Hadits Tentang Seputar Sholat Jumat

Friday, February 13, 2015

Hadits Tentang Seputar Sholat Jumat

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Risalah Sekitar Sholat Jumat

Fadlilah Hari Jumat

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ السَّابِقُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بَيْدَ اَنَّهُمْ اُوْتُوا اْلكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا ثُمَّ هذَا يَوْمُهُمُ الَّذِيْ فُرِضَ عَلَيْهِمْ فَاخْتَلَفُوْا فِيْهِ، فَهَدَانَا اللهُ فَالنَّاسُ لَنَا فِيْهِ تَبَعٌ الْيَهُوْدُ غَدًا وَ النَّصَارَى بَعْدَ غَدٍ. البخارى 1: 212
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Kita adalah orang-orang yang datang akhir, tetapi mendahului pada hari kiamat. Hanya saja mereka diberi kitab sebelum kita. Kemudian ini (hari Jum’at) adalah hari yang ditetapkan kepada mereka, tetapi mereka berselisih padanya. Kemudian Allah menunjuki kita. Maka orang-orang mengikuti kita, orang-orang Yahudi besoknya, dan orang-orang Nashrani besoknya lagi”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 212]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ اْلجُمُعَةِ. فِيْهِ خُلِقَ ادَمُ وَ فِيْهِ اُدْخِلَ اْلجَنَّةَ وَ فِيْهِ اُخْرِجَ مِنْهَا وَ لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ اِلاَّ فِى يَوْمِ اْلجُمُعَةِ. البخارى 1: 216
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya ialah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu Adam dimasukkan surga, dan pada hari itu pula ia dikeluarkan daripadanya (surga), dan tidaklah terjadi hari kiamat kecuali hari Jum’at. [HR. Bukhari juz 1, hal. 216]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ السَّابِقُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بَيْدَ اَنَّهُمْ اُوْتُوا اْلكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَ اُوْتِيْنَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ وَ هذَا يَوْمُهُمِ الَّذِى فُرِضَ عَلَيْهِمْ فَاخْتَلَفُوْا فِيْهِ، فَهَدَانَا اللهُ لَهُ فَهُمْ لَنَا فِيْهِ تَبَعٌ فَاْليَهُوْدُ غَدًا وَ النَّصَارَى بَعْدَ غَدٍ. مسلم 2: 586
Dari Abu Hurairah, dari Muhammad Rasulullah SAW, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Kita adalah orang-orang yang datang akhir, tetapi kita adalah orang-orang yang mendahului pada hari qiyamat, hanya saja mereka diberi kitab sebelum kita, dan kita diberi kitab sesudah mereka. Dan ini adalah hari yang telah ditetapkan kepada mereka, tetapi mereka berselisih padanya. Lalu Allah memberikan petunjuk kepada kita tentang hari itu, maka mereka menjadi mengikuti kita. Orang-orang Yahudi besoknya, dan orang-orang Nashrani besoknya lagi. [HR. Muslim juz 2, hal. 586]

Yang Wajib Shalat Jum’at

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ اَبِى مُوْسَى عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ اِلاَّ اَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ اَوْ امْرَأَةٌ اَوْ صَبِيٌّ اَوْ مَرِيْضٌ. الحاكم، فى المستدراك 1: 425، هذا حديث صحيح على شرط الشيخين
Dari Thariq bin Syihab, dari Abu Musa, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Shalat Jum’at adalah wajib atas setiap orang Islam dengan berjama’ah, kecuali empat golongan : hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sakit”. [HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 425, ini hadits shahih atas syarat Bukhari Muslim]

عَنْ تَمِيْمِ الدَّارِيّ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلْجُمُعَةُ وَاجِبَةٌ اِلاَّ عَلَى امْرَأَةٍ اَوْ صَبِيّ اَوْ مَرِيْضٍ اَوْ عَبْدٍ اَوْمُسَافِرٍ. الطبرانى، فى المعجم الكبير 2: 51،
Dari Tamim Ad-Daariy, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Shalat Jum’at itu wajib, kecuali bagi wanita, anak-anak, orang sakit, hamba sahaya, atau musafir”. [HR. Thabrani, dalam Al-Mu’jamul Kabir juz 2, hal. 51, dlaif, karena di dalam sanadnya ada Al-Hakam bin ‘Amr, ia tertuduh dusta, dan Dlirash bin ‘Amr Al-Multiy, ia matruk].

Ijabah Hari Jum’at

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص ذَكَرَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ فَقَالَ: فِيْهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَ هُوَ قَائِمٌ يُصَلّى يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا اِلاَّ اَعْطَاهُ اِيَّاهُ وَ اَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلّلُهَا. البخارى 1: 224
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW menyebutkan tentang hari Jum’at, lalu beliau bersabda, “Didalamnya ada sa’at (ijabah) yang tidaklah bersesuaian seorang hamba muslim yang berdiri shalat, memohon sesuatu kepada Allah Ta’aalaa kecuali Allah pasti mengabulkannya”, dan beliau mengisyaratkan dengan tangan beliau tentang singkatnya (sa’at ijabah itu). [HR. Bukhari juz 1, hal. 224]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ قَالَ: اِنَّ فِى اْلجُمُعَةِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ فِيْهَا خَيْرًا اِلاَّ اَعْطَاهُ اِيَّاهُ. قَالَ: وَ هِيَ سَاعَةٌ خَفِيْفَةٌ. مسلم 2: 584
Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW bahwasanya beliau bersabda, “Sesungguhnya pada hari Jum’at itu ada sa’at (ijabah), tidaklah seorang muslim memohon kebaikan kepada Allah yang tepat pada waktu itu, kecuali Allah pasti mengabulkan permohonannya itu”. Beliau bersabda, “Waktunya itu sangat singkat”. [HR. Muslim juz 2, hal. 584]

