tidak terbatas bilangan rekaatnya, boleh dikerjakan menurut kemampuan dan kehendak masing-masing. Sabda Nabi SAW :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ اَتَى اْلجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدّرَ لَهُ، ثُمَّ اَنْصَتَ حَتَّى يَـْفُرغَ مِنْ خُطْبَتِهِ، ثُمَّ يُصَلّى مَعَهُ، غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَ بَيْنَ اْلجُمُعَةِ اْلاُخْرَى وَ فَضْلُ ثَلاَثَةِ اَيَّامٍ. مسلم 2: 587 
Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa mandi di hari Jum'at kemudian datang ke shalat Jum’at, lalu shalat seberapa ia mampu, kemudian diam sehingga khatib selesai berkhutbah, lalu shalat bersama imam, niscaya diampuni dosanya antara dua Jum'at dan tiga hari sesudahnya. [HR. Muslim 2 : 587].

Shalat Sunnah Thahur

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW

Shalat Sunnah Thahur


Shalat sunnah Thahur adalah istilah yang diberikan untuk dua rekaat shalat sunnah yang dikerjakan sesudah wudlu, dan dengan dibaca sirr (tidak nyaring). Nabi SAW bersabda :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ اْلفَجْرِ: يَا بِلاَلُ حَدّثْنِى بِاَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِى اْلاِسْلاَمِ. فَاِنّى سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِى اْلجَنَّةِ. قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلاً اَرْجَى عِنْدِى اَنّى لَمْ اَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِى سَاعَةِ لَيْلٍ اَوْ نَهَارٍ اِلاَّ صَلَّيْتُ بِذلِكَ الطُّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِيْ اَنْ اُصَلّىَ. البخارى
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda kepada Bilal ketika selesai shalat Shubuh, "Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalan yang paling besar dan memberi harapan yang telah kamu kerjakan di dalam Islam. Karena aku mendengar suara sandalmu di hadapanku di dalam surga". Bilal menjawab, "Tak ada suatu amal yang banyak memberikan harapan selain daripada aku tidak berwudlu dengan sesuatu wudlu, baik di waktu malam maupun siang, melainkan aku mengerjakan shalat dengan wudlu itu dengan shalat yang ditetapkan untukku (yaitu dua raka'at sunnah Thahur)". [HR. Bukhari juz 2, hal. 48].

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ اْلغَدَاةِ: يَا بِلاَلُ، حَدّثْنِى بِاَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ عِنْدَكَ فِى اْلاِسْلاَمِ مَنْفَعَةً. فَاِنّى سَمِعْتُ اللَّيْلَةَ خَشْفَ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِى اْلجَنَّةِ. قَالَ بِلاَلٌ: مَا عَمِلْتُ عَمَلاً فِى اْلاِسْلاَمِ اَرْجَى عِنْدِى مَنْفَعَةً مِنْ اَنّى لاَ اَتَطَهَّرُ طُهُوْرًا تَامًّا فِى سَعَةٍ مِنْ لَيْلٍ وَ لاَ نَهَارٍ اِلاَّ صَلَّيْتُ بِذلِكَ الطُّهُوْرِ مَا كَتَبَ اللهُ لِى اَنْ اُصَلّيَ. مسلم 
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda kepada Bilal ketika selesai shalat Shubuh, “Hai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalan yang paling besar manfaatnya dan memberi harapan yang telah kamu kerjakan di dalam Islam. Karena tadi malam (aku bermimpi) mendengar suara sandalmu di hadapanku di surga”. Bilal menjawab, “Tidak ada suatu amal yang banyak memberikan manfaat dan harapan di dalam Islam selain daripada aku tidak wudlu dengan wudlu yang sempurna di waktu malam maupun siang melainkan aku mengerjakan shalat dengan wudlu itu dengan shalat yang Allah tetapkan untukku (yaitu 2 rekaat shalat sunnah thahur)”. [HR.Muslim juz 4, hal. 1910]

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Selesai salat Subuh, Rasulullah saw. bertanya kepada Bilal: Wahai Bilal! Ceritakan kepadaku tentang perbuatan yang paling bermanfaat yang telah kamu lakukan setelah memeluk Islam. Karena semalam aku mendengar suara langkah sandalmu di depanku dalam surga. Bilal berkata: Aku tidak pernah melakukan suatu amalan yang paling bermanfaat setelah memeluk Islam selain aku selalu berwudu dengan sempurna pada setiap waktu malam dan siang kemudian melakukan salat sunat dengan wuduku itu sebanyak yang Allah kehendaki. (Shahih Muslim No.4497)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal: "Hai Bilal, beritahukanlah kepada saya dengan suatu amalan yang paling engkau harapkan pahalanya serta yang engkau amalkan dalam Islam, karena sesungguhnya saya mendengar suara derap kedua terompah -sandal- mu di mukaku di dalam syurga." Bilal menjawab: "Saya tidak melakukan sesuatu amalan yang lebih saya harapkan di sisiku daripada kalau saya habis berwudhu' baik pada waktu malam ataupun siang, melainkan saya tentu shalat dengan wudhu' ku itu, sebagaimana yang ditentukan untukku -yakni setiap habis berwudhu' lalu melakukan shalat sunnah wudhu'-." (Muttafaq 'alaih) Ini adalah lafaznya Imam Bukhari. Addaffu dengan fa' ialah suara terompah -sandal- dan gerakannya di atas bumi. 
 
Wallahu a'lam.

Friday, October 12, 2012

Shalat Sunnah Dluha

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW

Shalat Sunnah Dluha


Shalat sunnah Dluha ialah : Istilah yang diberikan untuk shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu Dluha.

