Seputar Shalat Jenazah

Tuesday, March 26, 2013

Seputar Shalat Jenazah

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Seputar Risalah Janaiz

Tentang Menshalatkan Jenazah Anak Kecil

عَنِ اْلمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَلرَّاكِبُ خَلْفَ اْلجَنَازَةِ وَ اْلمَاشِى حَيْثُ شَاءَ مِنْهَا وَ الطّفْلُ يُصَلَّى عَلَيْهِ. احمد 6: 332، رقم: 18186 
Dari Mughirah bin Syu’bah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang naik kendaraan, di belakang jenazah, orang yang berjalan kaki boleh dimana saja ia sukai. Adapun anak kecil dishalatkan jenazahnya”. [HR. Ahmad juz 6, hal. 332, no. 18186]. 

عَنِ اْلمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلرَّاكِبُ خَلْفَ اْلجَنَازَةِ وَ اْلمَاشِى اَمَامَهَا قَرِيْبًا عَنْ يَمِيْنِهَا اَوْ عَنْ يَسَارِهَا وَ السّقْطُ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَ يُدْعَى لِوَالِدَيْهِ بِاْلمَغْفِرَةِ وَ الرَّحْمَةِ. احمد 6: 335، رقم: 18198 
Dari Mughirah bin Syu’bah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Orang yang naik kendaraan, di belakang jenazah, orang yang berjalan berada di depannya, di samping kanan dan kirinya. Adapun keguguran (lahir dalam keadaan meninggal), ia dishalatkan, dan didoakan untuk kedua orang tuanya agar diberi ampunan dan rahmat”. [HR. Ahmad juz 6, hal. 335, no. 18198]. 

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: اُتِيَ رَسُوْلُ اللهِ ص بِصَبِيّ مِنْ صِبْيَانِ اْلاَنْصَارِ، فَصَلَّى عَلَيْهِ. قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ: طُوْبَى لِهذَا عُصْفُوْرٌ مِنْ عَصَافِيْرِ اْلجَنَّةِ، لَمْ يَعْمَلْ سُوْءًا وَ لَمْ يُدْرِكْهُ. قَالَ: اَوَ غَيْرُ ذلِكَ يَا عَائِشَةُ. خَلَقَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ اْلجَنَّةَ وَ خَلَقَ لَهَا اَهْلاً وَ خَلَقَهُمْ فِى اَصْلاَبِ آبَائِهِمْ وَ خَلَقَ النَّارَ وَ خَلَقَ لَهَا اَهْلاً وَ خَلَقَهُمْ فِى اَصْلاَبِ آبَائِهِمْ. النسائى 4: 57 
Dari ‘Aisyah, ia berkata : Didatangakan jenazah anak kecil dari kaum Anshar kepada Rasulullah SAW, lalu beliau menshalatkannya.’Aisyah berkata : Lalu aku berkata, “Beruntunglah anak ini, ia sebagai burung dari burung-burung surga. Dia belum pernah mengerjakan keburukan, dan belum mengerjakan dosa”. Nabi SAW bersabda, “Bahkan akan dimulyakan lebih dari itu, hai ‘Aisyah. Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan surga dan menciptakan pula penghuninya, dan menciptakan mereka itu melalui tulang shulbi ayah-ayah mereka. Dan Allah menciptakan neraka dan menciptakan pula penghuninya, dan menciptakan mereka itu melalui tulang shulbi ayah-ayah mereka”. [HR. Nasaai juz 4, hal. 57] 

عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلطّفْلُ لاَ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَ لاَ يَرِثُ وَ لاَ يُوْرَثَ حَتَّى يَسْتَهِلَّ. الترمذى 2: 248، ضعبف لان فى اسناده اسماعيل بن مسلم 
Dari Jabir dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Anak yang baru lahir tidak dishalatkan, tidak mewarisi dan tidak diwarisi, kecuali kalau sudah bersuara”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 248, dlaif karena dalam sanadnya ada Isma’il bin Muslim] 

