Bermula Dari Kata

Friday, June 01, 2018

Bermula Dari Kata

Kultum Ramadhan hari ke 16

Kultum Ramadhan bermula dari kata
Bermula dari kata
Karena kata, fitnah besar bisa terjadi. Rumah tangga Nabi pernah terguncang dengan peristiwa "hadits al-ifk", berita bohong. Awalnya dari dugaan, menjadi perkataan yang seolah tak terbantah.
Allah sendiri yang meluruskan kedustaan manusia tentang istri Nabi, bunda Aisyah.
(lihat QS an Nur: 11-12)

Ada buku 'How to Lie with Statistic', dituturkan oleh Dariel Huff bahwa data statistik pun tidak bisa ditelan mentah-mentah. Awalnya ingin menyampaikan kebaikan, justru menghasilkan keburukan. Berusaha mengingatkan untuk hati-hati, justru menimbulkan kecurigaan atas mereka yang harusnya memperoleh penghargaan. 

Pesan Nabi, "Sesungguhnya diantara bayan adalah sihir (HR Bukhari)". Bayan adalah kemampuan komunikasi, atau rangkaian kata untuk menyampaikan maksud. 

Uraian kata indah bisa membuat orang yang dikuasai amarah bisa mereda. Namun muntahan kata yang membakar jiwa seringkali menjadi kobaran api yang sulit dipadamkan. 

Dalam Agama kata "Ikhlas" pada pengertian yang benar akan mengajarkan tentang bagaimana mendapatkan kebahagiaan sejati untuk amal yang dikerjakan. Tapi disisi berbeda kata "Ikhlas" bisa berubah menjadi penindasan bagi masyarakat yang diperlakukan penuh kedzaliman oleh para penguasa. 

Ikhlas tetaplah ikhlas. Ikhlas adalah kekuatan yang besar dan mampu membuat manusia rela berkorban, meski menjadi sakit dan bahkan nyawa melayang. 

Mengajak Ikhlas untuk melegalkan pemerasan akan membuat orang sakit hatinya, meradang jiwanya. Bukankah setiap tanaman memiliki tempatnya sendiri untuk tumbuh yang terbaik. 

Berbahasalah dengan jiwa, tak mudah memang. Seringkali kita larut gejolak emosi. Maka harus terus belajar sesuai dengan orang yang kita hadapi, waktu pembicaan dan sifat pembicaraan yang hendak disampaikan. 

Kemerdekaan berkata-kata seringkali memunculkan intoleransi. Fokusnya pada apakah kita menguasai hawa nafsu atau hawa nafsu yang mengendalikan kita. Tak bisa dipungkiri banyak dari kita yang masih bermental "apa kata orang". Akhirnya yang melekat pada dirinya tidak pernah "ikhlas", murni karena dibungkus pencitraan. 

Fenomena masyarakat masa now melahirkan generasi selfie. Suka update status bahagia walaupun kondisi sebenarnya tak seindah yang diposting... 

Semoga Allah SWT menolong kita agar tetap kokoh dalam keimanan, keikhlasan dan dijauhkan dari kemunafikan, kekejian dan kedustaan.. 

Allahu a'lamu bishowab. 

16 Ramadhan 1439

No comments :

Post a Comment

1. Silahkan meninggalkan komentar anda dengan bahasa yang baik dan sopan.
2. Dilarang komentar SPAM, Iklan atau dengan Menyisipkan URL/ Link atau Anchor teks di dalam pesan / komentar, bila ada akan dihapus tanpa pemberitahuan.
3. Terimakasih atas kunjungan anda, semoga bermanfaat