Bilangan rakaat / cara pelaksanaannya :
  • Dua rakaat hingga delapan rakaat (dua rakaat lalu salam, dua rakaat lalu salam dan seterusnya)
  • Dengan suara sirr (suara lembut).
Dalil-dalil pelaksanaan :

قَالَ اَبُوْ هُرَيْرَةَ: اَوْصَانِىْ خَلِيْلِى ص بِثَلاَثٍ: بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ اَيَّامٍ فِى شَهْرٍ وَ رَكْعَتَيِ الضُّحَى وَ اَنْ اُوْتِرَ قَبْلَ اَنْ اَنَامَ. البخارى و مسلم
Telah berkata Abu Hurairah RA, “Kekasih saya (Nabi Muhammad SAW) telah berwasiat kepada saya dengan tiga perkara yaitu : 1. Puasa tiga hari tiap-tiap bulan. 2. Shalat Dluha dua rakaat, dan 3. Shalat witir sebelum tidur”. [HSR. Bukhari dan Muslim]

قِيْلَ لِعَائِشَةَ: اَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى الضُّحَى؟ قَالَتْ: نَعَمْ اَرْبَعًا وَ يَزِيْدُ مَا شَاءَ اللهُ. مسلم
Ada orang bertanya kepada 'Aisyah RA, “Apakah Rasulullah SAW shalat dluha ?”. Jawab Aisyah, “Ya, empat rakaat dan kadang-kadang beliau menambah dengan seberapa yang dikehendaki oleh Allah”. [HSR. Muslim]

قَالَتْ اُمُّ هَانِئٍ: قَامَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِلَى غُسْلِهِ فَسَتَرَتْ عَلَيْهِ فَاطِمَةُ ثُمَّ اَخَذَ ثَوْبَهُ فَاْلتَحَفَ بِهِ ثُمَّ صَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ سُبْحَةَ الضُّحَى. البخارى و مسلم
Telah berkata Ummu Hani', “Rasulullah SAW pernah mandi dengan ditutupi oleh Fathimah, kemudian beliau mengambil kainnya dan berselimut dengan itu setelah itu beliau shalat Dluha delapan rakaat”. [HSR. Bukhari dan Muslim]

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ اَبِى لَيْلَى قَالَ: مَا اَخْبَرَنِى اَحَدٌ اَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ ص يُصَلّى الضُّحَى اِلاَّ اُمُّ هَانِئٍ فَاِنَّهَا حَدَّثَتْ: اَنَّ النَّبِيَّ ص دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ. فصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، مَا رَأَيْتُهُ صَلَّى صَلاَةً قَطُّ اَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ اَنَّهُ كَانَ يُتِمُّ الرُّكُوْعَ وَ السُّجُوْدَ. مسلم
Dari ‘Abdur Rahman bin Abu Laila, ia berkata : Tidak ada seseorang yang mengkhabarkan kepadaku bahwa ia melihat Nabi SAW shalat Dluha kecuali Ummu Hani’. Sesungguhnya ia berkata, “Bahwasanya Nabi SAW masuk ke rumahnya pada waktu Fathu Makkah, kemudian beliau shalat Dluha delapan raka'at, saya tidak pernah melihat beliau shalat yang lebih ringan dari pada itu, namun beliau tetap menyempurnakan ruku’ dan sujudnya”. [HR. Muslim juz 1, hal. 497]

عَنْ اَبِى ذَرّ عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ قَالَ: يُصْبِحُ عَلَى كُلّ سُلاَمَى مِنْ اَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. فَكُلُّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ وَ كُلُّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ وَ كُلُّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ وَ كُلُّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ وَ اَمْرٌ بِاْلمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ وَ نَهْيٌ عَنِ اْلمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَ يُجْزِئُ مِنْ ذلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحى. مسلم
Dari Abu Dzarr, dari Nabi SAW, bahwasanya beliau bersabda, “Setiap pagi, tiap-tiap ruas sendi seseorang diantara kalian ada sadaqahnya. Maka setiap tasbih itu sadaqah, setiap tahmid itu sadaqah, setiap tahlil itu sadaqah dan setiap takbir itu sadaqah, amar ma’ruf itu sadaqah, nahi munkar itu sadaqah, dan mencukupi yang demikian itu dengan shalat Dluha dua rekaat”. [HR. Muslim juz 1, hal. 498]

عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: فِى اْلاِنْسَانِ سِتُّوْنَ وَ ثَلاَثُمِائَةِ مِفْصَلٍ، فَعَلَيْهِ اَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلّ مِفْصَلٍ مِنْهَا صَدَقَةً. قَالُوْا: فَمَنِ الَّذِى يُطِيْقُ ذلِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اَلنَّخَاعَةُ فِى اْلمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا اَوِ الشَّيْءُ تُنَحّيْهِ عَنِ الطَّرِيْقِ، فَاِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ. احمد
Dari Buraidah, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Dalam diri manusia itu ada 360 persendian, yang ia harus bersadaqah untuk tiap-tiap persendian itu”. Para shahabat bertanya, “Lalu siapa orang yang mampu mengerjakan yang demikian itu, ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Engkau menanam dahak yang berada di masjid (itu merupakan sadaqah), atau engkau menyingkirkan gangguan yang ada di jalan (itu merupakan sadaqah), jika kamu tidak mampu, maka mengerjakan shalat Dluha dua rekaat itu mencukupi bagimu”. [HR. Ahmad juz 9, hal. 20, no. 23059]

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: مَنْ صَلَّى الضُّحَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللهُ لَهُ قَصْرًا مِنْ ذَهَبٍ فِى اْلجَنَّةِ. ابن ماجه : ، ضعيف لانه فى اسناده موسى بن انس هو مجهول
Dari Anas bin Malik, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang shalat Dluha dua belas rekaat, Allah akan membangunkan untuknya istana emas di surga”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 439, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Musa bin Anas, ia majhul]

Keterangan : 
Hadits yang menerangkan shalat Dluha 12 rekaat ini dla’if, maka tidak bisa diamalkan.