عَنْ اَبِى هُرَيْرةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: صَلُّوْا عَلَى اَطْفَالِكُمْ فَاِنَّهُمْ مِنْ اَفْرَاطِكُمْ. ابن ماجه 1: 483، رقم 1509، ضعيف لان فى اسناده البختري بن عبيد و عبيد بن سلمان 
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Shalatkanlah jenazah anak-anak kalian, karena mereka itu adalah pendahulu-pendahulu kalian”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 483, no. 1509, dlaif karena di dalam sanadnya ada Al-Bakhtariy bin ‘Ubaid, dan ‘Ubaid bin Salman] 

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: مَاتَ اِبْرَاهِيْمُ ابْنُ النَّبِيّ ص وَ هُوَ ابْنُ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ شَهْرًا، فَلَمْ يُصَلّ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ص. ابو داود 3: 207 
Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Ketika Ibrahim putra Nabi SAW meninggal dunia pada waktu itu ia berumur delapan belas bulan, Rasulullah SAW tidak menshalatkannya”. [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 207] 

عَنْ وَائِلِ بْنِ دَاوُدَ قَالَ: سَمِعْتُ اْلبَهِيَّ قَالَ: لَمَّا مَاتَ اِبْرَاهِيْمُ ابْنُ النَّبِيّ ص صَلَّى عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ص فِى اْلمَقَاعِدِ. ابو داود 3: 207 
Dari Wail bin Dawud, ia berkata : Saya mendengar Al-Bahiy berkata, “Ketika Ibrahim putra Nabi SAW meninggal dunia, Rasulullah SAW menshalatkannya di tempat duduk”. [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 207, mursal, karena Al-Bahiy seorang Tabi’in] 

عَنْ عَطَاءٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص صَلَّى عَلَى ابْنِهِ اِبْرَاهِيْمَ وَ هُوَ اِبْنُ سَبْعِيْنَ لَيْلَةً. ابو داود 3: 207 
Dari ‘Atha’, bahwasanya Nabi SAW menshalatkan putra beliau yang bernama Ibrahim sedangkan dia berumur tujuh puluh hari. [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 207, mursal karena ‘Atha’ seorang Tabi’in] 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لَمَّا مَاتَ اِبْرَاهِيْمُ ابْنُ رَسُوْلِ اللهِ ص صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ ص، وَ قَالَ: اِنَّ لَهُ مُرْضِعًا فِى اْلجَنَّةِ. وَ لَوْ عَاشَ لَكَانَ صِدّيْقًا نَبِيًّا. وَ لَوْ عَاشَ لَعَتَقَتْ اَخْوَالُهُ اْلقِبْطُ وَ مَا اسْتُرِقَّ قِبْطِيٌّ. ابن ماجه 1: 484، رقم: 1511، ضعيف لان فى اسناده ابراهيم ين عثمان 
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Ketika Ibrahim putra Rasulullah SAW meninggal dunia, Rasulullah SAW menshalatkannya. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya ia mempunyai ibu susu yang menyusui di surga. Dan seandainya dia hidup, tentu dia menjadi seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. Dan seandainya dia hidup, tentu paman-pamannya dari Mesir menjadi merdeka, dan tidak ada seorang Mesir yang menjadi budak”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 484, no. 1511, dlaif karena dalam sanadnya ada Ibrahim bin ‘Utsman] 

Kesimpulan : 
  • Tentang menshalatkan jenazah anak kecil, memang ada dalilnya, namun bukan sebagai keharusan. 
  • Adapun lafadh doa untuk jenazah anak kecil, sampai sekarang kami belum mengetahui lafadh yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Oleh karena itu, boleh kita membuat lafadh doa sendiri. Maka Hasan Al-Bashriy (seorang tabi’in) membaca di dalam doa shalat jenazah untuk anak kecil : 
اَللّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا فَرَطًا وَ سَلَفًا وَ اَجْرًا. البخارى 
Ya Allah, jadikanlah anak kecil ini sebagai pendahulu, pelopor dan pahala bagi kami. [HR. Bukhari juz 2, hal. 91] 
  • Apabila kedua orang tuanya itu Islam, boleh pula didoakan agar mendapat rahmat dan ampunan, walloohu a’lam. 
Tempat berdirinya imam dalam shalat jenazah, apabila mayyitnya laki-laki, perempuan atau campuran 

