Membuat Liang Kubur Dan Menguburkan Mayit

Monday, April 08, 2013

Membuat Liang Kubur Dan Menguburkan Mayit

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Seputar Risalah Janaiz
Membuat lahad/liang qubur

عَنْ رَجُلٍ مِنَ اْلاَنْصَارِ قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص فِى جَنَازَةِ رَجُلٍ مِنَ اْلاَنْصَارِ وَ اَنَا غُلاَمٌ مَعَ اَبِى، فَجَلَسَ رَسُوْلُ اللهِ ص عَلَى حَفِيْرَةِ اْلقَبْرِ، فَجَعَلَ يُوْصِى اْلحَافِرَ وَ يَقُوْلُ: اَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ الرَّأْسِ، وَ اَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ الرّجْلَيْنِ. لَرُبَّ عِذْقٍ لَهُ فِى اْلجَنَّةِ. احمد 9: 122، رقم: 23525
Dari seorang laki-laki dari kaum Anshar, ia berkata : Kami pernah keluar bersama Rasulullah SAW (mengantar) jenazah seorang laki-laki dari kaum Anshar, pada waktu itu saya masih kecil, aku bersama ayahku, lalu Rasulullah SAW duduk di tepi lubang qubur, beliau berpesan kepada penggali qubur sambil bersabda,“Luaskanlah pada bagian kepala, dan luaskanlah juga pada bagian kedua kaki. Sungguh ada banyak kurma baginya di surga”. [HR. Ahmad juz 9, hal. 122, no. 23525]

Keterangan :
Yang dimaksud “sungguh ada banyak kurma baginya di surga” ini menunjukkan bahwa mayyit tersebut tergolong hamba Allah yang shalih dan amalnya diterima.

عَنْ رَجُلٍ مِنَ اْلاَنْصَارِ قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص فِى جَنَازَةٍ فَرَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص وَ هُوَ عَلَى اْلقَبْرِ يُوْصِى اْلحَافِرَ: اَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ، اَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ. ابو داود 3: 244، رقم: 3332
Dari seorang laki-laki dari kaum Anshar, ia berkata : Kami pernah keluar bersama Rasulullah SAW mengantar jenazah, lalu kami melihat Rasulullah SAW di atas liang qubur, beliau memberi nasehat kepada orang yang menggali liang qubur, “Luaskanlah pada bagian kedua kakinya, dan luaskanlah pada bagian kepala”. [HR.Abu Dawud juz 3, hal. 244, no. 3332]

عَنْ هِشَامِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: شُكِيَ اِلىَ رَسُوْلِ اللهِ ص اْلجِرَاحَاتُ يَوْمَ اُحُدٍ، فَقَالَ: اِحْفِرُوْا وَ اَوْسِعُوْا وَ اَحْسِنُوْا، وَ ادْفِنُوا اْلاِثْنَيْنِ وَ الثَّلاَثَةَ فِى قَبْرٍ وَاحِدٍ وَ قَدّمُوْا اَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا. فَمَاتَ اَبِى فَقُدّمَ بَيْنَ يَدَىْ رَجُلَيْنِ. الترمذى 3: 128، و قال هذا حديث حسن صحح
Dari Hisyam bin ‘Amir, ia berkata : Diberitahukan kepada Rasulullah SAW tentang orang-orang yang gugur karena luka-luka pada hari perang Uhud, maka Rasulullah SAW bersabda, “Galilah dan luaskanlah dan, baguskanlah, lalu quburkanlah dua atau tiga orang di dalam satu liang qubur, dan dahulukanlah orang yang paling banyak hafal Al-Qur’an”. Sedang ayahku gugur, lalu diqubur didahulukan daripada kedua orang lainnya”. [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 128, dan ia berkata : Hadits hasan shahih]

