Seputar Makmum Masbuq

Thursday, January 24, 2013

Seputar Makmum Masbuq

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Pengertian Makmum Masbuq, Sholat, Sholat Berjama'ah

Sebelum kita membahas tentang ma’mum masbuq, ada baiknya kita mengetahui dulu beberapa pengertian yang terkait dengan hal itu, karena ma’mum masbuq adalah keadaan dimana seseorang itu terlambat dalam mengikuti shalat berjama’ah.

Shalat

Secara bahasa berarti do’a, tetapi yang dimaksud shalat menurut istilah ialah ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan disudahi dengan salam, dan memenuhi beberapa syarat dan rukunnya yang telah ditentukan Allah SWT.

Shalat berjama’ah

Jama’ah pengertiannya adalah bersama-sama, yang satu jadi imam dan yang lainmenjadi ma’mum. Apabila ada dua orang atau lebih shalat bersama-sama, dan salah seorang diantara mereka diikuti oleh yang lainnya, yang demikian itu disebut shalat berjama’ah. Orang yang diikuti disebut imam, dan orang yang mengikuti disebut ma’mum.

Ma’mum masbuq

Masbuq pengertiannya, ketinggalan. Ma’mum masbuq adalah ma’mum dalam shalat berjama’ah, namun si ma’mum mulai shalatnya tidak sejak awwal, sehingga ma’mum tersebut tidak sempurna membaca Al-Fatihah beserta imam di rekaat pertama.

Tentang mendapatkan fadhilah shalat berjama’ah

Untuk mendapatkan fadhilah shalat berjama’ah, ini bisa diperoleh dengan cara ma’mum ikut bersama imam dalam shalatnya, walaupun ia hanya mendapatkan duduk yang terakhir sebelum salam. Berdasarkan hadits :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اِذَا سَمِعْتُمُ اْلاِقَامَةَ فَامْشُوْا اِلىَ الصَّلاَةِ وَ عَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ وَ اْلوَقَارِ وَ لاَ تُسْرِعُوْا، فَمَا اَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا وَ مَا فَاتَكُمْ فَاَتِمُّوْا. البخارى 1: 156
Dari Abu Hurairah, dari nabi SAW, beliau bersabda, “Apabila kalian mendengar iqamah, berjalanlah (menuju masjid) untuk shalat, dan hendaklah kalian datang dengan tenang dan tunduk, dan janganlah tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan shalat (bersama imam) maka shalatlah (bersama imam), dan apa yang kalian ketinggalan maka sempurnakanlah”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 156]

عَنْ رَجُلٍ مِنْ اَهْلِ اْلمَدِيْنَةِ عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ سَمِعَ خَفِقَ نَعْلَيَّ وَ هُوَ سَاجِدٌ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ مَنْ هذَا الَّذِي سَمِعْتُ خَفْقَ نَعْلِهِ؟ قَالَ: اَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: فَمَا صَنَعْتَ؟ قَالَ: وَجَدْتُكَ سَاجِدًا فَسَجَدْتُ. فَقَالَ: هكَذَا فَاصْنَعُوْا وَ لاَ تَعْتَدُّوْا بِهَا، مَنْ وَجَدَنِي رَاكِعًا اَوْ قَائِمًا اَوْ سَاجِدًا فَلْيَكُنْ مَعِي عَلَى حَالِي الَّتِي اَنَا عَلَيْهَا. ابن ابى شيبة 1: 227، رقم: 2601
Diriwayatkan dari seorang penduduk Madinah, dari Nabi SAW bahwa beliau mendengar suara sandal pada saat sedang sujud. Setelah selesai shalat, beliau bertanya, “Siapakah orang yang tadi aku dengar suara sandalnya?”. Ia menjawab, “Saya, ya Rasulullah”. Beliau bertanya, “Apakah yang kamu lakukan?”. Ia menjawab, “Saya mendapati engkau sujud, maka akupun sujud”. Mendengar hal itu beliau bersabda, “Seperti itulah yang seharusnya kalian lakukan, namun jangan kalian hitung satu rekaat. Barangsiapa yang mendapati aku ruku’, berdiri atau sujud maka hendaklah ia mengikuti keadaanku pada saat itu”. [HR. Ibnu Abi Syaibah, juz 1, hal. 227, no. 2601]

Dengan dasar hadits-hadits tersebut dapat dipahami bahwa ma’mum masbuq tetap mendapatkan pahala shalat berjama’ah, tetapi pahalanya tidaklah seperti pahala orang yang mengikuti jama’ah sejak awwal. Walloohu a’lam.

Makmum mendapatkan ruku’ bersama imam, apakah sudah dihitung mendapat satu rekaat?

