Menjemput Ajal

Kultum Ramadhan ke 11 Edisi Tayang Ulang

Kultum Ramadhan hari ke 11 menjemput ajal
Menjemput Ajal
Materi Kultum tentang "Selamat Datang Kematian" yang kami kirim kemaren,  berbalas kiriman mas Awod,  tokoh muda pejuang syariah. Beliau mengingatkan bahwa saya pernah menulis materi mirip dalam kultum Ramadhan 1 tahun yang lalu, Beliau kirim kembali artikel itu tanpa ada yang berubah.
Ini membuat keyakinan saya bertambah tentang kematian harus selalu diingat untuk meningkatkan karya, produktivitas dan kemuliaan hidup. Monggo, disimak kembali edisi tayang ulang. (Pak Iqbal)

AJAL
Tausiah tanpa Kata

Setiap Jum'at ke 3 malam, kami ada Kajian rutin TAAT yang sudah berlangsung belasan tahun. Anggotanya tidak bertambah tapi terus berkurang karena 'ajal'. Maklum inilah reuni ketaatan anggota keluarga besar PII di masa Gestapu, tahun 1965an. Usia anggota pengajian rata-rata diatas jatah usia Nabi yang 63 tahun.

Saya tidak tahu kenapa bergabung dengan kajian ini, tapi pertemuan dengan para sesepuh bisa banyak belajar tentang perjalanan hidup. 

"Orang beriman hendaknya senantiasa ingat akan keberadaan "Keranda Airlines". Sebuah maskapai penerbangan yang punya slogan 'on time', 'no delay' dan 'no cancel'. Tiket tak perlu bayar alias gratis, dijemput dan diiringi petugas 'malaikat maut'.

Penjemputan tanpa pemberitahuan melalui bandara kematian. Dari bandara terbang ke alam Akhirat, fasilitas disediakan sesuai amal yang dibawa. Hanya melayani dua tujuan penerbangan yaitu Surga atau Neraka."

Demikianlah penuturan Pak Alwan, anggota TAAT yang sempat mendapat 'nikmat' sakit cukup lama dan sekarang kembali bergabung dalam kebahagiaan dan ketaatan.

Kematian bukanlah akhir dari perjalanan hidup seseorang. Hukum kehancuran hanya berlaku pada wujud yang berstruktur materi. Ruh bukanlah materi, maka dia terkena hukum kehancuran.

Mati adalah awal dari hidup baru di alam yang baru. Dunia, dalam bahasa yang dekat, sebentar, sekarang dan disini; sedangkan Akhirat artinya kehidupan kelak setelah hidup di dunia.

Surga dan neraka sesungguhnya tidak lebih keputusan karma atas sebab akibat. Bila kita beriman pada Allah SWT dilanjutkan berbuat baik terhadap sesama hakekatnya dia berbuat baik serta menolong dirinya sendiri. Surga Balasannya.

Namun bila kita "kafir", dari bahasa Arab semakna dengan kata 'cover' dalam bahasa Inggris. Yaitu menutupi cahaya kasih dan petunjukNYA maka dia akan berjalan dalam kegelapan. Neraka tempatnya.

Ada pelajaran dari anak perempuan 10 tahun menjemput mati, Asa Putri Utami binti Joko Syahban. Mengindap 'lupus', penyakit mematikan. Anak periang yang bercita-cita jadi dokter dan penghafal Qur'an. "Ma, aku benar-benar ingin sembuh, ingin sekolah, menghafal Al-Quran. Aku berdoa terus," tutur sang Putri pada Mamanya.

Walau dalam penderitaan sang Putri sangat peduli dengan sesama. Putri pernah temui teman sekamar di rumah sakit yang merintih kesakitan. Dia tanyakan, namanya. Dia sampaikan pada Mamanya," Kasihan sekali dia, ma. Aku beri hadiah Al Fatihah...!

Setelah berjuang melawan penyakit, sang Putri kelahiran Solo ini akhirnya menghembuskan nafas yang terakhir dengan senyum menyiratkan kemuliaan kehidupannya. 

Sang Putri tidak mati, dia hanya tidur. Kedua bibirnya menyunggingkan senyum meski kedua mata terpejam. Demikian pengakuan para pelayat.

Ajal adalah tersibaknya tirai penutup yang menghalangi manusia melihat keindahan hakiki tentang alam sesudah mati. Tidak ada peristiwa yang ditunggu kecuali kematian.

Merenung tentang kematian tidak berarti harus pasif, sebaliknya justru lebih serius dalam amal mengingat fasilitas umur yang pendek, ibarat lomba lari harus berpacu karena garis dunia semakin dekat.

Allahu a'lamu bishowab.

Comments

Popular posts from this blog

Hadits Tentang Larangan Berbuat Zina

Hadits Tentang Shalat (Kewajiban Shalat)

Hadits Tentang Shalat Sunah