Hadits ke-252 : 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam biasanya sholat Dluha empat rakaat dan menambah seperti yang dikehendaki Allah. Riwayat Muslim.
Hadits ke-253 : Menurut riwayat Muslim dari 'Aisyah: Bahwa 'Aisyah pernah ditanya: Apakah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam biasa menunaikan sholat Dluha? Ia menjawab: Tidak, kecuali bila beliau pulang dari bepergian. 

Hadits ke-254 : Menurut riwayat Muslim dari 'Aisyah: Aku tidak melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dengan tetap melakukan sholat Dluha, tetapi sungguh aku melakukannya dengan tetap. 

Hadits ke-256 : Dari Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa menunaikan sholat Dluha dua belas rakaat niscaya Allah membangunkan sebuah istana untuknya di surga." Hadits Gharib diriwayatkan oleh Tirmidzi. 

Hadits ke-257 : 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam masuk ke rumahku, kemudian beliau sholat Dluha delapan rakaat. Riwayat Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya.

Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW

Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid

Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid ialah: Istilah yang diberikan bagi shalat sunnah ketika memasuki sebuah masjid/surau/langgar dan dikerjakan sebelum duduk.

Cara Pelaksanaannya :
Dua rakaat dan dengan bacaan sirr (tidak nyaring)
Dalil pelaksanaannya :

عَنْ اَبِى قَتَادَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا دَخَلَ اَحَدُكُمُ اْلمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلّيَ رَكْعَتَيْنِ. البخارى و مسلم
Dari Abu Qatadah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang dari kamu masuk masjid, maka janganlah ia duduk sebelum shalat dua rakaat”. [HSR. Bukhari dan Muslim]

قَالَ اَبُوْ سَعِيْدٍ: اِنَّ رُجُلاً دَخَلَ اْلمَسْجِدَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَخْطُبُ عَلَى اْلمِنْبَرِ فَأَمَرَهُ اَنْ يُصَلّيَ رَكْعَتَيْنِ. الترمذى
Telah berkata Abu Sa'id, “Sesungguhnya seorang laki-laki pernah masuk ke masjid pada hari Jum'at, pada waktu itu Rasulullah SAW sedang berkhutbah di atas mimbar, maka beliau memerintahkan kepada orang tersebut, untuk shalat dua rakaat”. [HSR. Tirmidzi]

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: دَخَلَ رُجُلٌ اْلمَسْجِدَ وَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَخْطُبُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ فَقَالَ: اَ صَلَّيْتَ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: قُمْ فَصَلّ الرَكْعَتَيْنِ. مسلم 2: 596
Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata : Ada seorang laki-laki masuk masjid ketika Rasulullah SAW sedang berkhutbah pada hari Jum'at. Kemudian beliau bertanya, “Apakah kamu sudah shalat ?”. Orang tersebut menjawab, “Belum”. Beliau bersabda, “Berdirilah, dan shalatlah dua rekaat”. [HSR. Muslim juz 2, hal. 596]
 
Demikian pula, sabda Nabi SAW :

اِذَا جَاءَ اَحَدُكُمْ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَاْلاِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَ لْيَتَجَوَّزْ فِيْهَا. مسلم
Apabila seseorang dari padamu datang (ke masjid) pada hari Jum'at, dan ketika itu imam sedang berkhutbah, maka hendaklah ia shalat dua rakaat dengan ringkas. [HSR. Muslim]

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: جَاءَ سُلَيْكٌ اْلغَطَفَانِيُّ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَخْطُبُ، فَجَلَسَ. فَقَالَ لَهُ: يَا سُلَيْكُ، قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَ تَجَوَّزْ فِيْهِمَا. ثُمَّ قَالَ: اِذَا جَاءَ اَحَدُكُمْ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَاْلاِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَ لْيَتَجَوَّزْ فِيْهِمَا. مسلم 2: 597
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata : Sulaik Al-Ghathafaaniy datang ke masjid pada hari Jum’at lalu duduk, pada waktu itu Rasulullah SAW sedang berkhutbah. Lalu beliau bersabda, “Hai Sulaik, berdirilah, shalatlah 2 rekaat, dan ringankanlah”. Kemudian beliau bersabda lagi, “Apabila seseorang diantara kalian datang (ke masjid) pada hari Jum'at, dan ketika itu imam sedang berkhutbah, maka hendaklah ia shalat dua raka'at dengan ringan”. [HSR. Muslim juz 2, hal. 597]

Dari Abu Qatadah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau salah seorang diantara engkau semua itu masuk masjid, maka janganlah duduk dulu sebelum shalat dua rakaat." (Muttafaq 'alaih)

Dari Jabir r.a., katanya: "Saya mendatangi Nabi s.a.w. dan ia berada di masjid, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Bershalatlah dua rakaat." (Muttafaq 'alaih)

Thursday, October 11, 2012

Tuntunan Mengucapkan Salam

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita mengucapkan salam yang sesuai tuntunan nabi Allah swt, dan apasaja keutamaanya, dan larangannya memberi salam maupun menjawab salam.
Tuntunan Mengucapkan Salam
Salam

1. Hakikat Salam

Salah satu dari keindahan ajaran Islam adalah bahwa Islam mengajarkan kepada setiap pemeluknya untuk mengucapkan salam setiap kali bertemu dengan saudaranya sesama muslim, baik ketika memasuki rumah atau memasuki majlis. Salam menurut ajaran Islam pada hakikatnya adalah doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT untuk keselamatan dan kesejahteraan saudara kita yang kita jumpai.