Ulama berbeda pendapat tentang ukuran seorang ma’mum mendapat satu rekaat bersama imam. Tentang hal ini ada dua pendapat :

1. Pendapat pertama, ma’mum yang mendapatkan ruku’ bersama imam sudah dihitung mendapat satu rekaat. Alasan-alasan mereka sebagai berikut :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ اَدْرَكَ الصَّلاَةَ. البخارى 1: 145
Dari AbuHurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mendapatkan satu ruku’ dari shalat, maka ia telah mendapatkan shalat itu”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 145]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ اَدْرَكَهَا قَبْلَ اَنْ يُقِيْمَ اْلاِمَامُ صُلْبَهُ. ابن خزيمة 3: 45، رقم: 1595
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mendapatkan satu ruku’ dalam shalat (sebelum imam menegakkan punggungnya) maka ia telah mendapatkan shalat itu”. [HR. Ibnu Khuzaimah juz 3, hal. 45, no. 1595, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Kurrah bin ‘Abdur Rahman].

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا جِئْتُمْ اِلىَ الصَّلاَةِ وَ نَحْنُ سُجُوْدٌ فَاسْجُدُوْا وَ لاَ تَعُدُّوْهَا شَيْئًا. وَ مَنْ اَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ اَدْرَكَ الصَّلاَةَ. ابو داود 1: 236، رقم 893
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kalian datang untuk shalat sedang kami dalam keadaan sujud, maka bersujudlah kalian. Dan janganlah dihitung (satu rekaat). Dan barangsiapa mendapatkan satu ruku’, berarti ia mendapatkan shalat itu". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 236, no. 893, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Yahya bin Sulaiman].

عَنْ اَبِى بَكْرَةَ اَنَّهُ انْتَهَى اِلَى النَّبِىّ ص وَ هُوَ رَاكِعٌ، فَرَكَعَ قَبْلَ اَنْ يَصِلَ اِلَى الصَّفّ، فَذَكَرَ ذلِكَ لِلنَّبِىّ ص، فَقَالَ: زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ. البخارى 1: 190
Dari Abu Bakrah bahwasanya ia mendapati Nabi SAW sedang ruku’, maka ia ikut ruku’ sebelum sampai pada shaff. Lalu ia menyampaikan hal itu kepada Nabi SAW. Maka beliau SAW bersabda, “Semoga Allah menambahkan kebaikan atas semangatmu, dan jangan kamu ulangi”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 190]

عَنِ اْلحَسَنِ اَنَّ اَبَا بَكْرَةَ جَاءَ وَ رَسُوْلُ اللهِ ص رَاكِعٌ فَرَكَعَ دُوْنَ الصَّفّ ثُمَّ مَشَى اِلىَ الصَّفّ. فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ ص صَلاَتَهُ قَالَ: اَيُّكُمُ الَّذِيْ رَكَعَ دُوْنَ الصَّفّ ثُمَّ مَشَى اِلىَ الصَّفّ؟، فَقَالَ اَبُوْ بَكْرَةَ: اَنَا. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَ لاَ تَعُدْ. ابو داود 1: 182، رقم: 684
Dari Al-Hasan bahwasanya Abu Bakrah datang (di masjid), ketika Rasulullah SAW sedang ruku’, maka ia ikut ruku’ sebelum sampai di shaff, kemudian ia berjalan menuju shaff. Maka setelah Nabi SAW selesai shalat, beliau bersabda, “Siapa diantara kalian yang ruku’ sebelum sampai di shaff, kemudian berjalan ke shaff?”. Maka Abu Bakrah menjawab, “Saya”. Maka Nabi SAW bersabda, “Semoga Allah menambah kebaikan kepadamu atas semangatmu, dan jangan kamu ulangi”. [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 182, no. 684]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ: مَنْ اَدْرَكَ اْلاِمَامَ رَاكِعًا، فَرَكَعَ قَبْلَ اَنْ يَرْفَعَ اْلاِمَامُ رَأْسَهُ فَقَدْ اَدْرَكَ تِلْكَ الرَّكْعَةَ. البيهقى 2: 90
Dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan, “Barangsiapa mendapati imam sedang ruku’, lalu ikut ruku’ sebelum imam mengangkat kepalanya, maka ia telah mendapatkan rekaat itu”. [HR. Baihaqi juz 2, hal. 90]

عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ : خَرَجْتُ مَعَ عَبْدِ اللهِ يَعْنِى ابْنَ مَسْعُوْدٍ مِنْ دَارِهِ اِلَى الْمَسْجِدِ، فَلَمَّا تَوَسَّطْنَا الْمَسْجِدَ رَكَعَ الاِمَامُ، فَكَبَّرَ عَبْدُ اللهِ وَ رَكَعَ وَ رَكَعْتُ مَعَهُ، ثُمَّ مَشَيْنَا رَاكِعَيْنِ حَتَّى انْتَهَيْنَا اِلَى الصَّفّ حِيْنَ رَفَعَ الْقَوْمُ رُءُوْسَهُمْ، فَلَمَّا قَضَى الاِمَامُ الصَّلاَةَ قُمْتُ وَ اَنَا اَرَى اَنّى لَمْ اُدْرِكْ، فَاَخَذَ عَبْدُ اللهِ بِيَدِى وَ اَجْلَسَنِى، ثُمَّ قَالَ: اِنَّكَ قَدْ اَدْرَكْتَ. البيهقى 2: 90
Dari Zaid bin Wahab, ia berkata, “Aku keluar bersama ‘Abdullah, yakni Ibnu Mas’ud dari rumahya menuju masjid. Ketika kami sudah sampai di bagian tengah masjid, imam ruku’, maka ‘Abdullah bin Mas’ud bertakbir kemudian ruku’, dan akupun ikut ruku’ bersamanya. Kemudian kami berjalan sambil ruku’ sehingga sampai ke dalam shaff ketika orang-orang sudah mengangkat kepala mereka. Setelah imam menyelesaikan shalat, aku bangkit, karena aku mengira belum mendapatkan satu rekaat. Namun ‘Abdullah menarik tanganku dan mendudukkanku sambil berkata, “Sesungguhnya engkau telah mendapatkan (rekaat itu)”.[HR. Baihaqi juz 2, hal. 90]

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ اَخْبَرَنِى اَبُوْ اُمَامَةَ بْنُ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ: اَنَّهُ رَأَى زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَ اْلاِمَامُ رَاكِعٌ فَمَشَى حَتَّى اَمْكَنَهُ اَنْ يَصِلَ الصَّفَّ وَ هُوَ رَاكِعٌ، كَبَّرَ فَرَكَعَ ثُمَّ دَبَّ وَ هُوَ رَاكِعٌ حَتَّى وَصَلَ الصَّفَّ. البيهقى 2: 90
Dari Ibnu Syihab, ia berkata : Mengkhabarkan kepadaku Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, bahwasanya ia melihat Zaid bin Tsabit masuk ke dalam masjid pada saat imam sedang ruku’. Kemudian ia berjalan supaya memungkinkan baginya untuk mencapai shaff dalam keadaan ruku’, maka ia bertakbir lalu ruku’. Kemudian ia berjalan sambil ruku’ sehingga sampai di shaff. [HR. Baihaqi juz 2, hal. 90]

Keterangan :
Dengan dasar hadits dan riwayat di atas mereka memahami perkataan “rak’atan” diartikan ruku’, dan mereka memahami “walaa ta’ud” dengan jangan mengulangi shalat, sehingga apabila ma’mum masbuq mendapatkan ruku’ bersama imam, maka sudah dihitung mendapat satu rekaat.

2. Pendapat kedua, ma’mum masbuq yang tidak mendapatkan Al-Fatihah tidak dihitung satu rekaat, meskipun mendapatkan ruku’ bersama imam, dengan alasan :

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ. البخارى 1: 184
Dari ‘Ubadah bin Shaamit bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak (sah) shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 184]

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لاَ صَلاَةَ لمِنْ لمَْ يَقْرَأْ بِاُمّ اْلقُرْانِ. مسلم 1: 295
Dari ‘Ubadah bin Shaamit bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak (sah) shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah)”. [HR. Muslim juz 1, hal. 295]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اِذَا سَمِعْتُمُ اْلاِقَامَةَ فَامْشُوْا اِلىَ الصَّلاَةِ وَ عَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ وَ اْلوَقَارِ وَ لاَ تُسْرِعُوْا، فَمَا اَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا وَ مَا فَاتَكُمْ فَاَتِمُّوْا. البخارى 1: 156
Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Apabila kalian mendengar iqamah, berjalanlah (menuju masjid) untuk shalat, dan hendaklah kalian datang dengan tenang dan tunduk, dan janganlah tergesa-gesa. Apa yang kamu dapati shalat (bersama imam) maka shalatlah bersama imam, dan apa yang kamu ketinggalan maka sempurnakanlah”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 156]

Keterangan :
Berdasarkan hadits-hadits di atas mereka memahami bahwa ma’mum masbuq yang mendapatkan ruku’ bersama imam, belum dihitung satu rekaat, karena tidak mendapatkan Al-Fatihah, sedangkan Al-Fatihah adalah salah satu rukun shalat, artinya : kalau rukun tidak dikerjakan maka shalatnya tidak sah. Apabila ma’mum masbuq mengalami yang demikian itu, maka ketika imam salam, ia tidak ikut salam, tetapi menyempurnakan rekaat yang kurang tadi.