عَنْ اَبِى بُرْدَةَ بْنِ اَبِى مُوْسَى اْلاَشْعَرِيّ قَالَ: قَالَ لِى عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ: اَسَمِعْتَ اَبَاكَ يُحَدّثُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص فِى شَأْنِ سَاعَةِ اْلجُمُعَةِ؟ قَالَ قُلْتُ: نَعَمْ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: هِيَ مَا بَيْنَ اَنْ يَجْلِسَ اْلاِمَامُ اِلَى اَنْ تُقْضَى الصَّلاةُ. مسلم 2: 584
Dari Abu Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ariy, ia berkata : ‘Abdullah bin ‘Umar bertanya kepadaku, “Apakah kamu pernah mendengar dari bapakmu menceritakan dari Rasulullah SAW tentang sa’at (ijabah) pada hari Jum’at?”. Abu Burdah berkata : Aku berkata : Ya, aku pernah mendengar dia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sa’at tersebut adalah antara imam duduk hingga shalat dikerjakan”. [HR. Muslim juz 2, hal. 584]

Ancaman Bagi Orang Yang Meninggalkan Jum’at

عَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ وَ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ عَلَى اَعْوَادِ مِنْبَرِهِ: لَيَنْتَهِيَنَّ اَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ اْلجُمُعَاتِ اَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُوْنُنَّ مِنَ اْلغَافِلِيْنَ. مسلم 2: 591
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar dan Abu Hurairah, bahwa keduanya mendengar Rasulullah SAW bersabda di atas kayu mimbar beliau,“Sungguh kaum-kaum itu mau menghentikan dari meninggalkan Jum’at atau (kalau nekad) Allah pasti akan menutup hati mereka, kemudian mereka menjadi orang-orang yang lalai”. [HR. Muslim juz 2, hal. 591]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ اَبِى قَتَادَةَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ تَرَكَ اْلجُمُعَةَ ثَلاَثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُوْرَةٍ طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ. الحاكم فى المستدرك 1: 430
Dari ‘Abdullah bin Abu Qatadah, dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan Jum’at tiga kali bukan karena berhalangan, maka Allah akan menutup hatinya”. [HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 430]

عَنْ اَبِى اْلجَعْدِ الضَّمْرِىّ وَ كَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ. الحاكم فى المستدرك 1: 415
Dari Abul Ja’diy Adl-Dlamriy, ia adalah seorang shahabat, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan Jum’at tiga kali karena meremehkannya, maka Allah akan menutup hatinya”. [HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 415]


Sunah Rasul Di Hari Jumat

Mandi Jum’at

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رض يَقُوْلُ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: مَنْ جَاءَ مِنْكُمُ اْلجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ. البخارى 1: 215
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang datang untuk shalat Jum’at hendaklah ia mandi”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 215]

عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ اْلخُدْرِيّ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: غُسْلُ يَوْمِ اْلجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلّ مُحْتَلِمٍ. البخارى 1: 212
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Mandi hari Jum’at itu wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi (telah baligh)”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 212]

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِذَا اَرَادَ اَحَدُكُمْ اَنْ يَأْتِيَ اْلجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ. مسلم 2: 579
Dari ‘Abdullah, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang diantara kalian akan pergi shalat Jum’at, hendaklah ia mandi”. [HR. Muslim juz 2, hal. 579]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض اَنَّ عُمَرَ بْنَ اْلخَطَّابِ بَيْنَمَا هُوَ قَائِمٌ فِى اْلخُطْبَةِ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ اِذْ دَخَلَ رَجُلٌ مِنَ اْلمُهَاجِرِيْنَ اْلاَوَّلِيْنَ مِنْ اَصْحَابِ النَّبِيّ ص فَنَادَاهُ عُمَرُ: اَيَّةُ سَاعَةٍ هذِهِ؟ قَالَ: اِنّى شُغِلْتُ فَلَمْ اَنْقَلِبْ اِلَى اَهْلِى حَتَّى سَمِعْتُ التَّأْذِيْنَ فَلَمْ اَزِدْ اَنْ تَوَضَّأْتُ. فَقَالَ: وَ اْلوُضُوْءَ اَيْضًا، وَ قَدْ عَلِمْتَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ يَأْمُرُ بِالْغُسْلِ. البخارى 1: 212
Dari Ibnu ‘Umar RA, bahwasanya ‘Umar bin Khaththab ketika dia berdiri berkhutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari kaum muhajirin yang awal dari sahabat Nabi masuk, maka ‘Umar memanggil orang itu, (lalu bertanya), “Sa’at apa sekarang ini?”. Orang itu menjawab, “Aku disibukkan oleh sesuatu hal, maka tidak ada kesempatan bagiku untuk pulang ke keluargaku sehingga aku mendengar suara adzan. Maka aku tidak dapat berbuat lebih kecuali hanya wudlu saja”. ‘Umar berkata, “Hanya wudlu saja?”, padahal kamu sudah tahu bahwa Rasulullah SAW menyuruh supaya mandi!”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 212]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ عُمَرَ رض بَيْنَمَا هُوَ يَخْطُبُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ اِذْ دَخَلَ رَجُلٌ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ اْلخَطَّابِ رض: لِمَ تَحْتَبِسُوْنَ عَنِ الصَّلاَةِ؟ فَقَالَ الرَّجُلُ: مَا هُوَ اِلاَّ اَنْ سَمِعْتُ النّدَاءَ تَوَضَّأْتُ. فَقَالَ: اَلَمْ تَسْمَعُوا النَّبِيَّ ص قَالَ: اِذَا رَاحَ اَحَدُكُمْ اِلَى اْلجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ؟ البخارى 1: 213
Dari Abu Hurairah, bahwasanya ‘Umar RA ketika dia berkhutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba ada seorang laki-laki masuk, maka ‘Umar bin Khaththab RA berkata, “Kenapa kalian terlambat untuk shalat?”. Maka orang laki-laki itu berkata, “Tidak ada yang menghalangi, hanya saja aku mendengar adzan, lalu berwudlu”. Maka ‘Umar berkata, “Apakah kamu tidak mendengar bahwa Nabi SAW bersabda,“Apabila salah seorang diantara kalian pergi shalat Jum’at, hendaklah ia mandi?”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 213]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: بَيْنَمَا عُمَرُ بْنُ اْلخَطَّابِ يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ اِذْ دَخَلَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ فَعَرَّضَ بِهِ عُمَرُ، فَقَالَ: مَا بَالُ رِجَالٍ يَتَأَخَّرُوْنَ بَعْدَ النّدَاءِ؟ فَقَالَ عُثْمَانُ: يَا اَمِيْرَ اْلمُؤْمِنِيْنَ، مَا زِدْتُ حِيْنَ سَمِعْتُ النّدَاءَ اَنْ تَوَضَّأْتُ ثُمَّ اَقْبَلْتُ. فَقَالَ عُمَرُ: وَ اْلوُضُوْءَ اَيْضًا. اَ لَمْ تَسْمَعُوْا رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِذَا جَاءَ اَحَدُكُمْ اِلىَ اْلجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ. مسلم 2: 580
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Ketika ‘Umar bin Khaththab sedang berkhutbah di hadapan orang-orang pada hari Jum’at, tiba-tiba Utsman bin Affan datang masuk masjid. Kemudian ‘Umar menyindirnya dengan berkata, “Kenapa orang-orang berlambat-lambat (untuk datang shalat Jum’at) setelah mendengar adzan?”. Kemudian Utsman berkata, “Ya amirul mu’minin, setelah mendengar adzan saya tidak sempat untuk berbuat lebih, kecuali saya hanya berwudlu, kemudian saya datang kemari”. ‘Umar berkata, “Hanya wudlu saja? Apakah kalian tidak mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda : Apabila salah seorang diantara kalian akan datang pada shalat Jum’at, maka hendaklah mandi”. [HR. Muslim juz 2, hal. 580]