عَنْ سَمُرَةَ رض قَالَ: صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِيّ ص عَلَى امْرَأَةٍ مَاتَتْ فِى نِفَاسِهَا، فَقَامَ عَلَيْهَا وَسَطَهَا. البخارى 2: 91 
Dari Samurah RA, ia berkata : Saya pernah shalat jenazah di belakang Nabi SAW yang menshalatkan wanita yang mati dalam keadaan nifas. Dan beliau SAW dalam shalatnya itu berdiri pada tengah-tengahnya. [HR. Bukhari juz 2, hal. 91] 

عَنْ اَبِى غَالِبٍ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَلَى جَنَازَةِ رَجُلٍ، فَقَامَ حِيَالَ رَأْسِهِ ثُمَّ جَاءُوْا بِجَنَازَةِ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ فَقَالُوْا: يَا اَبَا حَمْزَةَ، صَلّ عَلَيْهَا، فَقَامَ حِيَالَ وَسَطِ السَّرِيْرِ. فَقَالَ لَهُ اْلعَلاَءُ بْنُ زِيَادٍ: هكَذَا رَأَيْتَ رَسُوْلَ اللهِ ص قَامَ عَلَى اْلجَنَازَةِ مَقَامَكَ مِنْهَا وَ مِنَ الرَّجُلِ مَقَامَكَ مِنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ. فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: اِحْفَظُوْا. الترمذى 2: 249، رقم: 1039 
Dari Abu Ghalib, ia berkata : Aku pernah bersama Anas bin Malik menshalatkan jenazah seorang laki-laki, lalu ia berdiri di dekat kepalanya. Kemudian orang-orang datang dengan membawa jenazah seorang perempuan Quraisy, lalu mereka berkata, “Ya Abu Hamzah, shalatkanlah jenazah wanita ini”. Lalu ia menshalatkannya dan ia berdiri di tengah-tengahnya. Lalu Al-’Ala’ bin Ziyad bertanya, “Hai Abu Hamzah, demikian kah kamu melihat Rasulullah SAW berdiri untuk jenazah wanita sebagaimana kamu berdiri, dan untuk jenazah laki-laki sebagaimana kamu berdiri ?”. Ia menjawab, “Ya”. Setelah selesai, ia berkata, “Jagalah”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 249, no. 1039] 

عَنْ عَمَّارٍ اَنَّ اُمَّ كُلْثُوْمٍ بِنْتَ عَلِيّ وَ ابْنَهَا زَيْدَ بْنَ عُمَرَ اُخْرِجَتْ جَنَازَتَاهُمَا، فَصَلَّى عَلَيْهِمَا اَمِيْرُ اْلمَدِيْنَةِ، فَجَعَلَ اْلمَرْأَةَ بَيْنَ يَدَيِ الرَّجُلِ، وَ اَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ ص يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ، وَ ثَمَّتِ اْلحَسَنُ وَ اْلحُسَيْنُ. سعيد فى سننه، فى نيل الاوطار 4: 76 
Dari ‘Ammar, bahwa Ummu Kultsum binti ‘Ali dan anak laki-lakinya yaitu Zaid bin ‘Umar meninggal dunia bersama, lalu kedua jenazahnya itu dikeluarkan, kemudian keduanya dishalatkan oleh Gubernur Madinah, maka ia meletakkan jenazah perempuan di depan jenazah laki-laki (jenazah laki-laki dekat dengan orang yang menshalatkan), sedang shahabat-shahabat Rasulullah SAW pada waktu itu masih banyak yang hidup, diantaranya Hasan dan Husain. [HR. Sa’id di dalam Sunnannya, dalam Nailul Authar juz 4, hal. 76] 