Penjelasan :

1. Dalam hal ini kami sependapat dengan pendapat kedua, dengan alasan sebagaimana di atas.

2. Adapun hadits ( مَنْ اَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ اَدْرَكَ الصَّلاَةَ ) itu memang benar, tetapi arti “ar-rak’ata” di situ adalah rekaat, bukan ruku’. Maksud hadits tersebut begini : Barangsiapa yang shalat Dhuhur mendapat satu rekaat, lalu terdengar adzan ‘Ashar, maka orang tersebut masih terhitung shalat pada waktunya, begitu pula kalau seseorang shalat ‘Ashar mendapat satu rekaat, lalu terdengar adzan Maghrib, berarti orang tersebut terhitung shalat ‘Ashar masih dalam waktunya. Hal ini sesuai dengan hadits berikut ini :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصُّبْحِ قَبْلَ اَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ اَدْرَكَ الصُّبْحَ. وَ مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ اْلعَصْرِ قَبْلَ اَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ اَدْرَكَ اْلعَصْرَ. مسلم 1: 424
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mendapatkan satu rekaat dari shalat Shubuh sebelum matahari terbit, maka berarti dia telah mendapatkan shalat Shubuh itu (keseluruhannya). Dan barangsiapa mendapatkan satu rekaat dari shalat ‘Ashar sebelum matahari terbenam, maka berarti dia telah mendapatkan shalat ‘Ashar itu (keseluruhannya)”. [HR. Muslim juz 1, hal. 424]

3. Memang rak’ah bisa berarti ruku’ kalau ada qarinah yang membawa kepada arti tersebut, seperti hadits di bawah ini :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا قَامَ اِلَى الصَّلاَةِ يُكَبّرُ حِيْنَ يَقُوْمُ، ثُمَّ يُكَبّرُ حِيْنَ يَرْكَعُ، ثُمَّ يَقُوْلُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حِيْنَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ، ثُمَّ يَقُوْلُ وَ هُوَ قَائِمٌ: رَبَّنَا لَكَ اْلحَمْدُ، ثُمَّ يُكَبّرُ حِيْنَ يَهْوِي سَاجِدًا. احمد
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW apabila berdiri shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku', kemudian membaca “Sami'alloohu liman hamidah” ketika mengangkat tulang belakangnya (ketika bangkit) dari ruku', kemudian membaca “Robbanaa lakal-hamdu” dalam keadaan berdiri. Kemudian beliau bertakbir ketika menunduk sujud. [HR. Ahmad]

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص جَهَرَ فِى صَلاَةِ اْلخُسُوْفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى رَكْعَتَيْنِ وَ اَرْبَعَ سَجَدَاتٍ. مسلم 2: 620
Dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi SAW membaca jahr dalam shalat gerhana dan beliau shalat dengan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka'at. [HR. Muslim 2 : 620]

Tetapi selama tidak ada qarinah atau sebab-sebab yang memalingkan kata rak’ah kepada arti ruku’, maka rak’ah artinya adalah rekaat.

4. Adapun memahami sabda Nabi SAW kepada Abu Bakrah (وَلاَ تَعُدْ) itu dengan “dan jangan kamu ulangi shalatmu, karena shalat itu sudah sempurnya”. Pemahaman tersebut tidak benar, karena maksud Nabi SAW itu adalah, “lain kali jangan kamu ulangi perbuatan seperti itu”, yaitu takbir (sebelum sampai di shaff), lalu ikut ruku’ di luar shaff, kemudian berjalan menuju shaff dalam keadaan ruku’.

5. Ada lagi yang mengambil dasar “mendapatkan ruku’ bersama imam ini dihitung satu rekaat”, dengan berdasar hadits riwayat Abu Dawud, yang disebutkan dalam buku Fiqh Islam oleh H. Sulaiman Rasyid halaman 114, bab Hukum Masbuq :

اِذَا جَاءَ اَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ وَ نَحْنُ سُجُوْدٌ فَاسْجُدُوْا وَ لاَ تَعُدُّوْهَا شَيْئًا وَ مَنْ اَدْرَكَ الرُّكُوْعَ فَقَدْ اَدْرَكَ الرَّكْعَةَ. ابو داود
Apabila seseorang diantara kamu datang untuk shalat sewaktu kami sujud, hendaklah kamu sujud, dan janganlah kamu hitung itu satu rekaat; dan barangsiapa mendapati ruku’ beserta imam, maka ia telah mendapat satu rekaat. [HR. Abu Dawud]

Mengambil dasar dengan hadits tersebut tidak benar, karena lafadh tersebut dalam kitab Sunan Abu Dawud tidak ada. (Sudah kami cari dalam Sunan Abu Dawud, tidak kami temukan).

6. Adapun perbuatan shahabat Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud dan lainnya, melakukan ruku’ di luar shaff, lalu sambil ruku’ berjalan menuju shaff, itu tidak bisa dijadikan dasar untuk diikuti, karena seandainya riwayat itu betul, maka pemahamannya adalah sebagai berikut :

Beliau-beliau itu melakukan ruku’ di luar shaff lalu sambil ruku’ berjalan menuju shaff itu tentu tidak sepengetahuan Nabi SAW (memang dalam riwayat itu tidak ada qarinah yang menunjukkan bahwa hal itu dilakukan dengan sepengetahuan Nabi SAW), dan ternyata ketika Abu Bakrah melakukan demikian dan diketahui oleh Rasulullah SAW, maka beliau melarangnya. Pemahaman ini dikuatkan dengan riwayat sebagai berikut :

