Hadits Tentang Talaq

Thursday, June 12, 2014

Hadits Tentang Talaq

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Tentang Thalaq

اَلطَّلاَقُ مَرَّتنِ، فَاِمْسَاكٌ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ تَسْرِيْحٌ بِاِحْسَانٍ. البقرة:229
Thalaq (yang dapat dirujuki) itu dua kali, setelah itu boleh rujuk kembali dengan ma’ruf atau menthalaqnya dengan cara yang baik. [QS. Al-Baqarah : 229]

ياَيُّهَا النَّبِيُّ، اِذَا طَلَّقْتُمُ النّسآءَ فَطَلّقُوْهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ. الطلاق:1
Hai Nabi, apabila kamu menthalaq istri-istrimu, maka hendaklah kamu thalaq pada waktu mereka dapat (menghadapi) ‘iddahnya (yang wajar). [QS. Ath-Thalaaq : 1]

عَنْ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص طَلَّقَ حَفْصَةَ، ثُمَّ رَاجَعَهَا. ابو داود و النسائى و ابن ماجه
Dari Umar bin Khaththab RA, bahwa sesungguhnya Nabi SAW pernah menthalaq Hafshah, kemudian merujukinya. [HR. Abu Dawud, Nasai dan Ibnu Majah].

عَنْ لَقِيْطِ بْنِ صَبْرَةَ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّ لِى امْرَأَةً فَذَكَرَ مِنْ بَذَائِهَا، قَالَ: طَلّقْهَا. قُلْتُ: اِنَّ لَهَا صَحْبَةً وَ وَلَدًا. قَالَ: مُرْهَا اَوْ قُلْ لَهَا فَاِنْ يَكُنْ فِيْهَا خَيْرٌ سَتَفْعَلُ، وَ لاَ تَضْرِبْ ظَعِيْنَتَكَ ضَرْبَكَ اَمَتَكَ. احمد و ابو داود
Dari Laqith bin Shabrah ia berkata : Aku pernah bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai seorang istri”. Lalu ia menyebutkan tentang ucapannya yang kotor. Nabi SAW bersabda, “Thalaqlah dia!”. Aku berkata, “Sesungguhnya ia mempunyai teman dan anak”. Nabi SAW bersabda, “Suruhlah dia atau katakan padanya jika ada baiknya akan kamu lakukan. Dan hendaklah engkau tidak memukul istrimu seperti engkau memukul ‘amatmu”. [HR. Ahmad dan Abu Dawud].

عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاَقَ فِى غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ اْلجَنَّةِ. الخمسة الا النسائى
Dari Tsauban, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Siapasaja wanita yang minta thalaq kepada suaminya tanpa ada sebab, maka haram baginya bau surga”. [HR. Khamsah kecuali Nasai].

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اَبْغَضُ اْلحَلاَلِ اِلَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ الطَّلاَقُ. ابو داود و ابن ماجه
Dari Ibnu Umar, bahwa sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah ’Azza wa Jalla adalah thalaq”. [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah].

Larangan Menthalaq Istri Diwaktu Sedang Haid

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض اَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَ هِيَ حَائِضٌ فَذَكَرَ ذلِكَ عُمَرُ لِلنَّبِيّ ص، فَقَالَ: مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا اَوْ لِيُطَلّقْهَا طَاهِرًا اَوْ حَامِلاً. الجماعة الا البخارى
Dari Ibnu Umar RA, bahwa ia pernah menthalaq istrinya, sedang istrinya itu dalam keadaan haidl. Kemudian hal itu disampaikan oleh Umar kepada Nabi SAW, lalu Nabi SAW bersabda, “Suruhlah dia untuk merujukinya kembali, atau hendaklah ia menthalaqnya dalam keadaan suci atau hamil”. [HR. Jama’ah kecuali Bukhari].