عَنِ الشَّعْبِيّ اَنَّ اُمَّ كُلْثُوْمٍ بِنْتَ عَلِيّ وَ ابْنَهَا زَيْدَ بْنَ عُمَرَ تُوُفّيَا جَمِيْعًا، فَاُخْرِجَتْ جَنَازَتَاهُمَا، فَصَلَّى عَلَيْهِمَا اَمِيْرُ اْلمَدِيْنَةِ فَسَوَّى بَيْنَ رُءُوْسِهِمَا وَ اَرْجُلِهِمَا حِيْنَ صَلَّى عَلَيْهِمَا. سعيد فى سننه، فى نيل الاوطار 4: 76 
Dari Asy-Sya’biy bahwa Ummu Kultsum binti ‘Ali dan anak laki-lakinya yaitu Zaid bin ‘Umar telah meninggal dunia bersama, kemudian jenazah keduanya dikeluarkan, lalu keduanya dishalatkan oleh Gubernur Madinah, maka ia mensejajarkan antara kepala dan kaki-kaki keduanya ketika akan menshalatkan keduanya. [HR. Sa’id, di dalam Sunannya. Dalam Nailul Authar juz 4, hal. 76] 

Shalat jenazah di masjid 

عَنْ اَبِى سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمنِ اَنَّ عَائِشَةَ لَمَّا تُوُفّيَ سَعْدُ بْنُ اَبِى وَقَّاصٍ قَالَتْ، اُدْخُلُوْا بِهِ اْلمَسْجِدَ حَتَّى اُصَلّيَ عَلَيْهِ، فَاُنْكِرَ ذلِكَ عَلَيْهَا فَقَالَتْ: وَ اللهِ لَقَدْ صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ ص عَلَى ابْنَيْ بَيْضَاءَ فِى اْلمَسْجِدِ، سُهَيْلٍ وَ اَخِيْهِ. مسلم 2: 669 
Dari Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman, bahwasanya ‘Aisyah, ketika Sa’ad bin Abu Waqqash meninggal dunia, ia berkata, “Masukkanlah jenazah itu ke masjid sehingga aku bisa menshalatkannya”, lalu yang demikian itu ditolak. Maka ‘Aisyah berkata, “Demi Allah, Rasulullah SAW pernah menshalatkan jenazah dua anak Baidla’ di dalam masjid, yaitu Suhail dan saudaranya”. [HR. Muslim juz 2, hal. 669] 

عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ اَنَّ عَائِشَةَ اَمَرَتْ اَنْ يُمَرَّ بِجَنَازَةِ سَعْدِ بْنِ اَبِى وَقَّاصٍ فِى اْلمَسْجِدِ فَتُصَلّيَ عَلَيْهِ، فَاَنْكَرَ النَّاسُ ذلِكَ عَلَيْهَا، فَقَالَتْ: مَا اَسْرَعَ مَا نَسِيَ النَّاسُ، مَا صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ ص عَلَى سُهَيْلِ بْنِ اْلبَيْضَاءَ اِلاَّ فِى اْلمَسْجِدِ. مسلم 2: 668 
Dari ‘Abbad bin ‘Abdullah bn Zubair, bahwasanya ‘Aisyah menyuruh supaya jenazah Sa’ad bin Abi Waqqash dilewatkan di masjid, agar beliau bisa menshalatkannya, lalu orang-orang mengingkari yang demikian itu. Maka ‘Aisyah berkata, Alangkah cepatnya manusia itu lupa, padahal Rasulullah SAW tidak menshalatkan Suhail bin Baidla’ melainkan di masjid”. [HR. Muslim juz 2, hal. 668] 