عَنْ هِشَامِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: شَكَوْنَا اِلىَ رَسُوْلِ اللهِ ص يَوْمَ اُحُدٍ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلْحَفْرُ عَلَيْنَا لِكُلّ اِنْسَانٍ شَدِيْدٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِحْفِرُوْا وَ اَعْمِقُوْا وَ اَحْسِنُوْا، وَ ادْفِنُوا اْلاِثْنَيْنِ وَ الثَّلاَثَةَ فِى قَبْرٍ وَاحِدٍ. قَالُوْا: فَمَنْ نُقَدّمُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: قَدّمُوْا اَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا. قَالَ: فَكَانَ اَبِى ثَالِثَ ثَلاَثَةٍ فِى قَبْرٍ وَاحِدٍ.النسائى 4: 80
Dari Hisyam bin ‘Amir, ia berkata : Kami pernah memberitahukan kepada Rasulullah SAW tentang orang-orang yang gugur pada perang Uhud. Kami berkata, “Ya Rasulullah, menggali satu qubur untuk setiap orang adalah sangat berat bagi kami”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Galilah dan dalamkanlah, baguskanlah, lalu quburkanlah dua atau tiga orang di dalam satu liang qubur”. Para shahabat bertanya, “Siapakah yang harus kami dahulukan (memasukkan ke liang qubur), ya Rasulullah ?”. Beliau menjawab, “Dahulukanlah orang yang paling banyak hafal Al-Qur’an diantara mereka”. Sedang ayahku termasuk salah satu dari tiga orang yang diqubur dalam satu liang qubur”. [HR. Nasai juz 4, hal. 80]

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ اَبِى وَقَّاصٍ اَنَّ سَعْدَ بْنَ اَبِى وَقَّاصٍ قَالَ فِى مَرَضِهِ الَّذِى هَلَكِ فِيْهِ: اِلْحَدُوْا لِى لَحْدًا، وَ انْصِبُوْا عَلَيَّ اللَّبِنَ نَصْبًا، كَمَا صُنِعَ بِرَسُوْلِ اللهِ ص. مسلم 2: 665
Dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash, bahwasanya Sa’ad bin Abi Waqqash pernah berkata diwaktu sakit yang membawa kematiannya, “Galikanlah lahad untukku, dan tancapkanlah batu-bata padaku (sebagai penutup liang lahad) sebagaimana dilakukan terhadap Rasulullah SAW”. [HR. Muslim juz 2, hal. 665]

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: لَمَّا تُوُفّيَ النَّبِيُّ ص كَانَ بِاْلمَدِيْنَةِ رَجُلٌ يَلْحَدُ، وَ آخَرُ يَضْرَحُ، فَقَالُوْا: نَسْتَخِيْرُ رَبَّنَا وَ نَبْعَثُ اِلَيْهِمَا، فَاَيُّهُمَا سُبِقَ تَرَكْنَاهُ، فَاُرْسِلَ اِلَيْهِمَا. فَسَبَقَ صَاحِبُ اللَّحْدِ، فَلَحَدُوْا لِلنَّبِيّ ص. ابن ماجه 1: 496
Dari Anas bin Malik, ia berkata : Ketika Nabi SAW wafat, maka ada seorang laki-laki di Madinah yang menggali lahad dan yang lain menggali lubang tengah, kemudian mereka (para shahabat) berkata, “Kami akan memohon kepada Tuhan kami agar dipilihkan, lalu kami akan mengutus kepada kedua orang itu. Maka siapa diantara keduanya yang datangnya akhir, maka akan kami tinggalkan”. Lalu diutuslah kepada mereka berdua, dan penggali lahadlah yang lebih dahulu datang, maka mereka menetapkan lahad itu untuk Nabi SAW”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 496]

Larangan memasukkan mayyit ke qubur sesudah bercampur.

عَنْ اَنَسٍ رض قَالَ: شَهِدْنَا بِنْتَ رَسُوْلِ اللهِ ص وَ رَسُوْلُ اللهِ ص جَالِسٌ عَلَى اْلقَبْرِ فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَدْمَعَانِ فَقَالَ: هَلْ فِيْكُمْ مِنْ اَحَدٍ لَمْ يُقَارِفِ اللَّيْلَةَ؟ فَقَالَ اَبُوْ طَلْحَةَ: اَنَا. قَالَ: فَانْزِلْ فِى قَبْرِهَا، قَالَ: فَنَزَلَ فِى قَبْرِهَا، فَقَبَرَهَا. البخارى 2: 93
Dari Anas RA, ia berkata : Kami menyaksikan ketika putri Rasulullah SAW (akan diqubur) sedang Rasulullah SAW duduk di tepi qubur, maka aku melihat kedua mata beliau melelehkan air mata, lalu beliau bertanya, “Adakah diantara kalian orang yang tadi malam tidak mengumpuli istrinya ?’. Abu Thalhah menjawab,“Saya, ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Turunlah kamu di quburnya”. (Perawi) berkata : Lalu Abu Thalhah turun di quburnya, lalu menguburnya. [HR. Bukhari juz 2, hal. 93]