Bila seorang muslim mengucapkan "Assalaamu 'alaikum wa rohmatulloohi wa barokaatuh", ini artinya ia mendoakan agar saudaranya itu mendapatkan keselamatan, rahmat dan barakah dari Allah SWT.

Oleh sebab itu salam tersebut khusus bagi ummat Islam. Dan ummat Islam dilarang mendoakan keselamatan bagi orang yang bukan muslim, berdasarkan firman Allah :

مَا كَانَ لِلنَّبِيّ وَ الَّذِيْنَ امَنُوْآ اَنْ يَّسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَ لَوْ كَانُوْآ اُولِيْ قُرْبى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُمْ اَصْحٰبُ اْلجَحِيْمِ. التوبة:113
Tidaklah pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun untuk orang-orang musyrik sekalipun mereka itu adalah sanak kerabatnya setelah nyata bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam. [QS. At-Taubah : 113]

2. Keutamaan Salam

Setiap perintah, anjuran atau larangan dari Islam pasti mengandung hikmah demi kebaikan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Hikmah dari ajaran Islam itu adakalanya dijelaskan dengan tegas oleh Allah atau Rasul-Nya, ada pula yang tidak dijelaskan, tetapi kita meyakininya bahwa semua yang dari Allah dan Rasul-Nya itu pasti baik.

Salam juga merupakan suatu cara untuk memulihkan hubungan yang tidak baik antara sesama muslim. Seorang muslim dilarang mendiamkan sesama muslim lebih dari tiga hari. Dan bila hal yang tidak diinginkan itu terjadi juga, Islam memberikan suatu cara untuk memperbaikinya, sebagaimana disebutkan dalam hadits :

عَنْ اَبِى اَيُّوْبَ اْلاَنْصَارِيّ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ اَنْ يَهْجُرَ اَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هٰذَا وَ يُعرِضُ هٰذَا، وَ خَيْرُهُمَا الَّذِى يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ. مسلم 4: 1983
Dari Abu Ayyub Al-Anshariy bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam, keduanya bertemu lalu yang satu berpaling dan yang lain berpaling juga. Dan yang paling baik diantara keduanya adalah yang memulai memberi salam". [HR. Muslim juz 4, hal. 1983]

Adapun hadits tentang keutamaan salam antara lain :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ اْلعَاصِ رض اَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ ص: اَيُّ اْلاِسْلاَمِ خَيْرٌ؟ قَالَ: تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَ تَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَ مَنْ لَمْ تَعْرِفْ. البخارى و مسلم و ابو داود و النسائى و ابن ماجه، فى الترغيب و الترهيب 3: 424
Dari Abdullah bin 'Amr bin 'Ash RA, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, "(Ya Rasulullah), Islam yang bagaimanakah yang lebh baik ?". Beliau SAW menjawab, "(Islam yang paling baik ialah) kamu memberi makan (kepada orang lain) dan menebarkan salam kepada orang yang sudah kamu kenal maupun orang yang belum kamu kenal". [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasai dan Ibnu Majah, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 424]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوا اْلجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا وَ لاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا، اَلاَ اَدُلُّكُمْ عَلَى اَمْرٍ اِذَا اَنْتُمْ فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ اَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ. الترمذى 4: 156، هذا حديث حسن صحيح
Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Demi Tuhan yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, kalian tidak masuk surga sehingga kalian beriman dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling berkasih-sayang. Maukah aku tunjukkan kepada kalian pada suatu perkara apabila kalian mengamalkannya kalian akan saling berkasih sayang? Tebarkanlah salam diantara kalian!". [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 156, hadits ini hasan shahih]

عَنِ ابْنِ الزُّبَيْرِ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: دَبَّ اِلَيْكُمْ دَاءُ اْلاُمَمِ قَبْلَكُمْ. اَلْبَغْضَاءُ وَ اْلحَسَدُ، وَ اْلبَغْضَاءُ هِيَ اْلحَالِقَةُ، لَيْسَ حَالِقَةُ الشَّعْرِ، وَ لكِنْ حَالِقَةُ الدّيْنِ، وَ الَّذِىْ نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوْنَ اْلجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا، وَ لاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا. اَلاَ اُنَبّئُكُمْ بِمَا يُثْبِتُ لَكُمْ ذلِكَ؟ اَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ. البزار باسناد جيد، فى الترغيب و الترهيب 3: 424
Dari Ibnu Zubair RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Akan menjangkit kepada kalian penyakit umat-umat sebelum kalian. Yaitu kebencian dan kedengkian. Kebencian itu adalah pencukur, Bukan pencukur rambut, tetapi pencukur agama. Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, kamu sekalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman. Dan kalian tidak beriman sehingga saling mencintai. Maukah kalian kuberitahu sesuatu yang bisa memantapkan kalian pada yang demikian itu? Yaitu tebarkanlah salam diantara kalian". [HR. Al-Bazzar dengan sanad jayyid, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 424]

