Cara Mengkafani Mayit

Saturday, March 16, 2013

Cara Mengkafani Mayit


بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Seputar Risalah Janaiz

Cara Mengkafani Mayit 

Sebagaimana dijelaskan pada beberapa Hadits berikut :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِلْبَسُوْا مِنْ ثِيَابِكُمُ اْلبَيَاضَ فَاِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ، وَ كَفّنُوْافِيْهَا مَوْتَاكُمْ. الترمذى 2: 232، و قال حديث حسن صحيح
Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Pakailah pakaian pakaian kalian yang putih-putih, karena ia sebaik-baik pakaian kalian; dan kafanilah mayit-mayit kalian dengannya". [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 232, ia berkata : Hadits hasan shahih]

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كُفّنَ فِى ثَلاَثَةِ اَثْوَابٍ يَمَانِيَةٍ بِيْضٍ سَحُوْلِيَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ لَيْسَ فِيْهَا قَمِيْصٌ وَ لاَ عِمَامَةٌ. البخارى 2: 75
Dari Aisyah RA, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW dikafani dengan tiga lapis kain putih buatan negeri Yaman dari Sahul (sebuah desa di Yaman), terbuat dari kapas, tanpa baju gamis maupun sorban". [HR Bukhari juz 2, hal. 75]

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كُفّنَ النَّبِيُّ ص فِى ثَلاَثَةِ اَثْوابٍ سَحُوْلٍ كُرْسُفٍ لَيْسَ فِيْهَا قَمِيْصٌ وَ لاَ عِمَامَةٌ. البخارى 2: 77
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Nabi SAW dikafani dengan tiga lapis kain buatan dari Sahul yang terbuat dari kapas, tanpa baju gamis maupun sorban”, [HR. Bukhari juz 2, hal. 77]

عَنْ عِائِشَةَ قَالَتْ: اُدْرِجَ رَسُوْلُ اللهِ ص فِى حُلَّةٍ يَمَنِيَّةٍ كَانَتْ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ اَبِى بَكْرٍ، ثُمَّ نُزِعَتْ عَنْهُ، وَ كُفّنَ فِى ثَلاَثَةِ اَثْوَابٍ سَحُوْلٍ يَمَانِيَةٍ، لَيْسَ فِيْهَا عِمَامَةٌ وَ لاَ قَمِيْصٌ. مسلم 2: 65
Dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah SAW (semula) dikafani dengan pakaian buatan Yaman milik Abdullah bin Abu Bakar, tetapi tidak jadi, kemudian dilepas, lalu dikafani dengan tiga kain dari Sahul Yaman, tanpa sorban dan tidak pula baju gamis". [HR. Muslim juz 2, hal. 65]

عَنْ لَيْلَى بِنْتِ قَانِفٍ الثَّقَفِيَّةِ قَالَتْ: كُنْتُ فِيْمَنْ غَسَّلَ اُمَّ كُلْثُوْمٍ بِنْتَ رَسُوْلِ اللهِ ص عِنْدَ وَفَاتِهَا، وَ كَانَ اَوَّلُ مَا اَعْطَانَا رَسُوْلُ اللهِ ص اَلْحِقَا ثُمَّ الدّرْعَ ثُمَّ اْلخِمَارَ ثُمَّ اْلمِلْحَفَةَ ثُمَّ اُدْرِجَتْ بَعْدُ فِى الثَّوْبِ اْلآخِرِ، قَالَتْ: وَ رَسُوْلُ اللهِ ص جَالِسٌ عِنْدَالْبَابِ، مَعَهُ كَفَنُهَا يُنَاوِلُنَاهَا ثَوْبًا ثَوْبًا. ابو داود 3: 200، رقم: 3157
Dari Laila binti Qanif Ats-Tsaqafiyah ia berkata, “Aku adalah termasuk diantara perempuan yang memandikan Ummu Kultsum puteri Rasulullah SAW ketika wafatnya. Dan pertama-tama yang diberikan Rasulullah SAW kepada kami adalah kain bawah, kemudian baju kurung, lalu kudung, kemudian selimut, kemudian sesudah itu dimasukkan di dalam kain kafan yang terakhir". Laila berkata, “Pada waktu itu Rasulullah SAW duduk di pintu dengan membawa kafannya, beliau memberikan kepada kami selembar demi selembar". [HR Abu Dawud juz 3, hal. 200, no. 3157]