عَنْ عُرْوَةَ قَالَ: صُلّيَ عَلَى اَبِى بَكْرٍ فِى اْلمَسْجِدِ. سعيد. نيل الاوطار 4: 77 
Dari ‘Urwah, ia berkata, “Jenazah Abu Bakar dishalatkan di masjid”. [HR. Sa’id. Dalam Nailul Authar juz 4, hal. 77] 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ اَنَّهُ قَالَ: صُلّيَ عَلَى عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ فِى اْلمَسْجِدِ. مالك فى الموطأ 1: 230 
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, bahwasanya ia berkata, “(Jenazah) ‘Umar bin Khaththab dishalatkan di masjid”. [HR. Malik, dalam Muwathtah’ juz 1, hal. 230] 

Shalat ghaib dan shalat jenazah di atas qubur 

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص نَعَى النَّجَاشِيَّ فِى اْليَوْمِ الَّذِى مَاتَ فِيْهِ، خَرَجَ اِلَى اْلمُصَلَّى، فَصَفَّ بِهِمْ وَ كَبَّرَ اَرْبَعًا. البخارى 2: 71 
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW mengumumkan kematian raja Najasyi pada hari meninggalnya, lalu beliau keluar ke mushalla (bersama para shahabat), kemudian beliau mengatur shaff mereka dan (dalam shalat tersebut) beliau takbir empat kali. [HR. Bukhari juz 2, hal. 71] 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: اِنْتَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص اِلَى قَبْرٍ رَطْبٍ، فَصَلَّى عَلَيْهِ. وَ صَفُّوْا خَلْفَهُ، وَ كَبَّرَ اَرْبَعًا. مسلم 2: 658 
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah SAW berhenti pada sebuah quburan yang masih basah (baru), lalu beliau menshalatkannya, sedang shahabat-shahabat berbaris di belakangnya, dan beliau bertakbir empat kali. [HR. Muslim juz 2, hal. 658] 

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ اْلمَسْجِدَ اَوْ شَابًا، فَفَقَدَهَا رَسُوْلُ اللهِ ص، فَسَأَلَ عَنْهَا اَوْ عَنْهُ. فَقَالُوْا: مَاتَ. قَالَ: اَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُوْنِى؟ قَالَ: فَكَاَنَّهُمْ صَغَّرُوْا اَمْرَهَا اَوْ اَمْرَهُ. فَقَالَ: دُلُّوْنِى عَلَى قَبْرِهِ. فَدَلُّوْهُ. فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ: اِنَّ هذِهِ اْلقُبُوْرَ مَمْلُوْءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى اَهْلِهَا، وَ اِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ يُنَوّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِى عَلَيْهِمْ. مسلم 2: 659 
Dari Abu Hurairah bahwa ada seorang perempuan hitam (atau seorang pemuda) tukang sapu masjid (telah meninggal), maka Rasulullah SAW kehilangan dia, kemudian beliau menanyakan tentang perempuan (atau pemuda tadi), lalu para shahabat menjawab, “Dia telah meninggal”. Kemudian Rasulullah SAW bertanya, “Mengapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?”. (Abu Hurairah) berkata, “Seolah-olah mereka meremehkan persoalan perempuan atau pemuda itu, kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Tunjukkanlah quburnya kepadaku”. Lalu mereka menunjukkannya. Kemudian beliau menshalatkannya, lalu bersabda, “Sesungguhnya qubur ini penuh kegelapan bagi penghuninya, kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menerangi qubur ini sebab shalatku pada mereka”. [HR. Muslim juz 2, hal. 659] 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص صَلَّى عَلَى قَبْرٍ بَعْدَ شَهْرٍ. الدارقطنى 2: 78 
Dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi SAW pernah menshalatkan (mayyit) setelah di qubur sesudah sebulan. [HR. Daruquthni juz 2, hal. 78] 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص صَلَّى عَلَى مَيّتٍ بَعْدَ مَوْتِهِ بِثَلاَثٍ. الدارقطنى 2: 78 
Dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi SAW pernah menshalatkan mayyit sesudah (diqubur) tiga hari lamanya. [HR. Daruquthni juz 2, hal. 78] 