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّهَا قَالَتْ: كَانَ النَّاسُ يَنْتَابُوْنَ اْلجُمُعَةَ مِنْ مَنَازِلِهِمْ مِنَ اْلعَوَالِى فَيَأْتُوْنَ فِى اْلعَبَاءِ وَ يُصِيْبُهُمُ اْلغُبَارُ فَتَخْرُجُ مِنْهُمُ الرّيْحُ فَاَتَى رَسُوْلَ اللهِ ص اِنْسَانٌ مِنْهُمْ وَ هُوَ عِنْدِى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَوْ اَنَّكُمْ تَطَهَّرْتُمْ لِيَوْمِكُمْ هذَا. مسلم 2: 581
Dari ‘Aisyah bahwasanya ia berkata, “Dahulu orang-orang berdatangan untuk shalat Jum’at dari rumah-rumah mereka di dataran tinggi sekitar Madinah, dengan memakai mantel sehingga debu pun mengenai mereka, sehingga berbau apek. Kemudian ada seseorang diantara mereka menemui Rasulullah SAW, sedangkan beliau ketika itu di sisiku. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Alangkah baiknya jika kalian mandi untuk harimu ini”. [HR. Muslim juz 2, hal. 581]

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ فَبِهَا وَ نِعْمَتْ وَ مَنِ اغْتَسَلَ فَاْلغُسْلُ اَفْضَلُ. الترمذى 2: 4، و قال حديث حسن
Dari Samurah bin Jundab, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berwudlu pada hari Jum’at, maka yang demikian itu bagus. Tetapi barangsiapa mandi, maka mandi itu lebih utama”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 4, ia mengatakan hadits hasan]

Keterangan :
Dari hadits-hadits di atas bisa dipahami bahwa mandi Jum’at itu sangat ditekankan, namun demikian hukumnya tetap sunnah.

Memakai Wangi-wangian Dan Bersiwak

عَنْ عَمْرِو بْنِ سُلَيْمٍ اْلاَنْصَارِيُّ قَالَ: اَشْهَدُ عَلَى اَبِى سَعِيْدٍ قَالَ: اَشْهَدُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: الْغُسْلُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلّ مُحْتَلِمٍ. وَ اَنْ يَسْتَنَّ وَ اَنْ يَمَسَّ طِيْبًا اِنْ وَجَدَ. البخارى 1: 212
Dari ‘Amr bin Sulaim Al-Anshariy, ia berkata : Saya menyaksikan Abu Sa’id, ia berkata : Aku menyaksikan Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Mandi pada hari Jum’at itu wajib atas setiap orang yang telah bermimpi, menggosok gigi dan memakai wewangian, jika ada”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 212]

عَنْ سَلْمَانَ اْلفَارِسِيّ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَ يَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَ يَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ اَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيْبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلّى مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ اِذَا تَكَلَّمَ اْلاِمَامُ اِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَ بَيْنَ اْلجُمُعَةِ اْلاُخْرَى. البخارى 1: 213
Dari Salman Al-Farisiy, ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, bersuci semaksimalnya, lalu memakai minyak rambut, atau minyak wangi keluarganya, kemudian keluar dan tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk), lalu ia shalat yang telah ditetapkan untuknya, kemudian ia diam ketika khathib berkhutbah, melainkan diampuni dosanya antara Jumat itu dan Jum’at yang lain”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 213]