عَنْ شَيْبَةَ اْلحُجَبِيّ عَنْ عَمّهِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: ثَلاَثٌ يُصْفِيْنَ لَكَ وُدَّ اَخِيْكَ تُسَلّمُ عَلَيْهِ اِذَا لَقِيْتَهُ وَ تُوَسّعُ لَهُ فِى اْلمَجْلِسِ وَ تَدْعُوْهُ بِاَحَبّ اَسْمَائِهِ اِلَيْهِ. الطبرانى فى الاوسط، فى الترغيب و الترهيب 3: 425
Dari Syaibah Al-Hujabiy dari pamannya RA, ia berkata, "Ada tiga hal yang membuatmu tulus mencintai saudaramu, yaitu kamu mengucapkan salam kepadanya apabila bertemu dengannya, kamu memberi tempat kepadanya dalam majlis, dan kamu memanggil dengan nama yang paling ia sukai". [HR. Thabrani, di dalam Al-Ausath, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 425]

عَنِ اْلبَرَاءِ رض عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: اَفْشُوا السَّلاَمَ تَسْلَمُوْا. ابن حبان فى صحيحه، فى الترغيب و الترهيب 3: 425
Dari Al-Baraa' RA dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Tebarkanlah salam, niscaya kalian selamat". [HR. Ibnu Hibban di dalam shahihnya, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 425]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اُعْبُدُوا الرَّحْمٰنَ وَ اَفْشُوا السَّلاَمَ وَ اَطْعِمُوا الطَّعَامَ تَدْخُلُوا اْلجِنَانَ. الترمذى و صححه و بن حبان فى صحيحه و اللفظ له، فى الترغيب و الترهيب 3: 425
Dari Abdullah bin 'Amr RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Sembahlah Allah yang Maha Rahman, tebarkanlah salam dan berikanlah makan, niscaya kalian masuk surga". [HR. Tirmidzi dan ia menshahihkannya. Dan Ibnu Hibban di dalam shahihnya, lafadh ini baginya, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 425]

عَنْ اَبِى شُرَيْحٍ رض اَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَخْبِرْنِى بِشَيْءٍ يُوْجِبُ لِى اْلجَنَّةَ. قَالَ: طِيْبُ اْلكَلاَمِ وَ بَذْلُ السَّلاَمِ وَ اِطْعَامُ الطَّعَامِ. الطبرانى و ابن حبان فى صحيحه و الحاكم و صححه، فى الترغيب و الترهيب 3: 425
Dari Abu Syuraih RA, ia berkata, "Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku sesuatu yang menyebabkan aku masuk surga". Beliau SAW bersabda, "(Yang menyebabkan kamu masuk surga yaitu) ucapan yang baik, menebarkan salam dan memberi makan". [HR. Thabrani, Ibnu Hibban di dalam shahihnya dan Hakim, ia menshahihkannya, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 425]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: حَقُّ اْلمُسْلِمِ عَلَى اْلمُسْلِمِ خَمْسٌ. رَدُّ السَّلاَمِ وَ عِيَادَةُ اْلمَرِيْضِ وَ اتّبَاعُ اْلجَنَائِزِ وَ اِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَ تَشْمِيْتُ اْلعَاطِسِ. البخارى و مسلم و ابو داود، فى الترغيب و الترهيب 3: 426
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,"Haknya orang Islam atas orang Islam yang lain ada lima, yaitu : 1. menjawab salam, 2. menjenguk orang sakit, 3. mengantarkan jenazah, 4. mendatangi undangannya, dan 5. mendoakan orang yang bersin (apabila dia menyebut Alhamdu lillah)". [HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal 426]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: حَقُّ اْلمُسْلِمِ عَلَى اْلمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلّمْ عَلَيْهِ، وَ اِذَا دَعَاكَ فَاَجِبْهُ، وَ اِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَ اِذَا عَطِسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمّتْهُ، وَ اِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَ اِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ. مسلم 4: 1705
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Haknya orang Islam atas orang Islam yang lain itu ada enam. Lalu (beliau) ditanya, "Apasaja enam itu ya Rasulullah?". Beliau menjawab, "1. Apabila kamu bertemu dengannya ucapkanlah salam kepadanya, 2. Apabila dia mengundangmu maka datangilah, 3. Apabila dia minta nasehat kepadamu maka berilah nasehat, 4. Apabila dia bersin dan memuji Allah maka doakanlah dia, 5. Apabila dia sakit maka jenguklah, dan 6. Apabila dia meninggal maka antarkanlah jenazahnya". [HR. Muslim juz 4, hal. 1705]

3. Ucapan Salam Serta Jawabannya

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ اْلحُصَيْنِ رض قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ اِلَى النَّبِيّ ص فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَرَدَّ عَلَيْهِ ثُمَّ جَلَسَ. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: عَشْرٌ، ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ. فَرَدَّ فَجَلَسَ، فَقَالَ: عِشْرُوْنَ، ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ، فَرَدَّ فَجَلَسَ، فَقَالَ: ثَلاَثُوْنَ. ابو داود و الترمذى، و حسنه و النسائى و البيهقى و حسنه ايضا، فى الترغيب و الترهيب 3: 428
Dari 'Imran bin Hushain, ia berkata : Pernah seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu mengucapkan, "Assalaamu 'alaikum", maka Nabi SAW menjawabnya, kemudian orang tersebut duduk. Maka Nabi SAW bersabda, "(Baginya) sepuluh (pahala)". Kemudian orang lain datang dan mengucapkan, "Assalaamu 'alaikum wa rohmatullooh". Maka Nabi SAW menjawabnya, lalu orang tersebut duduk. Maka Nabi SAW bersabda, "(Baginya) dua puluh (pahala)". Kemudian datang seorang laki-laki yang lain dan mengucapkan, "Assalaamu 'alaikum wa rohmatulloohi wa barokaatuh". Maka Nabi SAW menjawabnya, lalu orang tersebut duduk. Maka Nabi SAW bersabda, "(Baginya) tiga puluh (pahala)". [HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan ia menghasankannya, Nasai dan Baihaqi dia juga menghasankannya, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 428]