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ اْلمُسَيَّبِ اَنَّ اُمَّ سَعْدٍ مَاتَتْ وَ النَّبِيُّ ص غَائِبٌ. فَلَمَّا قَدِمَ صَلَّى عَلَيْهَا. وَ قَدْ مَضَى لِذلِكَ شَهْرٌ. الترمذى 2: 251 
Dari Sa’id bin Musayyab bahwa Ummu Sa’ad meninggal dunia, ketika itu Nabi SAW tidak di rumah, kemudian setelah datang maka beliau menshalatkannya, padahal telah lewat waktu sebulan lamanya. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 251] 

Shalat jenazah untuk orang yang dihukum had 

عَنْ جَابِرٍ اَنَّ رَجُلاً مِنْ اَسْلَمَ جَاءَ النَّبِيَّ ص فَاعْتَرَفَ بِالزّنَا، فَاَعْرَضَ عَنْهُ النَّبِيُّ ص حَتَّى شَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ اَرْبَعَ مَرّاتٍ. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ص: اَبِكَ جُنُوْنٌ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: آحْصَنْتَ؟ قَالَ: نَعَمْ. فَاَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ بِاْلمُصَلَّى. فَلَمَّا اَذْلَقَتْهُ اْلحِجَارَةُ فَرَّ، فَاُدْرِكَ فَرُجِمَ حَتَّى مَاتَ. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ص: خَيْرًا. وَ صَلَّى عَلَيْهِ. البخارى 8: 22 
Dari Jabir bahwa ada seorang laki-laki dari suku Aslam datang kepada Nabi SAW lalu ia mengaku berzina, maka Nabi SAW berpaling daripadanya, sehingga ia bersumpah 4 kali, kemudian Nabi SAW bertanya lagi, “Apakah kamu gila?”. Ia menjawab, “Tidak”. Nabi SAW bertanya lagi, “Apakah kamu pernah beristri?”. Ia menjawab, “Ya”. Kemudian Nabi SAW memerintahkan terhadapnya, lalu ia dirajam di Mushalla. Kemudian ketika terkena lemparan batu ia lari, lalu ditangkap, kemudian dirajam lagi sampai meninggal. Kemudian Nabi SAW bersabda kepadanya, “Ia mendapat kebaikan”, Dan Nabi SAW menshalatkannya. [HR. Bukhari juz 8, hal. 22] 

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ اَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ اَتَتِ النَّبِيَّ ص وَ هِيَ حُبْلَى مِنَ الزّنَا، فَقَالَتْ: يَا نَبِيَّ اللهِ، اَصَبْتُ حَدًّا فَاَقِمْهُ عَلَيَّ. فَدَعَا نَبِيُّ اللهِ ص وَلِيَّهَا فَقَالَ: اَحْسِنْ اِلَيْهَا. فَاِذَا وَضَعَتْ فَائْتِنِى بِهَا، فَفَعَلَ. فَاَمَرَ بِهَا نَبِيُّ اللهِ ص فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا. ثُمَّ اَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ. ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: تُصَلّى عَلَيْهَا يَا نَبِيَّ اللهِ، وَ قَدْ زَنَتْ؟ فَقَالَ: لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِيْنَ مِنْ اَهْلِ اْلمَدِيْنَةِ لَوَسِعَتْهُمْ. وَ هَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً اَفْضَلَ مِنْ اَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا ِللهِ تَعَالَى؟ مسلم 3: 1324 
Dari ‘Imran bin Hushain bahwasanya seorang perempuan dari (suku) Juhainah datang kepada Nabi SAW, sedang ia dalam keadaan mengandung karena berzina. Lalu ia berkata, “Ya Nabiyyallah, saya wajib dihukum had, karena itu lakukanlah kepadaku!”. Kemudian Nabi SAW memanggil walinya dan bersabda, “Berbuat baiklah kepadanya, dan apabila ia telah melahirkan, bawalah ia kemari”. Maka walinya pun melaksanakan perintah itu. Kemudian Nabiyyallah memerintahkan supaya hukuman itu dilaksanakan terhadapnya, lalu dibetulkan dan diikat pakaiannya dan diperintahkan supaya dirajam, lalu ia dirajam. Kemudian beliau menshalatkannya. Lalu ‘Umar bertanya, “Mengapa engkau menshalatkannya ya Nabiyyallah, padahal ia telah berzina?”. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ia telah bertaubat dengan suatu taubat yang seandainya dibagikan diantara tujuh puluh dari penduduk Madinah niscaya mencukupi mereka. Apakah engkau mendapati suatu taubat yang lebih utama dari pada perempuan yang menyerahkan dirinya karena Allah Ta’ala?“. [HR. Muslim juz 3, hal. 1324] 