عَنِ الزُّهْرِيّ قَالَ طَاوُسٌ قُلْتُ ِلابْنِ عَبَّاسٍ ذَكَرُوْا اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اِغْتَسِلُوْا يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَ اغْسِلُوْا رُءُوْسَكُمْ وَ اِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا جُنُبًا وَ اَصِيْبُوْا مِنَ الطّيْبِ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ اَمَّا اْلغُسْلُ فَنَعَمْ وَ اَمَّا الطّيْبُ فَلاَ اَدْرِي. البخارى 1: 213
Dari Zuhriy ia berkata, Thawus berkata : Aku menanyakan kepada Ibnu ‘Abbas, (karena) orang-orang menyebutkan bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Mandilah pada hari Jum’at, siramlah kepala kalian walaupun kalian tidak junub, lalu pakailah minyak wangi”. Ibnu‘Abbas menjawab, “Tentang mandi, memang benar. Adapun tentang memakai minyak wangi, aku tidak tahu”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 213]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لَوْلاَ اَنْ اَشُقَّ عَلَى اُمَّتِى اَوْ عَلَى النَّاسِ َلاَمَرْتُهُمْ بِالسّوَاكِ مَعَ كُلّ صَلاَةٍ. البخارى 1: 214
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Sekiranya tidak akan memberatkan ummatku atau memberatkan manusia, tentu aku perintahkan untuk bersiwak pada setiap akan shalat”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 214]

Memakai Pakaian Yang Bagus

عَنِ عَبْدِ اللهِ ابْنِ سَلاَمٍ اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ عَلَى اْلمِنْبَرِ فىِ يَوْمِ اْلجُمُعَةِ: مَا عَلَى اَحَدِكُمْ لَو اشْتَرى ثَوْبَيْنِ لِيَوْمِ اْلجُمُعَةِ سِوَى ثَوْبَى مِهْنَتِهِ. ابن ماجه 1: 348
Dari Ibnu Salam, bahwasanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda di atas mimbar pada hari Jum’at. “Apa kesulitannya salah seorang diantara kalian apabila membeli dua pakaian yang ia pakai untuk hari Jum’at, selain dari pakaian yang ia pakai untuk kerja/harian”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 348]

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ فَرَأَى عَلَيْهِمْ ثِيَابَ النّمَارِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا عَلَى اَحَدِكُمْ اِنْ وَجَدَ سَعَةً اَنْ يَتَّخِذَ ثَوْبَيْنِ لِجُمُعَتِهِ سِوَى ثَوْبَيْ مِهْنَتِهِ. ابن ماجه 1: 349
Dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi SAW berkhutbah di hadapan orang-orang pada hari Jum’at, lalu beliau melihat orang-orang memakai pakaian loreng (yang biasa untuk kerja). Maka Rasulullah SAW bersabda, “Apa kesulitannya seorang diantara kalian kalau mempunyai kelonggaran untuk menggunakan dua pakaian untuk shalat Jum’at, selain pakaian hariannya?”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 349]

Berangkat Awal Waktu

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ غُسْلَ اْلجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَاَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَ مَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَاَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَ مَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَاَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا اَقْرَنَ وَ مَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَاَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَ مَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ اْلخَامِسَةِ فَكَاَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً. فَاِذَا خَرَجَ اْلاِمَامُ حَضَرَتِ اْلمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُوْنَ الذّكْرَ. البخارى 1: 213
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mandi Jum’at seperti mandi janabat, kemudian berangkat, maka seolah-olah ia berkurban seekor unta. Barangsiapa yang berangkat pada saat yang kedua, maka seolah-olah ia berqurban seekor lembu. Barangsiapa yang berangkat pada saat yang ketiga, seolah-olah ia berqurban seekor kibasy bertanduk. Barangsiapa yang berangkat pada saat yang keempat, seolah-olah ia berqurban seekor ayam. Dan barangsiapa yang berangkat pada saat yang kelima, seolah-olah ia berqurban sebutir telur. Apabila imam sudah datang, maka malaikat berdatangan untuk mendengarkan khutbah”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 213]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا كَانَ يَوْمُ اْلجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلّ بَابٍ مِنْ اَبْوَابِ اْلمَسْجِدِ مَلاَئِكَةٌ يَكْتُبُوْنَ اْلاَوَّلَ فَاْلاَوَّلَ، فَاِذَا جَلَسَ اْلامَامُ طَوَوُا الصُّحُفَ وَ جَاءُوْا يَسْتَمِعُوْنَ الذّكْرَ. وَ مَثَلُ اْلمُهَجّرِ كَمَثَلِ الَّذِيْ يُهْدِى اْلبَدَنَةَ ثُمَّ كَالَّذِى يُهْدِى بَقَرَةً ثُمَّ كَالَّذِى يُهْدِى اْلكَبْشَ ثُمَّ كَالَّذِى يُهْدِى الدَّجَاجَةَ ثُمَّ كَالَّذِى يُهْدِى اْلبَيْضَةَ. مسلم 2: 587
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila pada hari Jum’at, maka pada tiap pintu dari pintu-pintu masjid ada malaikat yang mencatat orang yang datang awwal, lalu yang datang berikutnya. Dan apabila imam sudah duduk, malaikat menutup buku catatan dan para malaikat datang untuk mendengarkan khutbah. Dan perumpamaan orang yang datang awwal, seperti orang yang berqurban seekor unta, kemudian seperti orang yang berqurban seekor lembu, kemudian seperti orang yang berqurban seekor kibasy, kemudian seperti orang yang berqurban seekor ayam, kemudian seperti orang yang berqurban sebutir telur”. [HR. Muslim juz 2, hal. 587]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: عَلَى كُلّ بَابٍ مِنْ اَبْوَابِ اْلمَسْجِدِ مَلَكٌ يَكْتُبُ اْلاَوَّلَ فَاْلاَوَّلَ. مَثَّلَ اْلجَزُوْرَ ثُمَّ نَزَّلَهُمْ حَتَّى صَغَّرَ اِلَى مَثَلِ اْلبَيْضَةِ. فَاِذَا جَلَسَ اْلاِمَامُ طُوِيَتِ الصُّحُفُ وَ حَضَرُوْا الذّكْرَ. مسلم 2: 587
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Pada setiap pintu masjid ada malaikat yang mencatat orang yang datang awwal, lalu yang datang berikutnya. Rasulullah SAW memberi gambaran orang yang datang awwal seperti berqurban seekor unta, kemudian mengecil hingga seperti orang yang berqurban sebutir telur. Maka apabila khathib sudah duduk, maka catatan itu ditutup, dan para malaikat datang untuk mendengarkan khutbah”. [HR. Muslim juz 2, hal. 587]