عَنِ اْلاَعْرَجِ قَالَ: قُلْتُ ِلاَبِى هُرَيْرَةَ: يَرْكَعُ اْلاِمَامُ وَ لَمْ اََصِلْ اِلَى الصَّفّ اَفَاَرْكَعُ؟ فَاَخَذَ بِرِجْلِى، وَ قَالَ: لاَ يَا اَعْرَجُ حَتَّى تَأْخُذَ مَقَامَكَ مِنَ الصَّفّ. ابن عبد البر فى الاستذكار 6: 246، رقم: 8834
Dari Al-A’raj, ia berkata : Aku bertanya kepada Abu Hurairah, “Apabila imam sedang ruku’ sedangkan aku belum sampai pada shaff, apakah aku boleh ruku’ (ketika itu)?”. Maka Abu Hurairah memegang kakiku, lalu berkata, “Tidak wahai A’raj, sehingga kamu sampai pada tempatmu di shaff”. [HR. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al-Istidzkar juz 6, hal. 246, no 8834]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا جَاءَ اَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ فَلاَ يَرْكَعْ دُوْنَ الصَّفّ حَتىَّ يَأْخُذَ مَكَانَهُ مِنَ الصَّفّ. ابن عبد البر فى الاستذكار 6: 246، رقم: 8836
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang diantara kalian datang untuk shalat, maka janganlah ruku’ di luar shaff sehingga ia berada pada tempatnya di shaff”. [HR. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al-Istidzkar juz 6, hal. 246, no. 8836]

Makmum masbuq

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا جِئْتُمْ اِلىَ الصَّلاَةِ وَ نَحْنُ سُجُوْدٌ فَاسْجُدُوْا وَلاَ تَعُدُّوْهَا شَيْئًا. وَ مَنْ اَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ اَدْرَكَ الصَّلاَةَ. ابو داود 1: 236، رقم 893
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kalian datang untuk shalat sedang kami dalam keadaan sujud, maka bersujudlah kalian. Dan janganlah dihitung (satu rekaat). Dan barangsiapa mendapatkan satu rekaat, berarti ia mendapatkan shalat itu". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 236, no. 893].

عَنْ عَلِيّ بْنِ اَبِى طَالِبٍ وَ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالاَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا اَتَى اَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ وَ اْلاِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ اْلاِمَامُ. الترمذى 2: 51، رقم 588
Dari Ali bin Abu Thalib dan Mu'adz bin Jabal, mereka berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seseorang diantara kalian datang untuk shalat sedangkan imam dalam suatu keadaan, maka hendaklah ia berbuat sebagaimana yang diperbuat imam". [HR. At-Tirmidzi juz 2, hal. 51, no. 588]

Keterangan :
Apabila kita menjadi makmum masbuq, maka hendaklah kita memperbuat sebagaimana yang diperbuat imam, misalnya : imam dalam keadaan sujud, setelah kita takbiratul ihram lalu sujud sebagaimana yang diperbuat imam, atau jika imam dalam keadaan ruku' maka setelah takbiratul ihram lalu kita ruku', tetapi yang demikian itu jangan dihitung satu rekaat. Kemudian setelah imam salam, kita berdiri untuk menyempurnakan rekaat yang ketinggalan tersebut.

Orang yang sudah shalat munfarid maupun jama'ah, boleh mengikuti shalat jama'ah lagi

عَنْ يَزِيْدَ بْنِ اْلاَسْوَدِ اَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص صَلاَةَ الصُّبْحِ. فَلَمَّا صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا هُوَ بِرَجُلَيْنِ لَمْ يُصَلّيَا فَدَعَا بِهِمَا فَجِيْءَ بِهِمَا تَرْعُدُ فَرَائِصُهُمَا فَقَالَ لَهُمَا: مَا مَنَعَكُمَا اَنْ تُصَلّيَا مَعَنَا؟ قَالاَ: قَدْ صَلَّيْنَا فِى رِحَالِنَا. قَالَ: فَلاَ تَفْعَلاَ اِذَا صَلَّيْتُمَا فِى رِحَالِكُمَا ثُمَّ اَدْرَكْتُمَا اْلاِمَامَ وَ لَمْ يُصَلّ فَصَلّيَا مَعَهُ فَاِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ. احمد و اللفظ له و الثلاثة و صححه ابن حبان و الترمذى، فى بلوغ المرام، رقم 428
Dari Yazid bin Al-Aswad, sesungguhnya ia pernah shalat Shubuh bersama Rasulullah SAW. Setelah Rasulullah SAW selesai shalat, beliau mengetahui ada dua orang yang tidak ikut shalat, maka beliau menyuruh untuk memanggil mereka, lalu mereka dibawa dalam keadaan gemetar daging rusuk mereka. Beliau bersabda : "Apa yang menghalangimu berdua shalat bersama kami?" Mereka menjawab : "Kami sudah shalat ditempat kami!". Beliau bersabda : "Janganlah kalian berbuat demikian. Apabila kalian telah shalat di rumah kalian, lalu menemukan imam belum shalat, maka hendaklah kalian shalat bersamanya, karena yang demikian itu menjadi shalat sunat bagi kalian". [HR. Ahmad dan lafadh itu baginya, dan Tsalatsah, disahkan oleh Ibnu Hibban dan Tirmidzi, dalam Bulughul Maram hadits no. 428]