Keterangan :
Dari hadits ini bisa diambil pengertian bahwa mayyit wanita sebaiknya dikafani dengan lima lembar kain, yaitu; kain bawah (yang bisa menutup pinggul dan paha), baju kurung (kain yang dibentuk baju kurung), penutup kepala, selimut dan kain yang bisa membungkus seluruhnya.
عَنْ خَبَّابِ بْنِ اْلاَرَتّ قَالَ: هَاجَرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص فِى سَبِيْلِ اللهِ، نَبْتَغِى وَجْهَ اللهِ. فَوَجَبَ اَجْرُنَا عَلَى اللهِ. فَمِنَّا مَنْ مَضَى لَمْ يَأْكُلْ مِنْ اَجْرِهِ شَيْئًا. مِنْهُمْ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ. قُتِلَ يَوْمَ اُحُدٍ. فَلَمْ يُوْجَدْ لَهُ شَيْءٌ يُكَفَّنُ فِيْهِ اِلاَّ نَمِرَةٌ. فَكُنَّا اِذَا وَضَعْنَاهَا عَلَى رَأْسِهِ خَرَجَتْ رِجْلاَهُ، وَ اِذَا وَضَعْنَاهَا عَلَى رِجْلَيْهِ خَرَجَ رَأْسُهُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: ضَعُوْهَا مِمَّا يَلِى رَأْسَهُ وَ اجْعَلُوْا عَلَى رِجْلَيْهِ اْلاِذْخِرَ. وَمِنَّا مَنْ اَيْنَعَتْ لَهُ ثَمَرَتُهُ، فَهُوَ يَهْدُبُهَا. مسلم 2: 649.
Dari Khabbab bin Aratt, ia berkata : Kami berhijrah bersama Rasulullah SAW fii sabiilillaah dengan mengharap ridla Allah, maka Allah yang akan memberi pahala kepada kami. Lalu diantara kami ada yang meninggal belum merasakan hasil kemenangan sedikitpun. Diantara mereka itu ialah Mus’ab bin ‘Umair, ia gugur pada perang Uhud. Tidak ada sesuatu yang dipakai untuk mengkafaninya kecuali kain yang bergaris yang melekat di tubuhnya. Apabila kain itu kami tarik untuk menutup kepalanya, maka tampaklah kedua kakinya. Dan apabila kami tarik untuk menutup kedua kakinya, maka tampaklah kepalanya. Lalu Rasulullah SAW bersabda,“Tutupkankanlah dari kepalanya, dan jadikanlah (tutuplah) pada kedua kakinya dengan rumput Idzkhir”. Dan diantara kami ada pula yang tanamannya sudah berbuah (sudah ma’mur) maka ia memanen hasilnya”. [HR Muslim juz 2, hal. 649]

وَ عَنْ خَبَّابٍ اَيْضًا اَنَّ حَمْزَةَ لَمْ يُوْجَدْ لَهُ كَفَنٌ اِلاَّ بُرْدَةٌ مِلْحَاءُ، اِذَا جُعِلَتْ عَلَى قَدَمَيْهِ قَلَصَتْ عَنْ رَأْسِهِ، حَتَّى مُدَّتْ عَلَى رَأْسِهِ، وَ جُعِلَ عَلَى قَدَمَيْهِ اْلاِذْخِرُ. احمد، فى نيل الاوطار 4: 38
Dan dari Khabbab juga, bahwa Hamzah tidak didapatkan kafan untuknya melainkan sebuah selimut bergaris, yang apabila ditutupkan pada kedua kakinya maka kepalanya terlihat, sehingga ditarik ke kepalanya dan kedua kakinya ditutupi dengan rumput idzkhir. [HR Ahmad, Nailul Authar juz 4, hal. 38]

Keterangan :
Dari dua hadits di atas bisa diambil pengertian bahwa apabila kafan itu tidak mencukupi, maka bagian kepala itu yang lebih diutamakan daripada bagian kaki, kemudian bagian kaki bisa ditutup dengan penutup lain.
عَنْ اَبِى قَتَادَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا وَلِيَ اَحَدُكُمْ اَخَاهُ فَلْيُحْسِنْ كَفَنَهُ. الترمذى 2: 232
Dari Abu Qatadah ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang diantara kalian mengurusi saudaranya, maka baguskanlah kafannya". [HR Tirmidzi juz 2, hal. 232]

عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ يُحَدّثُ اَنَّ النَّبِيَّ ص خَطَبَ يَوْمًا، فَذَكَرَ رَجُلاً مِنْ اَصْحَابِهِ قُبِضَ، فَكُفّنَ فِى كَفَنٍ غَيْرِ طَائِلٍ، وَ قُبِرَ لَيْلاً، فَزَجَرَ النَّبِيُّ ص اَنْ يُقْبَرَ الرَّجُلُ باللَّيْلِ، حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهِ، اِلاَّ اَنْ يُضْطَرَّ اِنْسَانٌ اِلَى ذلِكَ. وَ قَالَ النَّبِيُّ ص: اِذَا كَفَّنَ اَحَدُكُمْ اَخَاهُ فَلْيُحَسّنْ كَفَنَهُ. مسلم 2: 651
Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata : Bahwa Nabi SAW pernah berkhutbah pada suatu hari, lalu beliau menyebut tentang seorang laki-laki dari shahabatnya yang telah meninggal dunia, yang dikafani dengan kafan yang pendek dan dikubur pada malam hari, maka Nabi SAW melarang mayyit dikubur pada malam hari sehingga ia dishalati (oleh orang banyak), kecuali kalau ada seseorang yang terpaksa harus begitu. Dan Nabi SAW bersabda, “Apabila salah seorang diantara kalian mengkafani saudaranya maka baguskanlah kafannya". [HR Muslim juz 2, hal. 651]