Tata Tertib Sholat Jumat

Waktu Shalat Jum’at

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يُصَلّى اْلجُمُعَةَ حِيْنَ تَمِيْلُ الشَّمْسُ. البخارى 1: 217
Dari Anas bin Malik RA, bahwasanya Nabi SAW shalat Jum’at ketika matahari sudah tergelincir. [HR. Bukhari juz 1, hal. 217]

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ كُنَّا نُصَلّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص ثُمَّ نَرْجِعُ فَنُرِيْحُ نَوَاضِحَنَا قَالَ حَسَنٌ فَقُلْتُ لِجَعْفَرٍ فِي أَيّ سَاعَةٍ تِلْكَ؟ قَالَ زَوَالَ الشَّمْسِ. مسلم 2: 588
Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata : Dahulu kami shalat bersama Rasulullah SAW, kemudian kami pulang, lalu mengistirahatkan unta-unta kami”. Hasan berkata, Aku bertanya kepada Ja’far, “Sa’at apa ketika itu?”. Ja’far menjawab, “Sa’at matahari tergelincir”. [HR. Muslim juz 2, hal. 588]

عَنْ اِيَاسِ بْنِ سَلَمَةَ بْنِ اْلاَكْوَعِ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ كُنَّا نُجَمّعُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص اِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ. مسلم 2: 589
Dari Iyas bin Salamah bin Akwa’, dari bapaknya, ia berkata, “Dahulu kami shalat Jum’at bersama Rasulullah SAW ketika matahari telah tergelincir, kemudian kami pulang dengan mengikuti bayang-bayang (tempat teduh)”. [HR. Muslim juz 3, hal. 589]

Adzan Pada Hari Jum’at

عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيْدَ قَالَ: كَانَ النّدَاءُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ اَوَّلُهُ اِذَا جَلَسَ اْلاِمَامُ عَلَى اْلمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيّ ص وَ اَبِى بَكْرٍ وَ عُمَرَ رض، فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رض وَ كَثُرَ النَّاسُ زَادَ النّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ. البخارى 1: 219
Dari Saib bin Yazid, ia berkata, “Dahulu Adzan hari Jum’at pada awwalnya yaitu pada masa Nabi SAW, Abu Bakar dan ‘Umar RA adalah apabila imam sudah di atas mimbar. Kemudian setelah pada masa ‘Utsman RA, dan orang-orang sudah bertambah banyak, ia menambah adzan yang ketiga di Zauraa’ “. [HR. Bukhari juz 1, hal. 219]

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ اَنَّ السَّائِبَ بْنَ يَزِيْدَ اَخْبَرَهُ اَنَّ التَّأْذِيْنَ الثَّانِيَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ اَمَرَ بِهِ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ رض حِيْنَ كَثُرَ اَهْلُ اْلمَسْجِدِ وَ كَانَ التَّأْذِيْنُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ حِيْنَ يَجْلِسُ اْلاِمَامُ. البخارى 1: 219
Dari Ibnu Syihab bahwasanya Saib bin Yazid menceritakan kepadanya, bahwasanya adzan yang kedua pada hari Jum’at yang ‘Utsman bin ‘Affan RA perintahkan adalah ketika orang-orang yang akan datang ke masjid bertambah banyak, dan dahulu adzan untuk hari Jum’at itu ketika imam sudah duduk (di atas mimbar). [HR. Bukhari juz 1, hal. 219]

عَنِ الزُّهْرِيّ قَالَ: سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيْدَ يَقُوْلُ اِنَّ اْلاَذَانَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ كَانَ اَوَّلُهُ حِيْنَ يَجْلِسُ اْلاِمَامُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ عَلَى اْلمِنْبَرِ فِى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ ص وَ اَبِى بَكْرٍ وَ عُمَرَ رض. فَلَمَّا كَانَ فِى خِلاَفَةِ عُثْمَانَ رض وَ كَثُرُوْا اَمَرَ عُثْمَانُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ بِاْلاَذَانِ الثَّالِثِ فَاُذّنَ بِهِ عَلَى الزَّوْرَاءِ فَثَبَتَ اْلاَمْرُ عَلَى ذلِكَ. البخارى 1: 219
Dari Zuhriy, ia berkata : Aku mendengar Saib bin Yazid berkata : Sesungguhnya adzan pada hari Jum’at pada awalnya adalah ketika imam sudah duduk di atas mimbar pada hari Jum’at, pada masa Rasulullah SAW, Abu bakar dan ‘Umar RA. Kemudian pada masa khalifah ‘Utsman (bin ‘Affan RA), dan ummat Islam sudah banyak, Khalifah ‘Utsman menyuruh pada hari Jum’at untuk adzan yang ketiga. Maka dilakukan adzan di zaura’. Lalu keadaan itu berlanjut seperti itu. [HR. Bukhari juz 1, hal. 219]

Keterangan :
  1. Yang dimaksud adzan ketiga adalah adzan yang dilakukan sebelum khathib berada di atas mimbar. Dikatakan adzan ketiga (seruan ketiga) karena sebelum masa khalifah ‘Utsman sudah ada dua seruan. Seruan pertama yaitu adzan ketika imam sudah duduk di mimbar. Seruan kedua yaitu iqamah ketika khathib sudah turun dari mimbar akan dilaksanakan shalat Jum’at.
  2. Zauraa’ adalah nama suatu tempat di pasar Madinah.

