Kewajiban Menjaga Aurat

Friday, August 23, 2013

Kewajiban Menjaga Aurat

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Suri Tauladan Rasulullah SAW Yang Baik

Aurat Wanita Dan Aurat Laki-laki

Aurat Wanita Di Dalam Rumah

وَ قُلْ لّلْمُؤْمِنتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَ يَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَ لاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ لْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلى جُيُوْبِهِنَّ وَ لاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّ لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ ابآئِهِنَّ اَوْ ابآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَآئِهِنَّ اَوْ اَبْنَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِى اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِى اَخَوَاتِهِنَّ اَوْ نِسآئِهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى اْلاِرْبَةِ مِنَ الرّجَالِ اَوِ الطّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلى عَوْرتِ النّسَآءِ، وَ لاَ يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ، وَ تُوْبُوْا اِلَى اللهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. النور:31 
Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [QS. An-Nuur : 31]

Hadits Nabi Saw :
 
عَنْ اَنَسٍ: اَنَّ النَّبِيَّ ص اَتَى فَاطِمَةَ بِعَبْدٍ قَدْ وَهَبَهُ لَهَا. قَالَ وَ عَلَى فَاطِمَةَ رض ثَوْبٌ اِذَا قَنَّعَتْ بِهِ رَأْسَهَا لَمْ يَبْلُغْ رِجْلَيْهَا وَ اِذَا غَطَّتْ بِهِ رِجْلَيْهَا لَمْ يَبْلُغْ رَأْسَهَا. فَلَمَّا رَأَى النَّبِيُّ ص مَا تَلْقَى قَالَ: اِنَّهُ لَيْسَ عَلَيْكِ بَأْسٌ اِنَّمَا هُوَ اَبُوْكِ وَ غُلاَمُكِ. ابو داود 4: 62، 4106
Dari Anas bahwasanya Nabi SAW pernah memberi kepada Fatimah seorang hamba laki-laki, sedang Fatimah berpakaian yang apabila ia tutup kepalanya, terbuka kakinya, dan apabila ia tutup kakinya terbuka kepalanya. Tatkala melihat keadaan itu, Nabi SAW bersabda, “Tidak mengapa bagimu, karena dia itu seperti bapakmu atau anak laki-lakimu”. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 62, no. 4106]

Aurat Wanita Di Dalam Shalat

عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ قَالَ: لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ حَائِضٍ اِلاَّ بِخِمَارٍ. ابو داود 1: 173، رقم: 641
Dari ‘Aisyah dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Allah tidak akan menerima shalat wanita yang sudah haid melainkan dengan kudung kepala”. [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 173, no. 641]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ اَبِى قَتَادَةَ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنِ امْرَأَةٍ صَلاَةً حَتَّى تُوَارِيَ زِيْنَتَهَا وَ لاَ مِنْ جَارِيَةٍ بَلَغَتِ اْلحَيْضَ حَتَّى تَخْتَمِرَ. الطبرانى الاوسط 8: 294، رقم: 7602
Dari ‘Abdullah bin Abu Qatadah, dari ayahnya, ia berkata Rasulullah SAW bersabda, “Allah tidak akan menerima shalat dari seorang wanita hingga ia menutup perhiasannya, dan tidak (diterima shalat) dari seorang wanita yang sudah baligh hingga ia berkerudung. [HR. Ath-Thabrani, dalam Al-Ausath juz 8, hal. 294, no. 7602]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ نِسَاءَ النَّبِيّ ص سَأَلْنَهُ عَنِ الذَّيْلِ فَقَالَ: اِجْعَلْنَهُ شِبْرًا. فَقُلْنَ: اِنَّ شِبْرًا لاَ يَسْتُرُ مِنْ عَوْرَةٍ. فَقَالَ: اِجْعَلْنَهُ ذِرَاعًا. احمد 2: 299، رقم: 5641
Dari Ibnu ‘Umar, bahwasanya istri-istri Nabi SAW bertanya kepada beliau tentang pinggir kain, maka Rasulullah menjawab, “Panjangkanlah sejengkal”. Mereka berkata, “Sejengkal tidak dapat menutup aurat”. Maka sabda beliau, “Jadikanlah sehasta”. [HR. Ahmad juz 2, hal. 399, no. 5641]

عَنْ اُمّ سَلَمَةَ اَنَّهَا سَأَلَتِ النَّبِيَّ ص: اَ تُصَلّى اْلمَرْأَةُ فِى دِرْعٍ وَ خِمَارٍ وَ لَيْسَ عَلَيْهَا اِزَارٌ؟ قَالَ: اِذَا كَانَتِ الدّرْعُ سَابِغًا يُغَطّى ظُهُوْرَ قَدَمَيْهَا. ابو داود 1: 173، رقم: 640
Dari Ummu Salamah bahwasanya ia bertanya kepada Nabi SAW, “Bolehkah wanita shalat dengan memakai baju panjang dan kerudung, tetapi tidak memakai izar (kain bawahan)?” Jawab beliau, “Boleh, kalau baju itu panjang hingga menutup bagian luar kedua tapak kakinya”. [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 173, no. 640]