Nabi SAW tidak mau menshalatkan orang yang berkhianat dan yang mati bunuh diri

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ اْلجُهَنِيّ اَنَّ رَجُلاً مِنْ اَصْحَابِ النَّبِيّ ص تُوُفّيَ يَوْمَ خَيْبَرَ فَذَكَرُوْا ذلِكَ لِرَسُوْلِ اللهِ ص فَقَالَ: صَلُّوْا عَلَى صَاحِبِكُمْ. فَتَغَيَّرَتْ وَجُوْهُ النَّاسِ لِذلِكَ. فَقَالَ: اِنَّ صَاحِبَكُمْ غَلَّ فِى سَبِيْلِ اللهِ. فَفَتَّشْنَا مَتَاعَهُ. فَوَجَدْنَا خَرَزًا مِنْ خَرَزِ يَهُوْدَ لاَ يُسَاوِى دِرْهَمَيْنِ. ابو داود 3: 68، رقم: 2710 
Dari Zaid bin Khalid Al-Juhaniy bahwasanya ada seorang laki-laki dari shahabat Nabi SAW yang meninggal pada hari perang Khaibar, lalu para shahabat melaporkan yang demikian itu kepada Rasulullah SAW, namun beliau bersabda, “Shalatkanlah saudaramu itu”. Kemudian berubahlah wajah orang-orang setelah mendengar hal itu. Kamudian Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya saudaramu itu pernah berkhianat ketika perang fii sabiilillaah”. Kemudian kami periksa barang-barangnya, maka kami temukan sebuah permata orang Yahudi yang kira-kira tidak sampai senilai dua dirham. [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 68, no. 2710] 

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: اُتِيَ النَّبِيُّ ص بِرَجُلٍ قَتَلَ نَفْسَهُ بِمَشَاقِصَ، فَلَمْ يُصَلّ عَلَيْهِ. مسلم 2: 672 
Dari Jabir bin Samurah, ia berkata : Didatangkan kepada Nabi SAW jenazah seorang laki-laki yang mati bunuh diri dengan ujung panah yang runcing, namun Nabi SAW tidak mau menshalatkannya. [HR. Muslim juz 2, hal. 672] 