عَنْ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ قَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ كُتِبَتْ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ. وَ مَنْ قَالَ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ كُتِبَتْ لَهُ عِشْرُوْنَ حَسَنَةً، وَ مَنْ قَالَ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ كُتِبَتْ لَهُ ثَلاَثُوْنَ حَسَنَةً. الطبرانى، فىالترغيب و الترهيب 3: 429
Dari Sahl bin Hunaif RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang mengucapkan Assalaamu 'alaikum, dicatat baginya sepuluh kebaikan. Barangsiapa mengucapkan Assalaamu 'alaikum wa rahmatullaah, dicatat baginya dua puluh kebaikan. Dan barangsiapa mengucapkan Assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, dicatat tiga puluh kebaikan untuknya". [HR. Thabrani, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 429]

Dari hadits diatas dapatlah diketahui bahwa ucapan salam yang menurut tuntunan adalah :
a. Assalaamu 'alaikum
b. Assalaamu 'alaikum wa rohmatullooh
c. Assalaamu 'alaikum wa rohmatulloohi wa barokaatuh
Ucapan yang terbaik dan akan mendapatkan pahala yang terbanyak adalah poin c.

Adapun cara menjawab salam, dianjurkan untuk membalas dengan yang lebih baik atau paling tidak sepadan, berdasarkan firman Allah :

وَ اِذَا حُيّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَا اَوْ رُدُّوْهَآ، اِنَّ اللهَ كَانَ عَلى كُلّ شَيْءٍ حَسِيْبًا. النساء:86
Dan apabila kamu dihormati dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. [QS. An-Nisaa' : 86]

Ayat tersebut memerintahkan kita menjawab salam dengan yang lebih baik dari yang kita terima. Bila seseorang memberi salam dengan ucapan Assalaamu 'alaikum, jawaban yang lebih baik adalah wa 'alaikumus salaam wa rohmatullooh, atau ditambah lagi hingga wa barokaatuh. Atau paling tidak dengan ucapanwa 'alaikumus salaam.

4. Aturan Memberi Salam

Seorang yang lebih muda dianjurkan memberi (memulai) salam kepada yang lebih tua. Seorang yang berjalan dianjurkan memberi salam kepada yang sedang duduk. Mereka yang sedikit jumlahnya dianjurkan memberi salam kepada yang lebih banyak. Orang yang berkendaraan dianjurkan mengucapkan salam lebih dahulu kepada yang berjalan. Perhatikanlah hadits-hadits berikut :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: يُسَلّمُ الصَّغِيْرُ عَلَى اْلكَبِيْرِ وَ اْلمَارُّ عَلَى اْلقَاعِدِ وَ اْلقَلِيْلُِ عَلَى اْلكَثِيْرِ. البخارى 7: 127
Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda, “(Hendaklah) orang yang muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, yang sedikit kepada yang banyak”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 127]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: يُسَلّمُ الرَّاكِبُ عَلَى اْلمَاشِى وَ اْلمَاشِى عَلَى اْلقَاعِدِ وَ اْلقَلِيْلُ عَلَى اْلكَثِيْرِ. البخارى 7: 127
Dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “(Hendaklah) orang yang naik kendaraan memberi salam kepada orang yang berjalan kaki, (sedangkan) orang yang berjalan kaki memberi salam kepada orang yang duduk, dan kelompok yang sedikit memberi salam kepada yang banyak”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 127]

5. Yang Paling Baik yang Memulai Salam

Jika kita berpapasan dengan saudara kita di jalan atau di manasaja, sebaiknya kitalah yang mendahului mengucapkan salam, karena yang demikian ini yang lebih baik :

عَنْ اَبِى اُمَامَةَ قَالَ: قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، الرَّجُلاَنِ يَلْتَقِيَانِ، اَيُّهُمَا يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ؟ قَالَ: اَوْلاَهُمَا بِاللهِ. الترمذى هذا حديث حسن 4: 159
Dari Abu Umamah, ia berkata : Ditanyakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, ada dua orang yang bertemu, lalu manakah yang lebih dahulu memberi salam diantara keduanya?”. Beliau SAW menjawab, “Orang yang lebih baik diantara keduanya bagi Allah”. [HR. Tirmidzi, Ini haidts hasan juz 4, hal. 159]

6. Salam Ketika Datang di Majlis atau Ketika Meninggalkan

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا انْتَهَى اَحَدُكُمْ اِلَى اْلمَجْلِسِ فَلْيُسَلّمْ، اِذَا اَرَادَ اَنْ يَقُوْمَ فَلْيُسَلّمْ. فَلَيْسَتِ اْلاُوْلَى بِاَحَقَّ مِنَ اْلآخِرَةِ. ابو داود 4: 353
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang dari kalian tiba di majlis, hendaklah mengucapkan salam. Dan apabila ia ingin meninggalkan majlis, maka hendaklah mengucapkan salam. Maka yang pertama tidaklah lebih berhaq dari yang akhir”. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 353]