Memutus jama'ah lalu melanjutkannya dengan shalat munfarid

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: كَانَ مُعَاذٌ يُصَلّى مَعَ النَّبِيّ ص ثُمَّ يَأْتِى فَيَؤُمُّ قَوْمَهُ، فَصَلَّى لَيْلَةً مَعَ النَّبِيّ ص اْلعِشَاءَ ثُمَّ اَتَى قَوْمَهُ فَاَمَّهُمْ فَافْتَتَحَ بِسُوْرَةِ اْلبَقَرَةِ فَانْحَرَفَ رَجُلٌ فَسَلَّمَ، ثُمَّ صَلَّى وَحْدَهُ وَ انْصَرَفَ، فَقَالُوْا لَهُ اَنَافَقْتَ يَا فُلاَنُ؟ قَالَ: لاَ، وَ اللهِ وََلآتِيَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص فَلاُخْبِرَنَّهُ. فَاَتَى رَسُوْلَ اللهِ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّا اَصْحَابُ نَوَاضِحَ نَعْمَلُ بِالنَّهَارِ وَ اِنَّ مُعَاذًا صَلَّى مَعَكَ اْلعِشَاءَ ثُمَّ اَتَى فَافْتَتَحَ بِسُوْرَةِ اْلبَقَرَةِ. فَاَقْبَلَ رَسُوْلُ اللهِ ص عَلَى مُعَاذٍ فَقَالَ: يَا مُعَاذُ اَفَتَّانٌ اَنْتَ؟ اِقْرَأْ بِكَذَا وَ اقْرَأْ بِكَذَا. مسلم
Dari Jabir, ia berkata : Adalah Mu’adz biasa shalat bersama Nabi SAW, kemudian datang lalu mengimami kaumnya (di kampung mereka). Maka pernah pada suatu malam ia shalat ‘Isya bersama Nabi SAW lalu datang kepada kaumnya lalu mengimami mereka. Ia memulai dengan membaca surat Al-Baqarah. Maka ada salah seorang berpaling ~memutus shalatnya~ kemudian shalat sendirian, lalu pergi. Kemudian orang-orang berkata kepadanya, “Apakah engkau menjadi munafiq hai Fulan!”. Ia menjawab, “Tidak, demi Allah! Sungguh aku akan menghadap Rasulullah SAW dan kuceritakan hal ini”. Kemudian ia datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Ya, Rasulullah, sesungguhnya kami ini orang-orang pekerja, kami bekerja di siang hari, sesungguhnya Mu’adz setelah shalat‘Isya bersama tuan lalu ia datang (mengimami kami). Ia memulai dengan membaca surat Al-Baqarah”. Lalu Rasulullah SAW berpaling kepada Mu’adz sambil bersabda, "Hai Mu'adz! Apakah engkau hendak menjadi tukang penyusah ? Bacalah surat ini dan ini". [HSR. Muslim, Juz I hal 339]

Dan yang dimaksud "Bacalah surat ini dan ini" dalam hadits tersebut ialah sebagaimana Sabda Rasulullah SAW kepada Mu'adz sebagai berikut :

اِذَا اَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ: بِالشَّمْسِ وَ ضُحَاهَا، وَ سَبّحِ اسْمَ رَبّكَ اْلاَعْلَى، وَ اقْرَأْ بِاسْمِ رَبّكَ، وَ اللَّيْلِ اِذَا يَغْشَى. مسلم
"Apabila engkau mengimami orang banyak, bacalah : Wasy-syamsi wa dluhaahaa dan Sabbihisma rabbikal-a'laa dan Iqra' bismi rabbika dan Wallaili idzaa yaghsyaa". [HR Muslim juz 1, hal. 340]

