Perbedaan Pendapat Tentang Makanan Yang Diharam

Saturday, November 24, 2012

Perbedaan Pendapat Tentang Makanan Yang Diharam

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Di post yang terdahulu telah kami jelaskan bahwa makanan yang diharamkan oleh Allah hanyalah empat macam, yaitu : bangkai, darah, daging babi dan sembelihan yang ketika disembelih disebut (nama) selain Allah (sembelihan bukan karena Allah). Adapun makanan yang diharamkan atau larangan dalam hadits, hukumnya hanyalah makruh (apabila dilakukan tidak berdosa, apabila ditinggalkan berpahala). Namun sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa selain empat macam yang disebutkan dalam Al-Qur’an, yang dilarang di dalam haditspun haram pula kita memakannya. Berikut Perbedaan Pendapat Tentang Makanan Yang Diharamkan berdasarkan Hadits-hadits tersebut sebagai berikut :


1. Larangan memakan keledai jinak :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض نَهَى النَّبِيُّ ص عَنْ لُحُوْمِ الْحُمُرِ اْلاَهْلِيَّةِ يَوْمَ خَيْبَرَ. البخارى 6: 229
Dari Ibnu ‘Umar RA, (ia berkata), “Nabi SAW melarang (memakan) daging himar jinak pada perang Khaibar”. [HR. Bukhari juz 6, hal. 229]

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: نَهَى النَّبِيُّ ص يَوْمَ خَيْبَرَ عَنْ لُحُوْمِ الْحُمُرِ وَ رَخَّصَ فِيْ لُحُوْمِ الْخَيْلِ. البخارى 6: 230
Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata, “Nabi SAW pada perang Khaibar melarang memakan daging himar (jinak), dan membolehkan memakan daging kuda”. [HR. Bukhari juz 6, hal. 230]

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ اَنَّ اَبَا اِدْرِيْسَ اَخْبَرَهُ اَنَّ اَبَا ثَعْلَبَةَ قَالَ: حَرَّمَ رَسُوْلُ اللهِ ص لُحُوْمَ الْحُمُرِ اْلاَهْلِيَّةِ. البخارى 6: 230
Dari ibnu Syihab bahwasanya Abu Idris mengkhabarkan kepadanya bahwa Abu Tsa’labah berkata, “Rasulullah SAW mengharamkan daging himar jinak”. [HR. Bukhari juz 6, hal. 230]

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص جَاءَهُ جَاءٍ فَقَالَ: اُكِلَتِ الْحُمُرُ ثُمَّ جَاءَهُ جَاءٍ فَقَالَ: اُكِلَتِ الْحُمُرُ ثُمَّ جَاءَهُ جَاءٍ فَقَالَ: اُفْنِيَتِ الْحُمُرُ، فَاَمَرَ مُنَادِيًا فَنَادَى فِى النَّاسِ: اِنَّ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْ لُحُوْمِ الْحُمُرِ اْلاَهْلِيَّةِ، فَاِنَّهَا رِجْسٌ. فَاُكْفِئَتِ الْقُدُوْرُ وَ اِنَّهَا لَتَفُوْرُ بِاللَّحْمِ. البخارى 6: 230
Dari Anas bin Maalik RA bahwasanya Rasulullah SAW kedatangan seorang laki-laki, lalu ia berkata, “Himar-himar banyak dimakan”. Lalu datang lagi seorang laki-laki, lalu ia berkata, “Himar-himar banyak dimakan”, lalu datang lagi seorang laki-laki, lalu ia berkata, “Himar-himar hampir habis”. Maka beliau menyuruh seorang penyeru untuk menyerukan kepada orang banyak, “Sesungguhnya Allah dan rasul-Nya melarang kalian memakan daging himar jinak, karena hal itu kotor”. Oleh karena itu orang-orang lalu menumpahkan periuk-periuk yang berisi daging (himar) yang dimasak tersebut. [HR. Bukhari juz 6,hal. 230]