Larangan Menyuruh Orang Untuk Berdiri

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض يَقُوْلُ: نَهَى النَّبِيُّ ص اَنْ يُقِيْمَ الرَّجُلُ اَخَاهُ مِنْ مَقْعَدِهِ وَ يَجْلِسَ فِيْهِ. قُلْتُ لِنَافِعٍ: اْلجُمُعَةَ؟ قَالَ: اْلجُمُعَةَ وَ غَيْرَهَا. البخارى 1: 218
Dari Ibnu ‘Umar RA, ia berkata, “Nabi SAW melarang seseorang membangunkan saudaranya dari tempat duduknya, lalu ia duduk di situ”. Aku (Ibnu Juraij) bertanya kepada Nafi’, “Apakah diwaktu shalat Jum’at?”. Ia menjawab, “Jum’at dan yang lain”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 218]

Diam Ketika Imam Sedang Berkhutbah

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ اَخْبَرَنِى سَعِيْدُ بْنُ اْلمُسَيَّبِ اَنَّ اَبَا هُرَيْرَةَ اَخْبَرَهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ اَنْصِتْ وَ اْلاِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ. البخارى 1: 224
Dari Ibnu Syihab, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Sa’id bin Musayyab bahwasanya Abu Hurairah mengkhabarkan kepadanya bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu berkata kepada temanmu, “Diam”, ketika imam berkhutbah, maka sungguh kamu telah berbuat sia-sia”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 224]

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ اْلمُسَيَّبِ اَنَّ اَبَا هُرَيْرَةَ اَخْبَرَهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ اَنْصِتْ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَ اْلاِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ. مسلم 2: 583
Dari Sa’id bin Musayyab bahwasanya Abu Hurairah mengkhabarkan kepadanya bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu berkata kepada temanmu “Diam”, pada hari Jum’at ketika imam sedang berkhutbah, maka sungguh kamu telah berbuat sia-sia”. [HR. Muslim juz 2, hal. 583]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ اَتَى اْلجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدّرَ لَهُ ثُمَّ اَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلّى مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَ بَيْنَ اْلجُمُعَةِ اْلاُخْرَى وَ فَضْلُ ثَلاَثَةِ اَيَّامٍ. مسلم 2: 587
Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW beliau bersabda, “Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at, lalu berangkat ke shalat Jum’at, lalu ia shalat (sunnah) semampunya, kemudian diam hingga khutbah selesai, kemudian dia ikut shalat bersama imam, maka diampuni baginya apa yang terjadi antara Jum’at itu dengan Jum’at berikutnya, dan ditambah tiga hari”. [HR.Muslim juz 2, hal. 587]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ تَوَضَّأَ فَاَحْسَنَ اْلوُضُوْءَ ثُمَّ اَتَى اْلجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَ اَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَ بَيْنَ اْلجُمُعَةِ وَ زِيَادَةُ ثَلاَثَةِ اَيَّامٍ. وَ مَنْ مَسَّ اْلحَصَى فَقَدْ لَغَا. مسلم 2: 588
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berwudlu dengan memperbagus wudlunya, kemudian datang ke shalat Jum’at, lalu ia mendengarkan dan diam, maka diampuni baginya apa yang terjadi antara Jum’at itu dengan Jum’at berikutnya, dan ditambah tiga hari. Dan barangsiapa yang bermain-main dengan kerikil, sungguh dia telah berbuat sia-sia”. [HR. Muslim juz 2, hal. 588]

Khutbah Dengan Berdiri

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص يَخْطُبُ قَائِمًا ثُمَّ يَقْعُدُ ثُمَّ يَقُوْمُ كَمَا تَفْعَلُوْنَ اْلآنَ. البخارى 1: 221
Dari Ibnu ‘Umar RA, ia berkata, “Adalah Nabi SAW berkhutbah dengan berdiri, kemudian duduk, kemudian berdiri (lagi) sebagaimana yang kalian lakukan sekarang ini”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 221]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص يَخْطُبُ خُطْبَتَيْنِ يَقْعُدُ بَيْنَهُمَا. البخارى 1: 223
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Adalah Nabi SAW berkhutbah dua kali, dan beliau duduk diantara kedua khutbah tersebut”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 223]

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: كَانَتْ لِلنَّبِيّ ص خُطْبَتَانِ يَجْلِسُ بَيْنَهُمَا يَقْرَاُ اْلقُرْانَ وَ يُذَكّرُ النَّاسَ. مسلم 2: 589
Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata, “Adalah Nabi SAW melakukan dua khutbah, beliau duduk antara keduanya, beliau membaca Al-Qur’an dan mengingatkan manusia”. [HR. Muslim juz 2, hal. 589]

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا، ثُمَّ يَجْلِسُ، ثُمَّ يَقُوْمُ فَيَخْطُبُ قَائِمًا فَمَنْ نَبَّأَكَ اَنَّهُ كَانَ يَخْطُبُ جَالِسًا فَقَدْ كَذَبَ. فَقَدْ وَ اللهِ صَلَّيْتُ مَعَهُ اَكْثَرَ مِنْ اَلْفَيْ صَلاَةٍ. مسلم 2: 589
Dari Jabir bin Samurah bahwasanya Rasulullah SAW berkhutbah dengan berdiri, kemudian duduk, kemudian berdiri, lalu berkhutbah dengan berdiri. Barangsiapa memberitahukan kepadamu bahwa beliau berkhutbah dengan duduk, maka ia benar-benar berdusta. Demi Allah, aku telah shalat bersama beliau lebih dari dua ribu kali. [HR. Muslim juz 2, hal. 589]