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ اَبَا بَكْرٍ نَظَرَ اِلَى ثَوْبٍ عَلَيْهِ كَانَ يَمْرَضُ فِيْهِ، بِهِ رَدْعٌ مِنْ زَعْفَرَانٍ، فَقَالَ: اِغْسِلُوْا ثَوْبِى هذَا، وَ زِيْدُوْا عَلَيْهِ ثَوْبَيْنِ، فَكَفّنُوْنِى فِيْهَا. قُلْتُ: اِنَّ هذَا خَلَقٌ. قَالَ: اِنَّ اْلحَيَّ اَحَقُّ بِاْلجَدِيْدِ مِنَ اْلمَيّتِ، اِنَّمَا هُوَ لِلْمُهْلَةِ. مختصر من البخارى 4: 40
Dari 'Aisyah bahwasanya Abu Bakar pernah melihat kepada pakaiannya yang ia pakai di waktu sakit, yang di situ ada bekas-bekas za'faran, lalu ia berkata : Cucilah pakaianku ini dan tambahlah lagi dua lembar, kemudian kafanilah aku dengan pakaian itu. Aku (Aisyah) berkata, “Sesungguhnya pakaian ini sudah bekas". Abu Bakar menjawab, “Sesungguhnya orang yang hidup lebih berhak memakai yang baru daripada orang yang mati, karena kafan itu hanya untuk nanah". [Diringkas dari riwayat Bukhari, Nailul Authar juz 4 halaman 40]

عَنْ عَلِيّ بْنِ اَبِى طَالِبٍ قَالَ: لاَ تَغَالَ لِى فِى كَفَنٍ فَاِنّى سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: لاَ تَغَالَوْا فِى اْلكَفَنِ، فَاِنَّهُ يُسْلَبُهُ سَلْبًا سَرِيْعًا. ابو داود 8: 199، رقم: 3154
Dari Ali bin Abu Thalib, ia berkata : Janganlah kamu mengkafaniku dengan kain kafan yang mahal-mahal, karena saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,“Janganlah kalian menggunakan kain kafan yang mahal-mahal, karena sesungguhnya ia hanyalah barang yang segera rusak". [HR. Abu Dawud, juz 8, hal. 199, no. 3154]