Keterangan :
Hadits di atas menunjukkan :
  1. Untuk menurunkan jenazah ke dalam qubur hendaknya lebih diutamakan laki-laki yang malamnya tidak mengumpuli istrinya.
  2. Boleh duduk di tepi qubur.
  3. Boleh melelehkan air mata sesudah ditinggal mati.
Mengubur mayyit dan bacaannya.

عَنْ اَبِى اِسْحَاقَ قَالَ: اَوْصَى اْلحَارِثُ اَنْ يُصَلّيَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللهِ ابْنُ يَزِيْدَ، فَصَلَّى عَلَيْهِ، ثُمَّ اَدْخَلَهُ اْلقَبْرَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيِ اْلقَبْرِ. وَ قَالَ: هذَا مِنَ السُّنَّةِ. ابو داود 3: 213
Dari Abu Ishaq, ia berkata : Al-Harits telah berwashiyat agar ‘Abdullah bin Yazid menshalatkannya. Maka ‘Abdullah menshalatkannya, kemudian memasukkannya ke dalam qubur dari arah kaki qubur, dan ia berkata, “Ini menurut sunnah (Nabi SAW)”. [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 213]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ اِذَا وَضَعَ اْلمَيّتَ فِى اْلقَبْرِ، قَالَ: بِسْمِ اللهِ وَ عَلَى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ. ابو داود 3: 214
Dari Ibnu ‘Umar, bahwa Nabi SAW apabila meletakkan mayyit ke dalam qubur, beliau membaca Bismillaahi wa ‘alaa sunnati Rasuulillaah (Dengan nama Allah dan atas tuntunan Rasulullah). [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 214]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا اُدْخِلَ اْلمَيّتُ اْلقَبْرَ قَالَ: بِسْمِ اللهِ وَ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ. وَ قَالَ اَبُوْ خَالِدٍ مَرَّةً: اِذَا وُضِعَ اْلمَيّتُ فِى لَحْدِهِ قَالَ: بِسْمِ اللهِ وَ عَلَى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ. ان ماجه 1: 495
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila mayyit telah dimasukkan ke qubur, beliau membaca “Bismillaahi wa ‘alaa millati rasuulillaah. (Dengan Nama Allah, dan atas tuntunan Rasulullah). Abu Khalid (perawi) pada kali yang lain berkata : Apabila mayyit telah diletakkan dalam liang lahadnya, beliau membacaBismillaahi wa ‘alaa sunnati Rasuulillaah (Dengan Nama Allah dan atas sunnah Rasulullah). [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 495]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ ثُمَّ اَتَى قَبْرَ اْلمَيّتِ فَحَثَى عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ ثَلاَثًا. ابن ماجه 1: 499
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi SAW pernah menshalatkan jenazah, kemudian datang ke qubur mayyit itu, lalu beliau menaburkan tanah atasnya dari arah kepala tiga kali. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 199]

Doa bagi mayyit setelah selesai diqubur.

عَنْ عُثْمَانَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ اْلمَيّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ: اِسْتَغْفِرُوْا ِلاَخِيْكُمْ وَ سَلُوْا لَهُ التَّثْبِيْتَ، فَاِنَّهُ اْلآنَ يُسْأَلُ. ابو داود 3: 215
Dari ‘Utsman (bin ‘Affan), ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila selesai mengubur mayyit, beliau berdiri dan bersabda, “Mohonkanlah ampun untuk saudaramu, dan mohonkanlah ketetapan baginya, karena sesungguhnya ia sekarang (sedang) ditanya”. [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 215]

Keterangan :
Doa bagi mayyit setelah diqubur ini boleh dengan bahasa ‘Arab, bahasa Indonesia, bahasa Jawa atau bahasa apasaja. Kalau dengan bahasa ‘Arab, boleh dengan lafadh :
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَ ثَبّتْهُ
Ya Allah, ampunilah dia dan berilah ketetapan untuknya.