عَنِ الشَّيْبَانِىّ قَالَ سَأَلْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ اَبِى اَوْفَى عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ اْلاَهْلِيَّةِ، فَقَالَ: اَصَابَتْنَا مَجَاعَةٌ يَوْمَ خَيْبَرَ وَ نَحْنُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص وَ قَدْ اَصَبْنَا لِلْقَوْمِ حُمُرًا خَارِجَةً مِنَ الْمَدِيْنَةِ فَنَحَرْنَاهَا، فَاِنَّ قُدُوْرَنَا لَتَغْلِى، اِذْ نَادَى مُنَادِى رَسُوْلِ اللهِ ص اَنِ اكْفَئُوا الْقُدُوْرَ وَ لاَ تَطْعَمُوْا مِنْ لُحُوْمِ الْحُمُرِ شَيْئًا. فَقُلْتُ: حَرَّمَهَا تَحْرِيْمَ مَاذَا؟ قَالَ تَحَدَّثْنَا بَيْنَنَا. فَقُلْنَا حَرَّمَهَا اَلْبَتَّةَ، وَ حَرَّمَهَا مِنْ اَجْلِ اَنَّهَا لَمْ تُخَمَّسْ. مسلم 3: 1538.
Dari Syaibaniy, ia berkata : Saya bertanya kepada ‘Abdullah bin Abu Aufa tentang daging keledai jinak, lalu dia menjawab, “Ketika kami bersama Rasulullah SAW pada perang Khaibar, kami ditimpa kelaparan, sedangkan kami mendapati keledai-keledai kepunyaan kaum tersebut (lari) keluar dari kota, lalu kami menangkapnya, kemudian kami menyembelihnya. Sungguh ketika periuk-periuk kami telah mendidih (daging sudah dimasak), tiba-tiba ada utusan Rasulullah SAW yang menyerukan, “Tumpahkanlah periuk-periuk kalian, dan janganlah kalian makan daging keledai tersebut sedikitpun”. Lalu saya (Syaibaniy) bertanya, “Beliau mengharamkannya dengan pengharaman yang bagaimana?”. (Abu ‘Aufa) berkata, “Lalu kami saling bertanya-tanya diantara kami, ada yang mengatakan bahwa beliau mengharamkannya selama-lamanya, dan ada juga yang mengatakan bahwa beliau mengharamkannya karena keledai-keledai itu belum dibagi”. [HR. Muslim juz 3, hal. 138]

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: اَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ ص اَنْ نُلْقِىَ لُحُوْمَ الْحُمُرِ اْلاَهْلِيَّةِ نِيْئَةً وَ نَضِيْجَةً ثُمَّ لَمْ يَأْمُرْنَا بِاَكْلِهِ. مسلم 3: 1539
Dari Al-Baraa’ bin ‘Aazib, ia berkata : Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk membuang daging-daging keledai jinak yang masih mentah maupun yang sudah matang. Kemudian beliau tidak menyuruh kami untuk memakannya”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1539]

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الاَكْوَعِ قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص اِلَى خَيْبَرَ ثُمَّ اِنَّ اللهَ فَتَحَهَا عَلَيْهِمْ، فَلَمَّا اَمْسَى النَّاسُ الْيَوْمَ الَّذِى فُتِحَتْ عَلَيْهِمْ اَوْقَدُوْا نِيْرَانًا كَثِيْرَةً، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا هذِهِ النّيْرَانُ؟ عَلَى اَىّ شَىْءٍ تُوْقِدُوْنَ؟ قَالُوْا: عَلَى لَحْمٍ. قَالَ: عَلَى اَىّ لَحْمٍ؟ قَالُوْا عَلَى لَحْمِ حُمُرٍ اِنْسِيَّةٍ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَهْرِيْقُوْهَا وَ اكْسِرُوْهَا. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اَوْ نُهَرِيْقُهَا وَ نَغْسِلُهَا؟ قَالَ: اَوْ ذَاكَ. مسلم 3: 1540
Dari Salamah bin Akwa’, ia berkata : Kami pernah keluar bersama Rasulullah SAW ke Khaibar, kemudian Allah menaklukkannya untuk kemenangan mereka (kaum muslimin). Ketika sore harinya penaklukan Khaibar tersebut pasukan muslimin banyak menyalakan api. Maka Rasulullah SAW bertanya, “Api apa ini? Untuk apa kalian menyalakan api?”. Jawab mereka, “Untuk memasak daging”. Beliau bertanya, “Daging apa?”. Mereka menjawab, “Daging keledai jinak”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Tumpahkanlah daging-daging itu dan pecahkanlah periuknya”. Lalu ada seorang laki-laki bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana kalau kami tumpahkan isinya saja, lalu kami cuci periuknya?”. Beliau menjawab, “Begitu juga boleh”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1540]