Keterangan :
Sabda Nabi SAW, "Apabila salah seorang diantara kamu mengkafani saudaranya maka baguskanlah kafannya" maksudnya dengan kain kafan yang bersih, suci, dapat menutupi dan sederhana (tidak berlebih-lebihan).
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ وَاقِفٌ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص بِعَرَفَةَ اِذْ وَقَعَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَوَقَصَتْهُ فَذُكِرَ ذلِكَ لِلنَّبِيّ ص فَقَالَ: اِغْسِلُوْهُ بِمَاءٍ وَ سِدْرٍ وَ كَفّنُوْهُ فِى ثَوْبَيْهِ وَ لاَ تُحَنّطُوْهُ وَ لاَ تُخَمّرُوْا رَأْسَهُ فَاِنَّ اللهَ تَعَالَى يَبْعَثُهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مُلَبّيًا. الجماعة، فى نيل الاوطار 4: 46
Dari Ibnu 'Abbas ia berkata : Tatkala seorang laki-laki wuquf bersama Rasulullah SAW di 'Arafah, tiba-tiba ia jatuh dari kendaraannya, kemudian patah tulang lehernya, lalu peristiwa itu disampaikan kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda, “Mandikanlah ia dengan air dan bidara, dan kafanilah dengan kedua pakaian ihramnya, janganlah kamu beri wangi-wangian dan jangan kamu tutup kepalanya, karena Allah Ta'ala akan membangkitkannya pada hari qiyamat nanti dalam keadaan berihram. [HR. Jama'ah, Nailul Authar juz 4, hal. 46]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِغْسِلُوا اْلمُحْرِمَ فِى ثَوْبَيْهِ اللَّذَيْنِ اَحْرَمَ فـِيْهِمَا وَ اغْسِلُوْهُ بِمَاءٍ وَ سِدْرٍ وَ كَفّنُوْهُ بِثَوْبَيْهِ وَ لاَ تُمِسُّوْهُ بِطِيْبٍ وَ لاَ تُخَمّرُوْا رَأْسَهُ فَاِنَّهُ يُبْعَثُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مُحْرِمًا. النسائى 4: 39
Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Mandikanlah orang yang mati dalam keadaan ihram dengan kedua pakaian yang mereka pakai itu, dan mandikanlah dia dengan air dan bidara, lalu kafanilah dengan kedua pakaiannya itu, dan janganlah diberi wangi-wangian, serta jangan ditutup kepalanya, karena Allah akan membangkitkannya pada hari qiyamat nanti dalam keadaan berihram". [HR. Nasai juz 4, hal. 39]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: اَمَرَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَوْمَ اُحُدٍ بِالشُّهَدَاءِ اَنْ نَنْزِعَ عَنْهُمُ اْلحَدِيْدَ وَ اْلجُلُوْدَ وَ قَالَ: اِدْفِنُوْهُمْ بِدِمَائِهِمْ وَ ثِيَابِهِمْ. احمد و ابو داود و ابن ماجه، فى نيل الاوطار 4: 45
Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata, “Rasulullah SAW pada hari perang Uhud memerintahkan kepada kami (ketika akan menguburkan) para shuhada agar baju besi dan jaket kulit mereka dilepaskan, dan beliau bersabda, “Kuburlah mereka dengan darah dan pakaian mereka". [HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah, Nailul Authar juz 4, hal. 45]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ ثَعْلَبَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ يَوْمَ اُحُدٍ: زَمّلُوْهُمْ فِى ثِيَابِهِمْ وَ جَعَلَ يَدْفِنُ فِى اْلقَبْرِ الرَّهْطَ وَ يَقُوْلُ: قَدّمُوْا اَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا. احمد، فى نيل الاوطار 4: 45
Dari Abdullah bin Tsa’labah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda pada hari perang Uhud, “Selimutilah mereka dengan pakaian mereka", dan Rasulullah SAW mengubur mereka secara massal di dalam satu liang lahat, dan bersabda, “Dahulukan diantara mereka yang lebih banyak (hafalan) Al-Qur'annya". [HR. Ahmad, Nailul Authar juz 4, hal. 45]

Keterangan :
Dua hadits terakhir ini menunjukkan bahwa kita diperintahkan mengubur orang yang mati syahid itu dengan pakaian yang dipakai sewaktu terbunuh, dengan melepaskan baju besi dan jaket kulit dan seluruh peralatan perang lainnya yang dibawa.
Kesimpulan
Dari hadit diatas dapat diambil kesimpulan bagaimana Cara mengkafani mayyit adalah sebagai berikut :
  1. Dalam keadaan normal, sebaiknya untuk mengkafani mayyit adalah : kain yang berwarna putih serta dari bahan yang sederhana (tidak mahal). Sedang bila terpaksa karena tidak ada kain, maka boleh memakai penutup lain (tikar, kertas, rumput alang-alang dan sebagainya), yang penting dapat menutup tubuh dan 'auratnya.
  2. Bagi laki-laki dengan tiga lembar kain. Ketiga lembar kain tersebut dihamparkan dan disela-selanya ditaburi kapur barus dan wangi-wangian, lalu mayyat diletakkan di atas kain tersebut, dilobang mata, hidung dan telinga diberi kapas untuk menjaga agar tidak mengeluarkan sesuatu dari padanya. Boleh pula diberi minyak wangi pada beberapa bagian tubuh mayat tersebut, kemudian dibungkus.
  3. Bagi mayyit perempuan, sebaiknya dikafani dengan lima lembar, yaitu basahan (kain bawah), baju kurung (mori yang dibentuk seperti baju), tutup kepala, selimut dan kain yang menutupi seluruh badannya.
  4. Bagi orang yang sedang ber-ihrom dalam pelaksanaan ibadah hajji, bila ia meninggal, kain kafannya adalah pakaian ihromnya itu sendiri, dan tidak usah diberi kapur barus atau wewangian.
  5. Adapun orang yang mati syahid di medan pertempuran, maka mereka ini langsung diquburkan beserta baju yang dipakai tanpa dimandikan sebelumnya, sedang baju besi serta alat-alat perangnya dilepas.
سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

No comments :

Post a Comment

1. Silahkan meninggalkan komentar anda dengan bahasa yang baik dan sopan.
2. Dilarang komentar SPAM, Iklan atau dengan Menyisipkan URL/ Link atau Anchor teks di dalam pesan / komentar, bila ada akan dihapus tanpa pemberitahuan.
3. Terimakasih atas kunjungan anda, semoga bermanfaat