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَ هِيَ حَائِضٌ فِى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ ص، فَسَأَلَ عُمَرُ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ ذلِكَ. فَقَالَ: مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا ثُمَّ لْيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ ثُمَّ تَحِيْضَ ثُمَّ تَطْهُرَ. ثُمَّ اِنْ شَاءَ اَمْسَكَ بَعْدُ. وَ اِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ اَنْ يَمَسَّ، فَتِلْكَ اْلعِدَّةُ الَّتِى اَمَرَ اللهُ اَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النّسَاءُ. البخارى و مسلم
Dari Ibnu ‘Umar, bahwasanya ia pernah mentalaq istrinya, pada hal istrinya dalam keadaan haid pada masa Rasulullah SAW. ‘Umar bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hal itu. Maka beliau bersabda, “Suruhlah ia merujukinya, lalu ia menahannya sehingga suci, kemudian ia haidl lagi, kemudian ia suci lagi. Kemudian jika ia masih menginginkan, boleh tidak menthalaqnya. Dan jika ia mau, ia boleh menthalaqnya sebelum mencampurinya. Maka itulah ‘iddah yang Allah perintahkan supaya wanita dithalaq padanya”. [HR. Bukhari dan Muslim]

و لمسلم و النسائى نحوه و فى آخره قَالَ ابْنُ عُمَرَ: قَرَأَ النَّبِيُّ ص: ياَيُّهَا النَّبِيُّ، اِذَا طَلَّقْتُمُ النّسَآءَ فَطَلّقُوْهُنَّ فِيْ قُبُلِ عِدَّتِهِنَّ.
Dan bagi Muslim dan Nasai seperti itu juga, dan pada akhir riwayat itu Ibnu ‘Umar berkata : Dan Nabi SAW membaca (yang artinya) : Hai Nabi, apabila kamu menthalaq istri-istrimu, maka hendaklah kamu menthalaq mereka pada waktu mereka dapat menghadapi ‘iddah mereka”.

و فى رواية اَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَ هِيَ حَائِضٌ تَطْلِيْقَةً. فَانْطَلَقَ عُمَرُ فَاَخْبَرَ النَّبِيَّ ص. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ص: مُرْ عَبْدَ اللهِ، فَلْيُرَاجِعْهَا. فَاِذَا اغْتَسَلَتْ فَلْيَتْرُكْهَا حَتَّى تَحِيْضَ. فَاِذَا اغْتَسَلَتْ مِنْ حَيْضَتِهَا اْلاُخْرَى فَلاَ يَمَسَّهَا حَتَّى يُطَلّقَهَا. وَ اِنْ شَاءَ اَنْ يُمْسِكَهَا فَلْيُمْسِكْهَا، فَاِنَّهَا اْلعِدَّةُ الَّتِى اَمَرَ اللهُ اَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النّسَاءُ. الدارقطنى
Dan dalam riwayat lain (dikatakan) : Bahwa sesungguhnya Ibnu ‘Umar menthalaq istrinya, pada hal istrinya dalam keadaan haidl dengan thalaq satu. Lalu ‘Umar pergi memberitahukan hal itu kepada Nabi SAW, kemudian Nabi SAW bersabda kepadanya, “Suruhlah Abdullah agar ia merujukinya kembali. Lalu apabila ia telah mandi (suci) maka hendaklah ia tidak mendekatinya sehingga ia haidl (lagi), kemudian apabila ia telah mandi (suci) dari haidlnya yang kedua, maka hendaklah ia tidak mencampurinya sehingga ia menthalaqnya. (Atau) jika ia ingin menahannya maka hendaklah ia menahannya, karena itu ‘iddah yang diperintahkan Allah agar para wanita dithalaq untuk ‘iddah itu”. [HR. Daruquthni].

عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ: قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: اَلطَّلاَقُ عَلَى اَرْبَعَةِ اَوْجُهٍ. وَجْهَانِ حَلاَلٌ وَ وَجْهَانِ حَرَامٌ. فَاَمَّا اللَّذَانِ هُمَا حَلاَلٌ: فَاَنْ يُطَلّقَ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ طَاهِرًا مِنْ غَيْرِ جِمَاعٍ اَوْ يُطَلّقَهَا حَامِلاً مُسْتَبِيْنًا حَمْلَهَا. وَ اَمَّا اللَّذَانِ هُمَا حَرَامٌ: فَاَنْ يُطَلّقَهَا حَائِضًا اَوْ يُطَلّقَهَا عِنْدَ اْلجِمَاعِ لاَ يَدْرِى اشْتَمَلَ الرَّحِمُ عَلَى وَلَدٍ اَمْ لاَ. الدارقطنى
Dari ‘Ikrimah, ia berkata : Ibnu Abbas berkata, “Thalaq itu ada empat macam. Dua macam halal dan yang dua macam lagi haram. Adapun dua macam yang halal ialah seseorang menthalaq istrinya dalam keadaan suci yang belum dicampuri atau ia menthalaqnya dalam keadaan hamil yang sudah jelas kehamilannya. Adapun dua macam lagi yang haram ialah seseorang menthalaq istrinya dalam keadaan haidl atau menthalaqnya dalam keadaan suci setelah dicampuri, sedang ia tidak tahu apakah istrinya itu hamil atau tidak”. [HR. Daruquthni].

Keterangan :
Dari hadits-hadits di atas bisa dipahami bahwa :
  1. Apabila suami menthalaq istrinya, hendaklah dilakukannya diwaktu istri dalam keadaan suci dari haid dan belum dikumpuli lagi, atau istri dalam keadaan hamil. Dan suami dilarang menthalaq istrinya diwaktu ia sedang haid. Namun apabila terjadi seorang suami menthalaq istrinya dalam keadaan haid, thalaq tersebut tetap sah, hanya saja tidak sesuai dengan tuntunan sebagaimana yang Allah perintahkan dalam QS. Ath-Thalaaq : 1. 
  2. Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menyuruh Ibnu ‘Umar supaya menunggu dua kali suci, lalu kalau ia akan menthalaqnya boleh ia lakukan atau kalau mau menahannya (tidak menthalaqnya), ia boleh melakukannya, maka bisa dipahami bahwa menunggu dua kali suci itu hanya keutamaan saja, bukan wajib. Dan bisa juga Nabi SAW memberi waktu yang lebih longgar kepada Ibnu ‘Umar supaya berpikir : menthalaqnya ataukah menahannya.

Thalaq Tiga Dalam Satu Majlis

عَنْ مَحْمُوْدِ بْنِ لَبِيْدٍ قَالَ: اُخْبِرَ رَسُوْلُ اللهِ ص عَنْ رَجُلٍ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ ثَلاَثَ تَطْلِيْقاَتٍ جَمِيْعًا، فَقَامَ غَضْبَانَ، ثُمَّ قَالَ: أَ يُلْعَبُ بِكِتَابِ اللهِ وَ اَنَا بَيْن اَظْهُرِكُمْ؟ حَتَّى قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلاَ اَقْتُلُهُ؟ النسائى و رواته موثقون
Dari Mahmud bin Labid, ia berkata : Dikabarkan kepada Rasulullah SAW tentang seseorang yang menthalaq istrinya dengan thalaq tiga sekaligus. Maka beliau bangkit dengan marah, kemudian bersabda, “Apakah Kitab Allah hendak dipermainkan, sedang aku masih berada diantara kalian?”. Sehingga ada seorang laki-laki yang bangkit lalu berkata, “Ya Rasulullah, bolehkah aku bunuh dia?”. [HR. Nasai, para perawinya orang kepercayaan]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: طَلَّقَ اَبُوْ رُكَانَةَ اُمَّ رُكَانَةَ، فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ ص: رَاجِعِ امْرَأَتَكَ، فَقَالَ: اِنّى طَلَّقْتُهَا ثَلاَثًا. قَالَ: قَدْ عَلِمْتُ، رَاجِعْهَا. ابو داود
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Abu Rukanah telah menthalaq Ummu Rukanah. Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Rujukilah istrimu!”. Maka Abu Rukanah berkata, “Sesungguhnya aku telah menthalaqnya dengan thalaq tiga (sekaligus)”. Rasulullah SAW bersabda, “Aku sudah tahu, rujukilah ia”. [HR. Abu Dawud]