Makmum Meninggalkan Khathib

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلّى مَعَ النَّبِيّ ص اِذْ اَقْبَلَتْ عِيْرٌ تَحْمِلُ طَعَامًا فَالْتَفَتُوْا اِلَيْهَا حَتَّى مَا بَقِيَ مَعَ النَّبِيّ ص اِلاَّ اثْنَا عَشَرَ رَجُلاً فَنَزَلَتْ هذِهِ اْلآيَةُ (وَ اِذَا رَاَوْا تِجَارَةً اَوْ لَهْوًا انْفَضُّوْآ اِلَيْهَا وَ تَرَكُوْكَ قَائِمًا). البخارى 1: 225
Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata : Ketika kami shalat bersama Nabi SAW, tiba-tiba datanglah kafilah yang membawa (bahan) makanan, lalu orang-orang menuju kepadanya, sehingga tidak tinggal bersama Nabi SAW kecuali dua belas orang laki-laki. Kemudian turunlah ayat (yang artinya) : Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya. Dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). [HR. Bukhari juz 1, hal. 225]

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا يَوْمَ اْلجُمُعَةِ، فَجَاءَتْ عِيْرٌ مِنَ الشَّامِ فَانْفَتَلَ النَّاسُ اِلَيْهَا حَتَّى لَمْ يَبْقَ اِلاّ اثْنَا عَشَرَ رَجُلاً. فَاُنْزِلَتْ هذِهِ اْلآيَةُ الَّتِى فِي اْلجُمُعَةِ (وَ اِذَا رَاَوْا تِجَارَةً اَوْ لَهْوًا انْفَضُّوْآ اِلَيْهَا وَ تَرَكُوْكَ قَائِمًا). مسلم 2: 590
Dari Jabir bin ‘Abdullah bahwasanya Nabi SAW ketika berdiri berkhutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba datang kafilah dari Syam, maka orang-orang menuju kepadanya, sehingga tidak tinggal (bersama Nabi) kecuali dua belas orang laki-laki. Kemudian diturunkanlah ayat yang ada dalam surat Jum’at (yang artinya) Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya. Dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). [HR. Muslim juz 2, hal. 590]

Khutbah dan shalat Jum’at

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: كُنْتُ اُصَلّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص فَكَانَتْ صَلاَتُهُ قَصْدًا وَ خُطْبَتُهُ قَصْدًا. مسلم 2: 591
Dari Jabir bin Samurah, ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Rasulullah SAW, adalah shalat beliau sedang-sedang saja, dan khuthbah beliau sedang-sedang saja”. [HR. Muslim juz 2, hal. 591]

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَ عَلاَ صَوْتُهُ وَ اشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَاَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُوْلُ صَبَّحَكُمْ وَ مَسَّاكُمْ، وَ يَقُوْلُ بُعِثْتُ اَنَا وَ السَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَ يَقْرُنُ بَيْنَ اِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَ اْلوُسْطَى وَ يَقُوْلُ: اَمَّا بَعْدُ، فَاِنَّ خَيْرَ اْلحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَ خَيْرُ اْلهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَ شَرُّ اْلاُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا. وَ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. ثُمَّ يَقُوْلُ اَنَا اَوْلَى بِكُلّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ. مَنْ تَرَكَ مَالاً فَـِلاَهْلِهِ، وَ مَنْ تَرَكَ دَيْنًا اَوْ ضَيَاعًا فَاِلَيَّ وَ عَلَيَّ. مسلم 2: 592
Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW ketika berkhutbah, memerah kedua mata beliau, tinggi suaranya, dan sangat marah, sehingga seolah-olah beliau komandan pasukan yang mengomando, “Musuh akan menyerang kalian pada waktu pagi dan petang”. Dan beliau bersabda, “Aku diutus antaraku dan hari qiyamat seperti dua jari ini”. Beliau mengisyaratkan dengan jari tengah dan jari telunjuk, dan beliau bersabda, “Adapun sesudah itu, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah itu adalah sesat”. Kemudian beliau bersabda, “Aku lebih berhaq terhadap orang mukmin daripada dirinya. Barangsiapa yang meninggalkan harta, maka itu untuk keluarganya. Dan barangsiapa meninggalkan hutang atau keluarga yang terlantar, maka akulah yang menanggung”. [HR.Muslim juz 2, hal. 592]

Bacaan Surat Pada Shalat Jum’at

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَقْرَأُ فِى اْلعِيْدَيْنِ وَ فِى اْلجُمُعَةِ بِسَبّحِ اسْمَ رَبّكَ اْلاَعْلى وَ هَلْ اَتَاكَ حَدِيْثُ اْلغَاشِيَةِ. قَالَ: وَ اِذَا اجْتَمَعَ اْلعِيْدُ وَ اْلجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا اَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ. مسلم 2: 598
Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata : Dahulu Rasulullah SAW pernah membaca pada dua shalat, yaitu shalat ‘ied dan shalat Jum’at : Sabbihisma rabbikal a’laa dan Hal ataaka hadiitsul ghoosyiyah. Dan apabila berkumpul hari Jum’at dengan hari raya dalam satu hari, beliau membaca kedua surat itu juga dalam kedua shalat itu”. [HR. Muslim juz 2, hal. 598]

عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: كَتَبَ الضَّحَّاكُ بْنُ قَيْسٍ اِلَى النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ يَسْأَلُهُ اَيَّ شَيْءٍ قَرَاَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَوْمَ اْلجُمُعَةِ سِوَى سُوْرَةِ اْلجُمُعَةِ. فَقَالَ: كَانَ يَقْرَأُ هَلْ اَتَاكَ. مسلم 2: 598
Dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah, ia berkata : Adl-Dlahhaak bin Qais pernah mengirim surat kepada Nu’man bin Basyir menanyakan sesuatu yang Rasulullah SAW baca pada hari Jum’at selain surat Jum’ah. Maka ia menjawab, “Dahulu beliau membaca Hal ataaka”. [HR. Muslim juz 2, hal. 598]