Mengubur jenazah pada malam hari.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: مَاتَ رَجُلٌ وَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَعُوْدُهُ، فَدَفَنُوْهُ بِاللَّيْلِ، فَلَمَّا اَصْبَحَ اَعْلَمُوْهُ، فَقَالَ: مَا مَنَعَكُمْ اَنْ تُعْلِمُوْنِى؟ قَالُوْا: كَانَ اللَّيْلُ وَ كَانَتِ الظُّلْمَةُ فَكَرِهْنَا اَنْ نَشُقَّ عَلَيْكَ. فَاَتَى قَبْرَهُ فَصَلَّى عَلَيْهِ. ابن ماحه 1: 489، رقم: 1530

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Ada seorang laki-laki meninggal dunia dan adalah Rasulullah SAW pernah menjenguknya. (Dia meninggal pada malam hari), lalu mereka menguburkannya pada malam itu juga. Kemudian setelah pagi harinya mereka memberitahukan kepada Rasulullah SAW, maka beliau bertanya, “Apa yang menghalangi kalian memberitahukan kepadaku ?”. Mereka menjawab, “Karena waktu malam dan gelap, maka kami tidak suka (khawatir) menyusahkan engkau”. Kemudian Rasulullah SAW datang ke quburnya, lalu beliau menshalatkannya. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 489, no. 1530]

عَنْ عَائِشَةَ اُمّ اْلمُؤْمِنِيْنَ قَالَتْ: مَا عَلِمْنَا بِدَفْنِ رَسُوْلِ اللهِ ص حَتَّى سَمِعْنَا صَوْتَ اْلمَسَاحِى مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ لَيْلَةَ اْلاَرْبِعَاءِ. احمد 10: 144، رقم 26409
Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata, “Kami tidak tahu penguburan Rasulullah SAW sehingga kami mendengar suara orang-orang yang berjalan pada tengah malam, yaitu malam Rabu”. [HR. Ahmad, juz 10,hal. 144, no. 26409]

Keterangan :
Hadits-hadits tersebut menunjukkan bolehnya mengubur jenazah pada waktu malam, tetapi ada juga yang memakruhkannya, berdalil dengan hadits sebagai berikut :
عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ يُحَدّثُ اَنَّ النَّبِيَّ ص خَطَبَ يَوْمًا، فَذَكَرَ رَجُلاً مِنْ اَصْحَابِهِ قُبِضَ، فَكُفّنَ فِى كَفَنٍ غَيْرِ طَائِلٍ، وَ قُبِرَ لَيْلاً، فَزَجَرَ النَّبِيُّ ص اَنْ يُقْبَرَ الرَّجُلُ باللَّيْلِ، حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهِ، اِلاَّ اَنْ يُضْطَرَّ اِنْسَانٌ اِلَى ذلِكَ. وَ قَالَ النَّبِيُّ ص: اِذَا كَفَّنَ اَحَدُكُمْ اَخَاهُ فَلْيُحَسّنْ كَفَنَهُ. مسلم 2: 651
Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata : Bahwa Nabi SAW pernah berkhutbah pada suatu hari, lalu beliau menyebut tentang seorang laki-laki dari shahabatnya yang telah meninggal dunia, yang dikafani dengan kafan yang pendek dan dikubur pada malam hari, maka Nabi SAW melarang mayyit dikubur pada malam hari sehingga ia dishalati (oleh orang banyak), kecuali kalau ada seseorang yang terpaksa harus begitu. Dan Nabi SAW bersabda, “Apabila salah seorang diantara kalian mengkafani saudaranya maka baguskanlah kafannya". [HR Muslim juz 2, hal. 651]



سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

No comments :

Post a Comment

1. Silahkan meninggalkan komentar anda dengan bahasa yang baik dan sopan.
2. Dilarang komentar SPAM, Iklan atau dengan Menyisipkan URL/ Link atau Anchor teks di dalam pesan / komentar, bila ada akan dihapus tanpa pemberitahuan.
3. Terimakasih atas kunjungan anda, semoga bermanfaat