عَنْ مُجَاهِدٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّهُ سُئِلَ عَنْ رَجُلٍ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ مِائَةً. قَالَ: عَصَيْتَ رَبَّكَ وَ فَارَقْتَ امْرَأَتَكَ لَمْ تَتَّقِ اللهَ فَيَجْعَلْ لَكَ مَخْرَجًا. الدارقطنى
Dari Mujahid dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah ditanya oleh seorang laki-laki yang telah menthalaq istrinya thalaq seratus. Ia menjawab, “Kamu durhaka kepada Tuhanmu dan kamu telah menthalaq istrimu. Kamu tidak bertaqwa kepada Allah, karena itu Ia (tidak) memberikan suatu jalan keluar bagimu”. [HR. Daruquthni].

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ رَجُلاً طَلَّقَ امْرَأَتَهُ اَلْفًا، قَالَ: يَكْفِيْكَ مِنْ ذلِكَ ثَلاَثٌ وَ تَدَعُ تِسْعَمِائَةٍ وَ سَبْعًا وَ تِسْعِيْنَ. الدارقطنى
Dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya ada seorang laki-laki telah menthalaq istrinya thalaq seribu. Ibnu Abbas berkata, “Thalaq itu cukup bagimu tiga kali dan buanglah yang sembilan ratus sembilan puluh tujuh”. [HR. Daruquthni]

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّهُ سُئِلَ عَنْ رَجُلٍ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ عَدَدَ النُّجُوْمِ، فَقَالَ: اَخْطَأَ السُّنَّةَ وَ حَرُمَتْ عَلَيْهِ امْرَأَتُهُ. الدارقطنى
Dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya ia pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang menthalaq istrinya sebanyak bintang di langit, lalu ia berkata, “Dia menyalahi sunnah Nabi dan istrinya haram baginya”. [HR. Daruquthni].

وَ قَدْ رَوَى طَاوُسٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ الطَّلاَقُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ ص وَ اَبِى بَكْرٍ وَ سَنَتَيْنِ مِنْ خِلاَفَةِ عُمَرَ طَلاَقُ الثَّلاَثِ وَاحِدَةً. فَقَالَ عُمَرُ بْنُ اْلخَطَّابِ: اِنَّ النَّاسَ قَدِ اسْتَعْجَلُوْا فِى اَمْرٍ كَانَتْ لَهُمْ فِيْهِ اَنَاةٌ فَلَوْ اَمْضَيْنَاهُ عَلَيْهِمْ فَاَمْضَاهُ عَلَيْهِمْ. احمد و مسلم
Dan sungguh Thawus meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Adalah thalaq di masa Rasulullah SAW, Abu Bakar dan dua tahun dari pemerintahan ‘Umar, thalaq tiga (yang dijatuhkan sekaligus) itu jatuh satu”. Kemudian ‘Umar bin Khaththab berkata, “Sesungguhnya manusia benar-benar tergesa-gesa dalam urusan yang seharusnya mereka tempuh dengan shabar. Maka alangkah baiknya kalau kami laksanakan hal itu atas mereka?”. Kemudian ‘Umar melaksanakannya atas mereka. [HR. Ahmad dan Muslim].