7. Pria boleh Memberi Salam Kepada Wanita dan Sebaliknya

Seorang laki-laki dibenarkan mengucapkan salam kepada wanita ketika mereka bertemu di jalan dan sebagainya. Begitu pula sebaliknya, wanita boleh memberi salam kepada orang laki-laki :

عَنْ اَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيْدَ قَالَتْ: اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص مَرَّ فِى اْلمَسْجِدِ يَوْمًا وَ عُصْبَةٌ مِنَ النّسَاءِ قُعُوْدٌ، فَاَلْوَى بِيَدِهِ بِالتَّسْلِيْمِ. الترمذى 4: 160، هذا حديث حسن
Dari Asma’ binti Yazid, ia berkata : Bahwasanya Rasulullah SAW melewati masjid pada suatu hari, dan (di sana ada) sekelompok wanita sedang duduk, lalu Nabi SAW berisyarat dengan tangannya sambil memberi salam”. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 160, ini hadits hasan]

8. Ucapkanlah Salam Kepada Keluarga

Memberi salam bukan hanya kepada orang lain dan tidak pula khusus untuk memasuki rumah orang lain saja, tetapi dianjurkan juga ketika kita akan memasuki rumah sendiri. Oleh karena itu lakukanlah hal ini seperti anjuran Nabi SAW kepada Anas sebagaimana dalam riwayat berikut :

عَنْ اَنَسٍ قَالَ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ ص: يَا بُنَيَّ اِذَا دَخَلْتَ عَلَى اَهْلِكَ فَسَلّمْ تَكُنْ بَرَكَةً عَلَيْكَ وَ عَلَى اَهْلِ بَيْتِكَ. الترمذى 4: 161 هذا حديث حسن صحيح
Dari Anas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Hai anakku, apabila kamu masuk ke rumah keluargamu maka berilah salam, karena ia akan menjadi barakah untukmu dan untuk keluargamu”. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 161, ini hadits hasan shahih]

9. Mengucapkan Salam Kepada Anak-anak

Jika kita melewati anak-anak yang sedang bermain atau bertemu mereka di jalan dianjurkan mengucapkan salam kepada mereka, sebagaimana riwayat berikut ini :

عَنْ سَيَّارٍ قَالَ: كُنْتُ اَمْشِى مَعَ ثَابِتٍ اْلبُنَانِيّ فَمَرَّ بِصِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ وَ حَدَّثَ ثَابِتٌ اَنَّهُ كَانَ يَمْشِى مَعَ اَنَسٍ فَمَرَّ بِصِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ، وَ حَدَّثَ اَنَسٌ اَنَّهُ كَانَ يَمْشِى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص فَمَرَّ بِصِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ. مسلم 4: 1708
Dari Sayyar, ia berkata, “Dahulu aku berjalan bersama Tsabit Al-Bunaniy, lalu melewati sekumpulan anak-anak, kemudian ia memberi salam kepada mereka. Kemudian Tsabit bercerita, bahwasanya dahulu dia berjalan bersama Anas, lalu melewati anak-anak, kemudian Anas memberi salam kepada mereka. Dan Anas menceritakan, bahwasanya ia dahulu berjalan bersama Rasulullah SAW lalu melewati anak-anak, kemudian Rasulullah SAW memberi salam kepada mereka”. [HR. Muslim juz 7, hal. 1708]

10. Berkirim Salam serta Jawabnya

Jika ada seorang Islam berkirim salam kepada kita melalui orang lain, maka wajib bagi kita membalas salamnya itu :

عَنْ غَالِبٍ قَالَ: اِنَّا لَجُلُوْسٌ بِبَابِ اْلحَسَنِ، اِذْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ: حَدَّثَنِى اَبِى عَنْ جَدّى قَالَ: بَعَثَنِى اَبِى اِلَى رَسُوْلِ اللهِ ص، فَقَالَ: اِئْتِهِ فَاَقْرِئْهُ السَّلاَمَ، قَالَ: فَاَتَيْتُهُ فَقُلْتُ: اِنَّ اَبِى يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ، فَقَالَ: عَلَيْكَ وَ عَلَى اَبِيْكَ السَّلاَمُ. ابو داود 4: 358
Dari Ghalib ia berkata : Dahulu kami sedang duduk di pintunya Al-Hasan (Al-Bashriy), tiba-tiba seorang laki-laki datang lalu berkata, “Ayahku menceritakan kepadaku, bersumber dari kakekku, ia berkata, “Ayahku menyuruhku datang kepada Rasulullah SAW”. Ia berkata, “Datanglah kepada beliau dan sampaikanlah salamku kepada beliau”. Ia berkata : Lalu aku datang kepada beliau dan berkata, “Sesungguhnya ayahku mengucapkan salam kepadamu”. Maka Nabi SAW menjawab, “ ‘Alaika wa ‘alaa abiikas salaam (Semoga keselamatan atas kamu dan atas bapakmu)”. [HR, Abu Dawud juz 4, hal. 358]

عَنْ اَبِى سَلَمَةَ ابْنِ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ اَنَّ عَائِشَةَ رض حَدَّثَتْهُ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ لَهَا: اِنَّ جِبْرِيْلَ يُقْرِئُكِ السَّلاَمَ. قَالَتْ: وَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَ رَحْمَةُ اللهِ. البخارى 7: 132
Dari Abu Salamah ibnu 'Abdurrahman, bahwasanya ‘Aisyah RA menceritakan kepadanya : Bahwasanya Nabi SAW bersabda kepada ‘Aisyah, “Sesungguhnya Jibril berkirim salam kepadamu”. Lalu ‘Aisyah menjawab, “Wa ‘alaihis-salaam wa rohmatullooh (Semoga keselamatan dan rahmat Allah atasnya)”. [HR. Bukhari juz 7, hal 132]