عَنِ ابْنِ اَبِى رَافِعٍ قَالَ: اسْتَخْلَفَ مَرْوَانُ اَبَا هُرَيْرَةَ عَلَى اْلمَدِيْنَةِ وَ خَرَجَ اِلَى مَكَّةَ فَصَلَّى لَنَا اَبُوْ هُرَيْرَةَ اْلجُمُعَةَ فَقَرَأَ بَعْدَ سُوْرَةِ اْلجُمُعَةِ فِى الرَّكْعَةِ اْلاخِرَةِ: اِذَا جَآءَكَ اْلمُنفِقُوْنَ. قَالَ: فَاَدْرَكْتُ اَبَا هُرَيْرَةَ حِيْنَ انْصَرَفَ فَقُلْتُ لَهُ: اِنَّكَ قَرَأْتَ بِسُوْرَتَيْنِ كَانَ عَلِيُّ بْنُ اَبِى طَالِبٍ يَقْرَأُ بِهِمَا بِاْلكُوْفَةِ. فَقَالَ اَبُوْ هُرَيْرَةَ: اِنّى سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقْرَأُ بِهِمَا يَوْمَ اْلجُمُعَةِ. مسلم 2: 597
Dari Ibnu Abi Rafi’ ia berkata : Marwan mengangkat Abu Hurairah untuk menjadi wali di Madinah. Dan ketika Marwan ke Makkah, lalu Abu Hurairah shalat Jum’at mengimami kami, kemudian pada rekaat pertama ia membaca surat Al-Jum’ah, dan pada rekaat kedua membaca surat Idzaa jaa-akal munaafiquun. Ibnu Abi Rafi’ berkata : Setelah selesai, aku menemui Abu Hurairah, lalu aku berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu tadi membaca dua surat yang sama seperti dahulu ‘Ali bin Abu Thalib membacanya di Kufah”. Maka Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW membaca keduanya pada hari Jum’at”. [HR. Muslim juz 2, hal. 597]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص يَقْرَأُ فِى اْلجُمُعَةِ فِى صَلاَةِ اْلفَجْرِ الم تَنْزِيْلُ السَّجْدَةَ وَ هَلْ اَتَى عَلَى اْلاِنْسَانِ، حِيْنٌ مِنَ الدَّهْرِ. البخارى 1: 214
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Adalah Nabi SAW membaca Alif laam miim, tanziil (As-sajdah), dan Hal ataa ‘alal insaani hiinun minad dahri (Al-Insaan) pada shalat Shubuh di hari Jum’at”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 214]

Mengangkat Dua Tangan Ketika Berdoa Mohon Hujan

عَنْ اَنَسٍ قَالَ: بَيْنَمَا النَّبِيُّ ص يَخْطُبُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ اِذْ قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلَكَ اْلكُرَاعُ وَ هَلَكَ الشَّاءُ فَادْعُ اللهَ اَنْ يَسْقِيَنَا. فَمَدَّ يَدَيْهِ وَ دَعَا. البخارى 1: 223
Dari Anas, ia berkata : Dahulu Nabi SAW ketika berkhutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, kuda banyak yang binasa, kambing-kambing juga telah binasa. Maka berdoalah kepada Allah agar memberikan hujan kepada kami”. Maka beliau lalu mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa. [HR. Bukhari juz 1, hal. 223]

Berdoa Dengan Berisyarat Jari Telunjuk

عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ قَالَ رَاَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى اْلمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ فَقَالَ: قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ اْليَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص مَا يَزِيْدُ عَلَى اَنْ يَقُوْلَ بِيَدِهِ هكَذَا، وَ اَشَارَ بِاِصْبَعِهِ اْلمُسَبّحَةِ. مسلم 2: 595
Dari ‘Umarah bin Ruaibah ia mengatakan bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua tangannya (dalam berdoa), kemudian ‘Umarah berkata, “Semoga Allah memburukkan kedua tanganmu itu. Sungguh aku melihat Rasulullah SAW tidak lebih dari melakukan dengan tangannya begini”, ia mengisyaratkan dengan jari telunjuknya. [HR. Musim juz 2, hal. 595]

Shalat sunnah sesudah Jum’at

عَنْ اَبِىْ هُرَ يْرَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمُ اْلجُمُعَةَ فَلْيُصَلّ بَعْدَهَا اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ. الجماعة الا البخارى
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi SAW pernah bersabda : "Apabila seseorang diantara kalian shalat Jum'ah, maka hendaklah shalat sesudahnya 4 raka'at". [HR Jama'ah, kecuali Bukhari].

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يُصَلّى بَعْدَ اْلجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ فِى بَيْتِهِ. الجماعة
Dari Ibnu 'Umar RA, bahwasanya Nabi SAW biasa shalat sesudah Jum'ah 2 raka'at di rumahnya. [HR. Jama'ah].

Keterangan :
Shalat sunnah sesudah Jum'ah, Nabi SAW mengerjakannya 2 raka'at di rumahnya. Sedang menurut hadits yang pertama shalat ba'diyah Jum'ah itu 4 raka'at, maka ini bisa diambil pengertian bahwa yang 4 raka'at itu dikerjakan di masjid.

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

No comments :

Post a Comment

1. Silahkan meninggalkan komentar anda dengan bahasa yang baik dan sopan.
2. Dilarang komentar SPAM, Iklan atau dengan Menyisipkan URL/ Link atau Anchor teks di dalam pesan / komentar, bila ada akan dihapus tanpa pemberitahuan.
3. Terimakasih atas kunjungan anda, semoga bermanfaat