وَ فِى رِوَايَةٍ عَنْ طَاوُسٍ اَنَّ اَبَا الصَّهْبَاءِ قَالَ ِلابْنِ عَبَّاسٍ: هَاتِ مِنْ هَنَاتِكَ، اَلَمْ يَكُنْ طَلاَقُ الثَّلاَثِ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ ص وَ اَبِى بَكْرٍ وَاحِدَةً؟ فَقَالَ: قَدْ كَانَ ذلِكَ. فَلَمَّا كَانَ فِى عَهْدِ عُمَرَ تَتَابَعَ النَّاسُ فِى الطَّلاَقِ، فَاَجَازَهُ عَلَيْهِمْ. مسلم
Dan dalam riwayat lain dari Thawus, bahwa sesungguhnya Abu Shahba’ pernah berkata kepada Ibnu Abbas, “Berilah aku pengetahuan yang kau miliki, bukankah thalaq tiga (yang dijatuhkan sekaligus) di masa Rasulullah SAW dan Abu Bakar dianggap jatuh satu?”. Kemudian ia menjawab, “Benar begitu, tetapi di masa ‘Umar, manusia berlebih-lebihan dalam urusan thalaq, lalu ‘Umar menetapkan keadaan itu atas mereka”. [HR. Muslim].

Keterangan :
Pada zaman Nabi SAW, zaman khilafah Abu Bakar dan dua tahun di masa khilafah Umar, kalau orang menyebut, “Aku thalaq istriku thalaq tiga”, maka yang teranggap jatuh thalaq itu hanya satu. Tetapi setelah banyak orang bermain-main menyebut “thalaq tiga”, maka ‘Umar memberitahukan bahwa siapa yang menthalaq istrinya dengan menyebut “thalaq tiga”, akan dianggap thalaq tiga betul-betul dan tidak boleh kembali kepada istrinya itu lagi sebelum ia kawin dengan laki-laki lain.

Main-main Dalam Thalaq

وَ اِنْ عَزَمُوا الطَّلاَقَ فَاِنَّ اللهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ. البقرة:227
Dan jika mereka ber’azam (bertetap hati untuk) thalaq, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengatahui. [QS. Al-Baqarah : 227]

لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللهُ بِاللَّغْوِ فِيْ اَيْمَانِكُمْ وَ لكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوْبُكُمْ، وَ اللهُ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ. البقرة:225
Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. [QS. Al-Baqarah : 225]

لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللهُ بِاللَّغْوِ فِيْ اَيْمَانِكُمْ وَ لكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُّمُ اْلاَيْمَانَ . المائدة:89
Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu segaja, [QS. Al-Maaidah : 89]

قَالَ عُمَرُ بْنُ اْلخَطَّابِ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِنَّمَا اْلاَعْمَالُ بِالنّيَّاتِ وَ اِنَّمَا لِكُلّ امْرِئٍ مَا نَوَى.... الجماعة
‘Umar bin Khaththab berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya tiap-tiap sesuatu tergantung apa yang diniatkan”. [HR. Jama’ah]

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: لاَ طَلاَقَ وَ لاَ عَتَاقَ فِى اِغْلاَقٍ. احمد و ابو داود و ابن ماجه فى نيل الاوطار 6:264
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada thalaq dan tidak ada memerdekakan budak dalam keadaan tidak normal akal”. [HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah, dalam Nailul Authar juz 6, hal. 264]

وَ قَالَ عُثْمَانُ: لَيْسَ لِلْمَجْنُوْنِ وَ لاَ سَكْرَانَ طَلاَقٌ. البخارى
Dan ‘Utsman berkata, “Tidak ada thalaq bagi orang yang majnun (gila) dan orang yang sedang mabuk”. [HR. Bukhari]

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: طَلاَقُ السَّكْرَانِ وَ اْلمُسْتَكْرَهِ لَيْسَ بِجَائِزٍ. وَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: فِيْمَنْ يُكْرِهُهُ اللُّصُوْصُ فَيُطَلّقُ، فَلَيْسَ بِشَيْءٍ. البخارى، فى نيل الاوطار 6:265
Ibnu ‘Abbas berkata, “Thalaqnya orang yang mabuk dan orang yang dipaksa itu tidak sah”. Dan Ibnu ‘Abbas berkata tentang orang yang dipaksa oleh orang-orang jahat (untuk menthalaq istrinya) lalu ia pun menthalaqnya, maka hal itu tidak apa-apa (tidak jatuh thalaqnya). [HR. Bukhari, dalam Nailul Authar juz 6, hal. 265]