11. Larangan Menjawab Salam Ketika Sedang Buang Air

Bila ada seseorang memberi salam kepada kita sedang waktu itu kita berada di kamar kecil sedang buang air, maka kita tidak perlu menjawab salamnya. Rasulullah SAW memberikan contoh kepada kita, sebagaimana riwayat di bawah ini:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَجُلاً سَلَّمَ عَلَى النَّبِيّ ص وَ هُوَ يَبُوْلُ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ. الترمذى 1: 61
Dari Ibnu ‘Umar, bahwasanya ada seorang laki-laki memberi salam kepada Nabi SAW diwaktu beliau buang air kecil (kencing), maka beliau tidak menjawabnya”.[HR. Tirmidzi juz 1, hal. 61]

12. Larangan Memberi Salam Kepada Orang Kafir

Salam, hanya kita ucapkan kepada saudara kita yang beragama Islam, tidak dibenarkan kita mengucapkan salam kepada mereka yang bukan muslim. Perhatikan riwayat berikut :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لاَ تَبْدَؤُا اْليَهُوْدَ وَ لاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ. مسلم 4: 1707
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Janganlah kamu memulai (memberi) salam kepada orang Yahudi dan Nasrani”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1707]

Larangan Nabi SAW tersebut dapat dimengerti, karena hakikat salam itu adalah doa keselamatan yang kita berikan kepada saudara kita. Sedang doa keselamatan itu hanya dibenarkan untuk sesama muslim saja, sebagaimana firman Allah :

مَا كَانَ لِلنَّبِيّ وَ الَّذِيْنَ امَنُوْآ اَنْ يَّسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْآ اُولِيْ قُرْبى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُمْ اَصْحَابُ اْلجَحِيْمِ. التوبة:113
Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun untuk orang-orang musyrikin, sekalipun mereka itu adalah sanak kerabatnya setelah nyata bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam. [QS. At-Taubah : 113]

13. Jawaban Apabila Diberi Salam oleh Orang Kafir

Jika orang Nashrani atau Yahudi serta orang kafir lainnya memberi salam kepada kita, maka kita jawab salam mereka itu dengan perkataan wa ‘alaika atau wa ‘alaikum. Nabi SAW mengajarkan kita melakukan yang demikian itu sebagaimana hadits di bawah ini :

عَنْ اَنَسٍ اَنَّ اَصْحَابَ النَّبِيّ ص قَالُوْا لِلنَّبِيّ ص: اِنَّ اَهْلَ اْلكِتَابِ يُسَلّمُوْنَ عَلَيْنَا، فَكَيْفَ نَرُدُّ عَلَيْهِمْ؟ قَالَ: قُوْلُوْا وَ عَلَيْكُمْ. مسلم 4: 1706
Dari Anas, bahwasanya para shahabat Nabi SAW bertanya kepada Nabi SAW, “Sesungguhnya orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) memberi salam kepada kami, maka bagaimanakah kami menjawab (salam) mereka itu?”. Beliau menjawab, “Katakanlah Wa ‘alaikum”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1706]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمُ اْليَهُوْدُ فَاِنَّمَا يَقُوْلُ اَحَدُهُمْ: اَلسَّامُ عَلَيْكَ، فَقُلْ: وَ عَلَيْكَ. البخارى 7: 134
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Apabila orang Yahudi memberi salam kepadamu, maka hanyasanya seorang dari mereka itu berkata “As-saamu ‘alaika (Mudah-mudahan kematian atasmu)”. Maka katakanlah, “Wa ‘alaika (Dan atasmu juga)”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 134]

14. Boleh Mengucap Salam di Majlis Campuran Muslim dan Kafir

Bila kita berada dalam suatu pertemuan atau ketika kita melewati sekelompok orang atau memasuki rumah dimana terdapat orang muslim dan orang kafir, dibenarkan kita memberi salam kepada mereka.

عَنْ اُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص مَرَّ بِمَجْلِسٍ فِيْهِ اَخْلاَطٌ مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ اْليَهُوْدِ، فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ. الترمذى 4: 163، هذا حديث حسن صحيح
Dari Usamah bin Zaid, bahwasanya Nabi SAW pernah melewati suatu majlis dimana terdapat campuran orang-orang Islam dan Yahudi, maka beliau memberi salam kepada mereka. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 163, ini hadits hasan shahih]

عَنْ اُسَامَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص مَرَّ عَلَى مَجْلِسٍ فِيْهِ اَخْلاَطٌ مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُشْرِكِيْنَ عَبَدَةِ اْلاَوْثَانِ وَ اْليَهُوْدِ، فَسَلَّمَ عَلَيْهِمُ النَّبِيُّ ص. متفق عليه، فى رياض الصالحين
Dari Usamah RA, bahwasanya Nabi SAW melewati suatu majlis yang di dalamnya terdapat campuran orang-orang Islam, orang-orang musyrik penyembah berhala, dan orang-orang Yahudi, lalu Nabi SAW memberi salam kepada mereka. [HR. Bukhari dan Muslim, dalam Riyaadlus Shaalihiin]

Keterangan :
Dalam hadits itu disebutkan bahwa Nabi SAW memberi salam kepada “mereka”. Adapun yang dimaksud “mereka” dalam hal ini tentunya yang beragama Islam saja, tidak termasuk mereka yang bukan muslim. Jadi salam yang diucapkan Nabi SAW tersebut hanya ditujukan kepada kaum muslimin yang ada di situ.