Keterangan :
Dari hadits tersebut bisa difahami bahwa : Agama memberi kelonggaran bagi seseorang yang mempunyai keperluan yang penting dan mendesak untuk memutus dari jama'ah dan melaksanakan shalat sendirian melanjutkan kekurangannya apabila dirasanya imam berlebih-lebihan menurut pertimbangan agama dalam shalat tersebut, mungkin surat yang dibacanya terlalu panjang atau karena hal lain yang bersangkutan dengan shalat itu, misalnya :
  • Sang imam salah dalam rukun shalat; yang seharusnya ia berdiri untuk rakaat yang terakhir pada shalat yang empat rakaat, tetapi ia duduk untuk tasyahhud akhir karena lupa dan walaupun telah diperingatkan dengan ucapan "subhaanallooh" (bila makmumnya laki-laki) atau dengan bertepuk tangan (kalau makmumnya wanita), namun ia tetap duduk. Maka bila terjadi demikian, makmum boleh memilih apakah ia memutus dari shalat jama'ah itu dan melanjutkan sendiri atau duduk mengikuti imam dan setelah imam salam ia melanjutkan kekurangan yang satu rakaat tersebut.
  • Atau bila imam tidak tertib dalam menjalankan shalatnya, misalnya ; terlalu cepat dalam tiap-tiap bacaan maupun perubahan dari rukun ke rukun sehingga menghilangkan kekhusyu'an dan thuma'ninah shalat tersebut, maka makmum diperkenankan untuk memutus dari jamaah lalu shalat sendiri dengan baik.

Membaca Al-Fatihah di belakang imam yang membaca jahr

Tentang Ma'mum wajib membaca Al-Fatihah atau tidak, apabila Imam membaca dengan jahr, disini ulama' berbeda pendapat. Masing-masing mempunyai alasan yang secara ringkas sebagai berikut :

1. Golongan pertama, berpendapat bahwa Makmum wajib membaca Al-Fatihah di belakang imam, sekalipun imamnya membaca jahr dengan alasan sebagai berikut :

عَنْ عُبَادَةَ قَالَ: صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ ص الصُّبْحَ فَثَقُلَتْ عَلَيْهِ اْلقِرَاءَةُ. فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: اِنّى اَرَاكُمْ تَقْرَءُوْنَ وَرَاءَ اِمَامِكُمْ؟ قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِيْ وَ اللهِ! قَالَ: لاَ تَفْعَلُوْا اِلاَّ بِاُمّ اْلقُرْآنِ فَاِنَّهُ لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْبِهَا. ابو داود و الترمذى، فى نيل الاوطار
Dari 'Ubadah, ia berkata : Rasulullah SAW pernah shalat Shubuh, tiba-tiba bacaan beliau menjadi berat (karena terganggu). Maka setelah selesai, Rasulullah SAW bersabda, "Saya merasa bahwa kalian membaca di belakang Imam kalian?". 'Ubadah berkata : Kami menjawab, "Demi Allah, betul! Ya Rasulullah". Beliau bersabda, "Janganlah kalian berbuat demikian, kecuali Ummul Qur'an (Al-Fatihah). Karena sesungguhnya tidak sah shalat orang yang tidak membacanya". [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 243]

عَنْ عُبَادَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: لاَ يَقْرَأَنَّ اَحَدٌ مِنْكُمْ شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ اِذَا جَهَرْتُ بِاْلقِرَاءَةِ اِلاَّ بِاُمّ اْلقُرْآنِ. الدارقطنى و قال رجاله كلهم ثقات، فى نيل الاوطار
Dari 'Ubadah ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW bersabda, "Janganlah seseorang diantara kalian membaca sesuatu dari Al-Qur'an apabila aku membaca dengan jahr, kecuali Ummul Qur'an". [HR. Daruquthni, ia berkata, "Sanadnya semuanya dapat dipercaya", dalam Nailul Authar juz 2, hal. 243]

2. Golongan kedua berpendapat, bahwa Makmum wajib mendengarkan bacaan Imam, berdasar firman Allah dan hadits-hadits Nabi SAW.

Firman Allah SWT :

وَ اِذَا قُرِئَ اْلقُرْانُ فَاسْتَمِعُوْا لَه وَ اَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. الاعراف:204
Dan apabila dibacakan Al-Qur'an hendaklah kamu mendengarkannya serta diam (memperhatikan), supaya kamu diberi rahmat. [Al-A'raf : 204]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِنَّمَا جُعِلَ اْلاِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ. فَاِذَا كَبَّرَ فَكَبّرُوْا وَ اِذَا قَرَأَ فَاَنْصِتُوْا. الخمسة الا الترمذى و قال مسلم: هو صحيح، فى نيل الاوطار
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Hanyasanya imam itu dijadikan untuk diturut, jika dia bertakbir maka bertakbirlah dan jika dia membaca (Al-Qur'an) maka diam dan perhatikanlah". [HR. Khamsah kecuali Tirmidzi, Muslim berkata, "Hadits itu Shahih", Nailul Authar Juz II hal 240]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص انْصَرَفَ مِنْ صَلاَةٍ جَهَرَ فِيْهَا بِاْلقِرَاءَةِ. فَقَالَ: هَلْ قَرَأَ مَعِى اَحَدٌ مِنْكُمْ آنِفًا؟ فَقَالَ رَجُلٌ: نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: فَاِنّى اَقُوْلُ مَالِى اُنَازَعُ اْلقُرْآنَ؟ قَالَ: فَانْتَهَى النَّاسُ عَنِ اْلقِرَاءَةِ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص فِيْمَا يَجْهَرُ فِيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ص بِاْلقِرَاءَةِ مِنَ الصَّلَوَاتِ بِاْلقِرَاءَةِ حِيْنَ سَمِعُوْا ذلِكَ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ ص. ابو داود و النسائى و الترمذى و قال: حديث حسن، فى نيل الاوطار
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Sesungguhnya pernah Rasulullah SAW setelah selesai dari satu shalat yang beliau baca dengan jahr (nyaring), lalu beliau bersabda, "Apakah tadi diantara kalian ada yang membaca bersama-sama aku?". Maka ada seorang laki-laki menjawab, "Saya, ya Rasulullah". Rasulullah SAW bersabda, "Aku mau bertanya, mengapa aku dilawan dalam membaca Al-Qur'an?". Abu Hurairah berkata, "Sesudah itu orang-orang berhenti dari membaca bersama Rasulullah SAW diwaktu shalat yang Rasulullah membacanya dengan jahr (nyaring) setelah mereka mendengar yang demikian itu dari Rasulullah SAW". [HR. Abu Dawud, Nasai, Tirmidzi, dan ia berkata, "Ini hadits Hasan". Dalam Nailul Authar juz 2, hal. 242]