قَالَ عَلِيٌّ: كُلُّ الطَّلاَقِ جَائِزٌ اِلاَّ طَلاَقَ اْلمَعْتُوْهِ. البخارى فى صحيحه
Ali RA berkata : Setiap thalaq dipandang jatuh kecuali thalaqnya orang yang tidak normal akalnya”. [HR. Bukhari dalam kitab shahihnya]

عَنْ قُدَامَةَ بْنِ اِبْرَاهِيْمَ اَنَّ رَجُلاً عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ تَدَلَّى يَشْتَارُ عَسَلاً فَاَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فَجَلَسَتْ عَلَى اْلحَبْلِ فَقَالَتْ لِيُطَلّقَنَّهَا ثَلاَثًا وَ اِلاَّ قَطَعَتِ اْلحَبْلَ. فَذَكَّرَهَا اللهَ وَ اْلاِسْلاَمَ فَاَبَتْ. فَطَلَّقَهَا ثَلاَثًا. ثُمَّ خَرَجَ اِلَى عُمَرَ فَذَكَرَ ذلِكَ لَهُ، فَقَالَ: اِرْجِعْ اِلَى اَهْلِكَ، فَلَيْسَ هذَا بِطَلاَقٍ. سعيد بن منصور و ابو عبيد القاسم بن سلام، فى نيل الاوطار 6:265
Dari Qudamah bin Ibrahim, bahwasanya ada seorang laki-laki di jaman ‘Umar bin Khaththab menggantung pada tali untuk mengambil madu lebah, lalu istrinya menghadap kepadanya sambil duduk diatas tali tersebut seraya meminta supaya suaminya menthalaqnya tiga kali (sekaligus) dan jika tidak maka tali itu akan ia potong. Kemudian suaminya mengingatkannya supaya ia ingat kepada Allah dan Islam, tetapi perempuan itu tetap menolak, lalu laki-laki itu menthalaqnya tiga kali (sekaligus). Kemudian orang laki-laki itu pergi menemui ‘Umar menyampaikan hal itu kepadanya. Maka ‘Umar berkata, “Kembalilah kepada istrimu, karena yang begini ini bukan thalaq”. [HR. Sa’d bin Manshur dan Abu ‘Ubaid Al-Qashim bin Salam, dalam Nailul Authar juz 6, hal. 265]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَ هَزْلُهُنَّ جِدٌّ: النّكَاحُ وَ الطَّلاَقُ وَ الرَّجْعَةُ. الخمسة الا النسائى و قال الترمذى خديث حسن غريب
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga perkara, sungguh-sungguh jadi sungguhan dan main-main jadi sungguhan. Yaitu nikah, thalaq dan ruju’ ”. [HR. Khamsah kecuali Nasai, dan Tirmidzi mengatakan, “Hadits hasan gharib]

قَالَ فُضَالَةُ بْنُ عُبَيْدٍ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: ثَلاَثٌ لاَ يَجُوْزُ فِيْهِنَّ اللَّعِبُ: اَلطَّلاَقُ وَ النّكَاحُ وَ اْلعِتْقُ. الطبرانى، ضعيف
Dari Fudlalah bin ‘Ubaid, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga perkara yang tidak boleh dibuat permainan, yaitu thalaq, nikah dan memerdekakan budak”. [HR. Thabrani, dla’if karena di dalam sanadnya ada Ibnu Lahi’ah yang dilemahkan oleh ahli hadits]