2. Larangan makan binatang buas yang bertaring :


عَنْ اَبِى ثَعْلَبَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص نَهَى عَنْ اَكْلِ كُلّ ذِى نَابٍ مِنَ السّبَاعِ. البخارى 6: 230، و مسلم 3: 1533
Dari Abu Tsa'labah RA, bahwasanya Rasulullah SAW melarang memakan setiap binatang buas yang mempunyai taring”. [HR. Bukhari juz 6, hal. 230, dan Muslim juz 3, hal. 1533]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنْ كُلّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السّبَاعِ وَ عَنْ كُلّ ذِيْ مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ. مسلم 3: 1534
Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata, "Rasulullah SAW melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring dan setiap burung yang berkuku tajam". [HR. Muslim juz 3, hal. 1534]

Bahkan diantara ‘ulama ada yang berpendapat bahwa :

Semut, tawon, burung hud-hud dan burung suradi, haram pula kita memakannya, karena kita dilarang untuk membunuhnya, sedang (biasanya) tidak dapat memakannya kecuali harus dibunuh terlebih dahulu. Juga, binatang-binatang yang kita disuruh membunuhnya, seperti ular, gagak (yang ada warna putih di punggung dan dadanya), tikus, anjing galak dan burung elang, inipun haram juga bagi ummat Islam memakannya, dan katak, haram pula memakannya, karena ketika seorang thabib/ahli kesehatan mengatakan bahwa diantara campuran obatnya adalah katak, maka Rasulullah SAW melarang kaum muslimin untuk membunuhnya.

Alasan yang mereka kemukakan itu sebagai berikut :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنْ قَتْلِ اَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابّ: النَّمْلَةِ وَ النَّحْلِ وَ اْلهُدْهُدِ وَ الصُّرَدِ. ابن ماجه 2: 28، رقم: 3224
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Rasulullah SAW telah melarang membunuh empat macam binatang : 1. semut, 2. tawon, 3. burung hud-hud, 4. burung suradi. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 28, no. 3224]

عَنْ عَائِشَةَ رض عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ قَالَ: خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِي اْلحِلّ وَ اْلحَرَمِ اْلحَيَّةُ وَ اْلغُرَابُ اْلاَبْقَعُ وَ اْلفَارَةُ وَ اْلكَلْبُ اْلعَقُوْرُ وَ اْلحُدَيَّا. مسلم 2: 856
Dari ‘Aisyah RA, dari Nabi SAW bahwasanya beliau bersabda, “Ada lima macam binatang jahat yang boleh dibunuh di tanah halal maupun di tanah haram : 1. Ular, 2. Burung gagak belang (putih bagian punggung dan dadanya), 3. Tikus, 4. Anjing galak, dan 5. Burung elang”. [HR. Muslim juz 2, hal. 856]

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى اْلحَرَمِ اْلعَقْرَبُ وَ اْلفَارَةُ وَ اْلحُدَيَّا وَ اْلغُرَابُ وَ اْلكَلْبُ اْلعَقُوْرُ. مسلم 2: 857
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Ada lima macam binatang jahat yang boleh dibunuh di tanah haram : 1. Kalajengking , 2. Tikus, 3. Burung elang, 4. Burung gagak, dan 5. Anjing galak”. [HR. Muslim juz 2, hal. 857]