Aurat Wanita Di Luar Rumah

ياَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ ِلاَزْوَاجِكَ وَ بَنَاتِكَ وَ نِسَآءِ اْلمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلبِيْبِهِنَّ، ذلِكَ اَدْنى اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ، وَ كَانَ اللهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا. الاحزاب:59
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu”. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Ahzab : 59]

عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ اَسْمَاءَ بِنْتَ اَبِى بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ ص وَ عَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَاَعْرَضَ عَنْهَا رَسُوْلُ اللهِ ص وَ قَالَ: يَا اَسْمَاءُ اِنَّ اْلمَرْأَةَ اِذَا بَلَغَتِ اْلمَحِيْضَ لَمْ يَصْلُحْ اَنْ يُرَى مِنْهَا اِلاَّ هذَا وَ هذَا. وَ اَشَارَ اِلَى وَجْهِهِ وَ كَفَّيْهِ. ابو داود و قال: هذا مرسل خالد ابن دريك لم يدرك عائشة. 4: 62، رقم:
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Sesungguhnya Asma’ binti Abu Bakar datang menghadap Rasulullah SAW dengan berpakaian tipis, maka Rasulullah SAW berpaling dan bersabda, “Hai Asma’! Sesungguhnya seorang wanita apabila sudah haid, tidak boleh terlihat padanya melainkan ini dan ini”, beliau sambil mengisyaratkan pada muka dan dua tapak tangan beliau. [HR. Abu Dawud, dan ia berkata : Hadits ini mursal, karena Khalid bin Duraik tidak bertemu ‘Aisyah, juz 4, hal. 62, no. 4104].

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: صِنْفَانِ مِنْ اَهْلِ النَّارِ لَمْ اَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَاَذْنَابِ اْلبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ. وَ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ اْلبُخْتِ اْلمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ اْلجَنَّةَ وَ لاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَ اِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَ كَذَا. مسلم 4: 2192
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua golongan orang ahli neraka yang aku belum pernah melihatnya, yaitu kaum (orang-orang) yang memegang cambuk bagaikan ekor sapi yang digunakan untuk memukul orang lain dan orang perempuan yang berpakaian tetapi seperti telanjang, berlenggak-lenggok kepalanya bagaikan punuk unta yang miring. Maka mereka itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga itu sudah tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian (jarak yang sangat jauh)”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2192]

Tentang Aurat Laki-laki

Aurat laki-laki dalam shalat adalah antara pusar dan lutut berdasarkan sabda Nabi kepada Jabir bin ‘Abdullah sebagai berikut :

فَاِنْ كَانَ وَاسِعًا فَالْتَحِفْ بِهِ وَاِنْ كَانَ ضَيّقًا فَاتَّزِرْ بِهِ. البخارى 95:1
Jika kain itu longgar, maka berselimutlah dengannya. Tetapi jika sempit, maka pakailah untuk izar (kain bawahan yang menutup antara pusar dan bawah lutut). [HR. Bukhari juz 1, hal. 95]

Adapun tentang aurat laki-laki di luar shalat, dalam hal ini ada 2 pendapat :

1. Pendapat pertama : antara pusar sampai lutut, berdasar hadits :

مَا بَيْنَ السُّرَّةِ اِلَى الرُّكْبَةِ عَوْرَةٌ. الطبرانى فى الاوسط 8: 372، رقم: 7757
Apa-apa yang antara pusar sampai lutut adalah aurat. [HR. Thabrani dalam Al-Ausath juz 8, hal. 372, no. 7757, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Ashram bin Hausyab]

2. Pendapat kedua : paha tidak termasuk aurat, berdasarkan hadits :

قَالَ اَنَسٌ اِنَّ النَّبِيَّ ص يَوْمَ خَيْبَرَ حَسَرَ اْلاِزَارَ عَنْ فَخِذِهِ حَتَّى اِنّى اَنْظُرُ اِلَى بَيَاضِ فَخِذِ نبي الله ص. البخارى 1: 98
Anas berkata, “Sesungguhnya di hari peperangan Khaibar, Nabi SAW mengangkat kainnya hingga saya dapat melihat paha Nabi Allah SAW yang putih”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 98]

Walloohu a’lam.

Baca juga ini tentang  Larangan Memandang Bersentuhan Lawan Jenis

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

1 comment :

1. Silahkan meninggalkan komentar anda dengan bahasa yang baik dan sopan.
2. Dilarang komentar SPAM, Iklan atau dengan Menyisipkan URL/ Link atau Anchor teks di dalam pesan / komentar, bila ada akan dihapus tanpa pemberitahuan.
3. Terimakasih atas kunjungan anda, semoga bermanfaat