3. Golongan ketiga berpendapat, bahwa Makmum tidak boleh membaca apapun termasuk Al-Fatihah dibelakang seorang Imam, baik Imamnya membaca jahr maupun sir; karena menurut pendapat mereka bacaan Imam adalah bacaan Makmumnya pula , maka dengan Imam membaca itu sudah mencakup bagi seluruh Makmumnya. Dengan alasan sebagai berikut :

اِنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: مَنْ كَانَ لَهُ اِمَامٌ فَقِرَاءَةُ اْلاِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ. احمد و الدارقطنى عن عبد الله بن شداد
Sesungguhnya Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa (shalat) bersama Imam maka bacaan Imam itu jadi bacaan baginya". [HR. Ahmad dan Daruquthni dari Abdullah bin Syaddad]

كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ وَرَاءَ رَسُوْلِ اللهِ ص فَجَعَلَ رَجُلٌ يُوْمِئُ اِلَيْهِ اَنْ لاَ يَقْرَأَ فَلَمَّا قَضَى رَسُوْلُ اللهِ ص قَالَ لَهُ الرَّجُلُ: مَا لَكَ تَقْرَأُ خَلْفَ اْلاِمَامِ؟ فَقَالَ: مَالَكَ تَنْهَانِى اَنْ اَقْرَأَ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا كَانَ لَكَ اِمَامٌ فَاِنَّ قِرَاءَتَهُ لَكَ قِرَاءَةٌ. الخلال عن عبد الله بن شداد
Seorang laki-laki pernah membaca di belakang Rasulullah SAW maka seorang laki-laki (lain) memberi isyarat kepadanya supaya dia tidak membaca. (Orang itu tidak menurut), dan tetap membaca. Setelah Rasulullah SAW selesai (salam), maka laki-laki itu berkata kepada orang tersebut, "Mengapa engkau membaca di belakang Imam?". Ia menjawab, "Mengapa engkau melarang aku membaca?". Maka Rasulullah SAW bersabda, "Apabila engkau mengikuti imam, maka sesungguhnya bacaan Imam itu menjadi bacaan bagimu". [HR. Al-Khallal dari Abdullah bin Syaddad]

Keterangan :
Pengarang Al-Muntaqa berkata, "Hadits riwayat Ibnu Syaddad (yang dijadikan hujjah golongan ketiga) itu telah diriwayatkan juga dengan tidak putus sanadnya dari beberapa jalan yang semuanya lemah. 
Demikianlah tentang membaca Al-Fatihah di belakang Imam yang membaca dengan jahr.

Adapun kami condong kepada pendapat golongan kedua, yaitu : Bahwa seorang Makmum dibelakang Imam yang membaca dengan jahr (nyaring) maka ia wajib diam dan memperhatikan bacaan imam tersebut, sebagaimana keterangan di atas.

Adapun hadits-hadits yang menjelaskan tidak sah shalat kecuali dengan membaca Al-Fatihah, itu maksudnya ialah :
  1. Bagi Imam, baik ia membaca jahr atau sir.
  2. Bagi Makmum yang Imamnya membaca dengan sir atau meskipun jahr tetapi tidak mendengar (misalnya sebab tempatnya terlalu jauh).
  3. Bagi orang yang shalat Munfarid (sendirian).
Walloohu a’lam.


سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

No comments :

Post a Comment

1. Silahkan meninggalkan komentar anda dengan bahasa yang baik dan sopan.
2. Dilarang komentar SPAM, Iklan atau dengan Menyisipkan URL/ Link atau Anchor teks di dalam pesan / komentar, bila ada akan dihapus tanpa pemberitahuan.
3. Terimakasih atas kunjungan anda, semoga bermanfaat