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ عُثْمَانَ اْلقُرَشِيّ اَنَّ طَبِيْبًا سَأَلَ النَّبِيَّ ص عَنِ ضِفْدَعٍ يَجْعَلُهَا فِى دَوَاءٍ، فَنَهَاهُ النَّبِيُّ ص عَنْ قَتْلِهَا. ابو داود 4: 7، رقم: 3871
Dari ‘Abdur Rahman bin ‘Utsman Al-Qurasyiy bahwasanya ada seorang thabib bertanya kepada Nabi SAW tentang katak yang ia menjadikannya campuran ramuan obat, maka Nabi SAW melarang (kaum muslimin) membunuh katak. [HR, Abu Dawud juz 4, hal. 7, no. 3871]

Dan ada pula yang berpendapat bahwa binatang yang oleh manusia dianggap kotor/jijik, maka haram pula hukumnya, berdasarkan firman Allah (dalam menerangkan sifat Nabi SAW) :

… وَ يُحِلُّ لَهُمُ الطَّيّبتِ وَ يُحَرّمُ عَلَيْهِمُ اْلخَبَآئِثَ. الاعراف: 157
….dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk ….. [QS. Al-A’raaf : 157]

Dan alasan ini mereka perkuat dengan hadits berikut :

عَنْ عِيْسَى بْنِ نُمَيْلَةَ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ ابْنِ عُمَرَ فَسُئِلَ عَنِ اْلقُنْفُذِ فَتَلاَ: قُلْ لآَّ اَجِدُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيَّ مُحَرَّمًا...الاية. قَالَ:قَالَ شَيْخٌ عِنْدَهُ: سَمِعْتُ اَبَا هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ: ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيّ ص فَقَالَ: خَبِيْثَةٌ مِنَ اْلخَبَائِثِ. فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: اِنْ كَانَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص هذَا فَهُوَ كَمَا قَالَ مَا لَمْ نَدْرِ. ابو داود 3: 354، رقم: 3799
Dari ‘Isa bin Numailah, dari ayahnya, ia berkata : Dahulu saya pernah berada di sisi Ibnu ‘Umar, lalu ia ditanya tentang landak, maka dia menjawab dengan membacakan ayat 145 surat Al-An’aam (yang artinya) Katakanlah, “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan …..sampai akhir ayat”. Maka orang tua yang berada di situ berkata : Saya pernah mendengar Abu Hurairah berkata : Ada seorang yang bertanya tentang hukumnya landak kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda, “Sesungguhnya landak itu salah satu diantara binatang yang kotor”. Lalu Ibnu ‘Umar berkata, “Jika Rasulullah SAW telah bersabda demikian, maka landak itu sebagaimana yang beliau sabdakan yang tadinya kami belum tahu”. [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 354, no. 3799, dla’if karena Numailah dan bapaknya majhul]

Demikianlah tentang haramnya makanan, ‘ulama berbeda pendapat tentang hal tersebut, sehingga terjadi dua pendapat :
  1. Pendapat pertama, menyatakan bahwa yang haram hanyalah 4 macam makanan yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, yaitu : bangkai, darah, daging babi dan sembelihan yang ketika disembelih disebut (nama) selain Allah (sembelihan bukan karena Allah). Adapun larangan atau pengharaman yang ada di dalam hadits-hadits hukumnya hanyalah makruh, yang kalau dilakukan tidak berdosa, dan apabila ditinggalkan berpahala.
  2. Pendapat kedua, menyatakan bahwa yang haram adalah apa-apa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan ditambah apa-apa yang disebutkan di dalam hadits Nabi SAW.
Walloohu a’lam.
سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

No comments :

Post a Comment

1. Silahkan meninggalkan komentar anda dengan bahasa yang baik dan sopan.
2. Dilarang komentar SPAM, Iklan atau dengan Menyisipkan URL/ Link atau Anchor teks di dalam pesan / komentar, bila ada akan dihapus tanpa pemberitahuan.
3. Terimakasih atas kunjungan anda, semoga bermanfaat