Keterangan : 
Bunuh diri itu haram hukumnya. Namun demikian, apabila ada orang Islam yang melakukan hal tersebut, tidak otomatis dia menjadi kafir. Dengan demikian, apabila ada orang Islam yang mati bunuh diri, maka kitapun tetap berkewajiban menshalatkannya. Adapun tentang bunuh dirinya itu, urusan dia dengan Allah, kita serahkan saja kepada-Nya. Karena ada pula riwayat bahwa Nabi SAW mendoakan orang yang mati bunuh diri sebagaimana hadits berikut :  
عَنْ جَابِرٍ اَنَّ الطُّفَيْلَ بْنَ عَمْرٍو الدَّوْسِيَّ اَتَى النَّبِيَّ ص فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَلْ لَكَ فِى حِصْنٍ حَصِيْنٍ وَ مَنْعَةٍ؟ (قَالَ حِصْنٌ كَانَ لِدَوْسٍ فِى اْلجَاهِلِيَّةِ) فَاَبَى ذلِكَ النَّبِيُّ ص لِلَّذِى ذَخَرَ اللهُ لِـْلاَنْصَارِ. فَلَمَّا هَاجَرَ النَّبِيُّ ص اِلَى اْلمَدِيْنَةِ هَاجَرَ اِلَيْهِ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو وَ هَاجَرَ مَعَهُ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ. فَاجْتَوَوُا اْلمَدِيْنَةَ فَمَرِضَ فَجَزِعَ فَاَخَذَ مَشَاقِصَ لَهُ، فَقَطَعَ بِهَا بَرَاجِمَهُ، فَشَخَبَتْ يَدَاهُ حَتَّى مَاتَ. فَرَآهُ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو فِى مَنَامِهِ. فَرَآهُ وَ هَيْئَتُهُ حَسَنَةٌ. وَ رَآهُ مُغَطِّيًا يَدَيْهِ فَقَالَ لَهُ: مَا صَنَعَ بِكَ رَبُّكَ؟ فَقَالَ غَفَرَلِى بَهِجْرَتِى اِلَى نَبِيِّهِ ص. فَقَالَ: مَا لِى اَرَاكَ مُغَطِّيًا يَدَيْكَ؟ قَالَ قِيْلَ لِى. لَنْ نُصْلِحَ مِنْكَ مَا اَفْسَدْتَ. فَقَصَّهَا الطُّفَيْلُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ ص. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص. اَللّهُمَّ وَ لِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ. مسلم 
Dari Jabir, bahwa Ath-Thufail bin Amr Ad-Dausiy datang kepada Nabi SAW lalu berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau mau berada dalam benteng yang kokoh dan kuat?”. (Benteng itu milik keluarga Daus di zaman Jahiliyah). Rasulullah SAW menolak untuk itu, karena sudah ada yang disimpankan Allah pada golongan Anshar. Ketika Nabi SAW hijrah ke Madinah, Ath-Thufail bin Amr juga hijrah ke sana disertai seseorang dari kaumnya. Ternyata mereka tidak kerasan tinggal di Madinah. Kemudian orang yang menyertai Ath-Thufail bin Amr tersebut sakit. Dia tidak sabar dengan sakitnya, maka diambilnya anak panah bermata lebar miliknya. Dengan itu dia potong ruas-ruas jarinya, sehingga kedua tangannya mengalirkan darah dengan deras, sehingga mati. Suatu hari Ath-Thufail bin Amr memimpikan orang itu. Dalam mimpinya Ath-Thufail melihat orang tersebut dalam keadaan baik, tetapi dia menutupi kedua tangannya. Lalu Ath-Thufail bertanya, “Apa tindakan Tuhanmu terhadapmu?”. Orang itu menjawab, “Dia mengampuniku karena hijrahku kepada Nabi-Nya SAW”. Ath-Thufail bertanya lagi, “Kenapa aku lihat engkau menutupi kedua tanganmu?”. Orang itu menjawab, “Dikatakan kepadaku : “Kami tidak akan memperbaiki dirimu apa yang telah engkau rusak”. Kemudian Ath-Thufail menceritakan mimpinya kepada Rasulullah SAW, lalu beliau berdoa, “Ya Allah, untuk kedua tangannya, maka ampunilah dia”. [HR. Muslim juz 1, hal 109] 

 سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

No comments :

Post a Comment

1. Silahkan meninggalkan komentar anda dengan bahasa yang baik dan sopan.
2. Dilarang komentar SPAM, Iklan atau dengan Menyisipkan URL/ Link atau Anchor teks di dalam pesan / komentar, bila ada akan dihapus tanpa pemberitahuan.
3. Terimakasih atas kunjungan anda, semoga bermanfaat