و للحارث بن ابى اسامة من حديث عبادة بن الصامت رفعه: لاَ يَجُوْزُ اللَّعِبُ فِيْ ثَلاَثٍ: اَلطَّلاَقُ وَالنّكَاحُ وَاْلعِتَقُ. فَمَنْ قَالَهُنَّ فَقَدْ وَجَبْنَ. سنده ضعيف
Dan bagi Harits bin Abu Usamah dari hadits ‘Ubadah bin Shamit, ia merafa’kannya (hadits itu dari Rasulullah SAW), “Tidak boleh untuk main-main dalam tiga perkara, yaitu thalaq, nikah dan memerdekakan budak. Dan barangsiapa yang mengucapkannya, maka jadilah”. [Sanadnya dla’if, dalam Bulughul Maram hadits no. 1111]

عَنْ اَبِى ذَرّ رَفَعَهُ: مَنْ طَلَّقَ وَ هُوَ لاَعِبٌ فَطَلاَقُهُ جَائِزٌ. وَ مَنْ اَعْتَقَ وَ هُوَ لاَعِبٌ فَعِتْقُهُ جَائِزٌ. وَ مَنْ نَكَحَ وَ هُوَ لاَعِبٌ فَنِكَاحُهُ جَائِزٌ. عبد الرزاق و فى اسناده انقطاع، فى نيل الاوطار 6:264
Dari Abu Dzarr, ia merafa’kannya, “Barangsiapa menthalaq dengan main-main, maka thalaqnya itu jadi, dan barangsiapa memerdekakan budak dengan main-main, maka kemerdekaan itu jadi, dan barangsiapa menikah dengan main-main, maka nikahnya itu jadi”. [HR. Abdur Razzaq, munqathi’ (terputus), dalam Nailul Authar juz 6, hal. 264]

Keterangan :
  1. Dari dalil-dalil diatas menunjukkan bahwa thalaq yang sah adalah thalaq yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dan thalaq yang dilakukan dengan main-main atau diwaktu tidak sadar atau tidak normal akalnya atau dipaksa, adalah tidak sah. 
  2. Adapun maksud hadits yang menyatakan “Ada tiga perkara, sungguh-sungguh jadi sungguhan, dan main-main jadi sungguhan ...” maksudnya adalah, “Thalaq, nikah, dan memerdekakan budak maupun ruju’ adalah merupakan urusan yang besar, maka tidak boleh orang main-main dengan ketiga hal tersebut. Maka apabila akan melakukan ketiga perkara tersebut hendaklah melakukannya dengan serius (sungguh-sungguh).

Menthalaq Istri Yang Belum Dikumpuli

لاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِنْ طَلَّقْتُمُ النّسَآءَ مَا لَمْ تَمَسُّوْهُنَّ اَوْ تَفْرِضُوْا لَهُنَّ فَرِيْضَةً وَّ مَتّعُوْهُنَّ عَلَى اْلمُوْسِعِ قَدَرُه، وَ عَلَى اْلمُقْتِرِ قَدَرُه، مَتَاعًا بِاْلمَعْرُوْفِ، حَقًّا عَلَى اْلمُحْسِنِيْنَ(236) وَ اِنْ طَلَّقْتُمُوْهُنَّ مِنْ قَبْلِ اَنْ تَمَسُّوْهُنَّ، وَ قَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيْضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ اِلاَّ اَنْ يَعْفُوْنَ اَوْ يَعْفُوَ الَّذِيْ بِيَدِه عُقْدَةُ النّكَاحِ، وَ اَنْ تَعْفُوْآ اَقْرَبُ لِلتَّقْوى، وَ لاَ تَنْسَوُا اْلفَضْلَ بَيْنَكُمْ، اِنَّ اللهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ.(237) البقؤة
Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan hendaklah kamu berikan suatu mut’ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. (236), Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika istri-istrimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada taqwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan. (237) [QS. Al-Baqarah]

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

No comments :

Post a Comment

1. Silahkan meninggalkan komentar anda dengan bahasa yang baik dan sopan.
2. Dilarang komentar SPAM, Iklan atau dengan Menyisipkan URL/ Link atau Anchor teks di dalam pesan / komentar, bila ada akan dihapus tanpa pemberitahuan.
3. Terimakasih atas kunjungan anda, semoga bermanfaat